Mendeteksi Keberadaan Neraka

0
495

Bagi kita orang Katolik, ketika kita berbicara mengenai surga, sebetulnya kita tidak perlu bingung seperti orang yang tidak mengenal Allah [Bdk. Mat. 6:7]. Yesus pernah bilang, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” [Yoh. 14:2-3].

Yesus sendiri juga sudah mengatakan dengan jelas: “Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” [Yoh 14:6]. Jalan kepada Bapa melalui Yesus. Yesus sudah ‘meninggalkan dunia dan pergi kepada Bapa’ [Yoh 16:28]. Ia berjanji bahwa ‘akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada’ [Yoh 14:3].

Yesus masuk ke tempat Bapa dengan kebangkitan-Nya. Maka bagi kita pun surga itu tidak lain dari ikut dibangkitkan bersama dengan Kristus. Tetapi sebagaimana Kristus bangkit dari maut, begitu juga bagi kita jalan menuju ke surga adalah melalui maut. Jika kita ingin masuk surga, kita harus mati terlebih dahulu. Kebangkitan berarti bahwa sesudah hidup ini kita menerima kebahagiaan dari Allah.

Masuk surga berarti mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Kristus. Paulus bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” [1Kor 15:35]. Lalu dijawab: “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah” [1Kor 15:42- 44]. Bagaimana semua itu akan terjadi, Paulus juga tidak tahu. Sebab “apa yang tidak pernah dilihat mata, dan tidak pernah didengar telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati orang: semua itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya” [1Kor 2:9].

Kalau demikian, ‘NERAKAharus dimengerti sebagai lawan dari ‘surga’. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, maka neraka berarti keterpisahan dari Allah. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka bukan siksaan, sebab setiap orang mendambakan kesatuan dengan Allah. Tanpa Allah, orang tidak dapat hidup bahagia.

Di dunia ini, mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya sendiri dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah adalah maut. Oleh karena itu, Yohanes menyebut neraka sebagai ‘kematian kedua’ [Why 2:11; 20:6.14; 21:8].

Tidak dapat dibayangkan, apa arti dari ungkapan ‘mati terus-menerus.’ Itu memang bahasa kiasan juga. Tetapi, kalau Tuhan ‘memberikan hidup dan nafas kepada semua orang’ [Kis 17:25; bdk. Ayb 12:10; Yes 42:5], maka jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut. Tidak dapat dibayangkan; namun itulah kata yang tepat untuk neraka.

Banyak orang bertanya, “Bagaimana mungkin Allah yang Mahabaik dan Maharahim menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka?” Bagaimanapun bentuknya, neraka tampaknya tidak cocok dengan Allah sendiri dan karya keselamatan-Nya.

Jawaban yang perlu kita berikan kepada mereka cukup singkat saja. Bahwasanya memang kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak keselamatan yang ditawarkan oleh Allah. Ketegaran hati semacam itu membawa orang itu pada kemusnahan abadi, yaitu neraka.

Lalu, bagaimana dengan wafat dan kebangkitan Kristus? Memang, wafat dan kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas dosa dan maut. Tetapi itu tidak berarti bahwa neraka tidak ada. Neraka berarti penolakan total terhadap Allah.

Orang Yahudi pernah bertanya kepada Yesus: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak memberi jawaban; Ia hanya berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” [Luk 13:23- 24]. Neraka tidak mustahil. Seseorang dapat saja dimasukkan ke sana jika ia menutup diri terhadap rahmat dan belas kasihan Tuhan. Kapan terjadinya penghakiman seperti itu, tidak ada orang yang mengetahuinya.

Diolah dari: Katolisitas.org

avatar
Bagi siapa saja yang tertarik untuk menjadi penulis di portal ini, silahkan menghubungi kami di alamat email yang sudah tertera. Kiranya portal ini mampu menjala setiap hati serta mampu membawa kabar baik untuk semua orang.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here