Lucifer, Siapakah Dia? Benarkah Disebut Dalam Nyanyian Malam Paskah?

0
2687

Kesalah pahaman terhadap iman Katolik sangat sering terjadi.  Apalagi memakai bahasa-bahasa yang asing bagi awam dan orang-orang non-Katolik, misalnya kata Lucifer. Meskipun beberapa web Katolik menjelaskan arti dari kata Lucifer yang dipakai  pada nyanyian malam paskah di Vatikan. Tidak sedikit non-Katolik menuduh bahwa orang-orang Katolik menyembah Lucifer atau Iblis dalam Yes 14:12.

Tidak sedikit umat awam yang bingung ketika ditanya atau bahkan percaya pada tuduhan tersebut. Namun tuduhan semacam itu sangat gegabah dan dangkal. Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis menjelaskan secara sederhana supaya mudah dipahami.  Pertama-tama kita perlu mengetahui bahwa kata “Lucifer” dipakai oleh St. Jerome/Hieronimus (abad ke 4) terhadap tiga ayat Ibrani dan satu kata Yunani. Empat ayat  tersebut berasal dari Yes. 14:12 הילל/ morning star/ bintang timur, Ayub 11:17 בקר, day star/pagi hari, Ayb 38:32 מזרות/ Mazzaroth/ day star/ bintang Biduk,  dan 2 Pet 1:19 (φωσφόρος/phosphoros/ day star/bintang timur). Berikut bunyi dari beberapa ayat yang disebutkan:

  1. Ayub 11:17 Latin Vulgata, et quasi meridianus fulgor consurget tibi ad vesperam et cum te consumptum putaveris orieris ut lucifer.
  2. 2 Peter 1:19et habemus firmiorem propheticum sermonem cui bene facitis adtendentes quasi lucernae lucenti in caliginoso loco donec dies inlucescat et lucifer oriatur in cordibus vestris.
  3. Yesaya 14:12 אֵיךְ נָפַלְתָּ מִשָּׁמַיִם הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר נִגְדַּעְתָּ לָאָרֶץ חֹולֵשׁ עַל־גֹּויִם׃, ‘EYKH {wahai} NAFALETA {engkau jatuh} MISHAMAYIM {dari langit} HEYLEL {bintang timur} BEN-SHAKHAR {anak fajar} NIGEDA’ETA {engkau dipotong} LA’ARETS {ke bumi} KHOLESH {engkau mengalahkan} ‘AL-GOYIM {atas bangsa-bangsa}. Ungkapan Ibrani הֵילֵל בֶּן־שָׁחַר – HEYLEL BEN-SHAKHAR”; הֵילֵל – HEYLEL adalah kata Ibrani untuk “bintang Timur” alias planet Venus, sedangkan בֶּן־שָׁחַר – BEN-SHAKHAR” harfiah “anak (putra) Fajar”.

Beberapa ayat di atas memberi gambaran bahwa kata “Lucifer” bukan nama suatu oknum tertentu secara mutlak. Kata ini dipakai pula dalam beberapa ayat Alkitab untuk menunjukkan hal baik dan benar.  Lucifer artinya bintang timur, bintang di pagi hari, bintang kejora. Oleh sebab itu memahami suatu ayat dalam Alkitab perlu melihat konteks sehingga tidak melenceng dari maksud sebenarnya. Gereja Katolik menyanyikan lagu berikut pada malam paskah, In huius ígitur noctis grátia, súscipe, sancte Pater, laudis huius sacrifícium vespertínum, quod tibi in hac cérei oblatióne solémni, per ministrórum manus de opéribus apum, sacrosáncta reddit Ecclésia. Sed iam colúmnæ huius præcónia nóvimus, quam in honórem Dei rútilans ignis accéndit. Qui, lícet sit divísus in partes, mutuáti tamen lúminis detrimenta non novit. Orámus ergo te, Dómine,ut céreus iste in honórem tui nóminis consecrátus,ad noctis huius calíginem destruéndam, indefíciens persevéret. Et in odórem suavitátis accéptus, supérnis lumináribus misceátur. Flammas eius lúcifer matutínus invéniat: ille, inquam, lúcifer, qui nescit occásum. Christus Fílius tuus, qui, regréssus ab ínferis, humáno géneri serénus illúxit, et vivit et regnat in sæcula sæculórum. Lagu tersebut sesungguhnya ditujukan kepada Yesus sebagai Bintang Timur (Bdk. Why. 22:16). Hal itu sangat jelas apabila lagi di atas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Berikut terjemahan lagu tersebut dalam bahasa Indonesia, Semoga lilin ini, yang diberkati demi penghormatan Bapa pada malam ini bernyala terus untuk menghalau kegelapan. Semoga nyalanya digabungkan dengan sinar bintang kejora….dengan Kejora Sejati itu, yang tak kunjung terbenam yang telah terbit dari alam maut dan menyinari umat manusia dengan seri cahayaNya. Dialah Yesus Kristus, Putera Bapa yang bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, hidup dan berdaulat kini dan sepanjang masa. Secara sederhana dapat kita perhatikan sumber dari tuduhan orang-orang non-Katolik yaitu pada kata Flammas eius lúcifer matutínus invéniat: ille, inquam, lúcifer,…yang artinya Semoga nyalanya digabungkan dengan sinar bintang kejora. Dengan Kejora Sejati itu.

Kiranya semakin jelas bahwa dalam bahasa Indonesia kata lúcifer itu ditujukan kepada Yesus Kristus yang adalah cahaya/sinar dunia yang bangkit dari antara orang mati. Oleh sebab itu, pemakaian dan pemaknaan kata Lucifer tergantung pada konteks atau maksud yang sedang dibicarakan atau dinyanyikan. Sementara itu Yesaya 14:12 menunjukkan perbedaan sederhana dari kata ‘Lucifer’ yakni, pada kata BEN-SHAKHAR {anak fajar}. Sementara Yesus disebut sebagai Bintang Timur yang adalah Putra Bapa (Christus Fílius tuus).

Penulis: Silvester Detianus Gea

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here