Benarkah Rasul Paulus Memalsukan Injil? Kamu Harus Tahu!

0
2005
rcascoherrera / Pixabay

Banyak orang non-Kristen menuduh bahwa Injil telah dipalsukan. Meskipun ketika Anda meminta mereka menunjukkan Injil asli, mereka sendiri tidak mampu menunjukkannya. Mereka selalu menggunakan model debat ‘asal ngotot’ daripada debat akademik.

Tudahan semacam itu tentu saja tidak mempunyai dasar dan data yang kuat, mungkin seperti pepatah mengatakan ‘tong kosong nyaring bunyinya.’ Oleh sebab itu, jika berhadapan dengan pertanyaan ataupun tuduhan serupa, umat beriman sebaiknya menjawab atau menanggapi dengan santai tapi berbobot. Ingat, Gereja Katolik tidak pernah kekurangan data sedikitpun mengenai praktik dan ajarannya, bahkan data yang paling kuno sekalipun.

Benarkah pertanyaan dan tuduhan soal Rasul Paulus yang memalsukan Injil? Berikut ulasannya:

Pertama, tanyakan kepada si penuduh darimana sumber data yang mengatakan Injil yang kita pakai saat ini sudah palsu. Setelah ia tunjukkan data yang ia punya, coba tanyakan juga kira-kira tahun berapa data tersebut ada dan ditulis. Jika data itu muncul ratusan tahun setelah Injil ditulis, maka dapat dipastikan bahwa itu HOAX.

Kedua, perlu ditunjukkan juga data-data dari abad pertama hingga abad kedua untuk membantah tuduhan yang tidak berdasar itu.

  1. Irenaeus (180). [1]

St. Irenaeus dalam bukunya yang berjudul ‘Against the Heresies‘, buku III, bab 1, 1 mengatakan, “Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun atas para rasul dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita … Matius … menulis Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma … Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga meneruskan kepada kita sevara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan oleh Paulus. Selanjutnya Yohanes, murid Tuhan Yesus…juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.” [2]

[1. We have learned from none others the plan of our salvation, than from those through whom the Gospel has come down to us, which they did at one time proclaim in public, and, at a later period, by the will of God, handed down to us in the Scriptures, to be the ground and pillar of our faith. For it is unlawful to assert that they preached before they possessed perfect knowledge, as some do even venture to say, boasting themselves as improvers of the apostles. For, after our Lord rose from the dead, [the apostles] were invested with power from on high when the Holy Spirit came down [upon them], were filled from all [His gifts], and had perfect knowledge: they departed to the ends of the earth, preaching the glad tidings of the good things [sent] from God to us, and proclaiming the peace of heaven to men, who indeed do all equally and individually possess the Gospel of God. Matthew also issued a written Gospel among the Hebrews in their own dialect, while Peter and Paul were preaching at Rome, and laying the foundations of the Church. After their departure, Mark, the disciple and interpreter of Peter, did also hand down to us in writing what had been preached by Peter. Luke also, the companion of Paul, recorded in a book the Gospel preached by him. Afterwards, John, the disciple of the Lord, who also had leaned upon His breast, did himself publish a Gospel during his residence at Ephesus in Asia.]

  1. Origen (185-254)[3]

Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew mengatakan bahwa, “Injil pertama kali ditulis oleh Matius, seorang pemungut cukai/publican yang kemudian menjadi Rasul Yesus Kristus. Ia menulis Injil untuk umat Yahudi dalam bahasa Ibrani. Injil kedua ditulis oleh Markus, seorang juru tulis St. Petrus, yang telah diangkat sebagai anak (bdk. 1 Pet. 5:13). Injil ketiga ditulis oleh Lukas untuk umat non-Yahudi yang dibawakan oleh Rasul Paulus, dan setelah itu, Injil Yohanes.

[Concerning the four Gospels which alone are uncontroverted in the Church of God under heaven, I have learned by tradition that the Gospel according to Matthew, who was at one time a publican and afterwards an Apostle of Jesus Christ, was written first; and that he composed it in the Hebrew tongue and published it for the converts from Judaism. The second written was that according to Mark, who wrote it according to the instruction of Peter, who, in his General Epistle, acknowledged him as a son, saying, The church that is in Babylon, elect together with you, salutes you; and so does Mark my son.1 Peter 5:13 And third, was that according to Luke, the Gospel commended byPaul, which he composed for the converts from the Gentiles. Last of all, that according to John.].

Berdasarkan beberapa data di atas, dapat diketahui bahwa Injil pertama ditulis sekitar 8-15 tahun setelah kenaikan Yesus ke surga (antara tahun 38-45 AD). Sementara itu, Injil yang ditulis oleh Markus dan Lukas diperkirakan pada antara tahun 64-67; dan Injil Yohanes antara tahun 90-100.

Ketiga, Rasul Paulus tidak mungkin memalsukan Injil, kok bisa?

  1. Banyak saksi yang telah menerima pengajaran dari Injil Matius dan Markus, sehingga apa yang ditulis dalam Injil Lukas (rekan Paulus) dapat dicek kebenarannya.
  2. Jika benar telah dipalsukan, maka tentu ada data tertulis yang menolak pemalsuan itu, karena banyak saksi mata yang masih hidup, yang menerima pengajaran dari Yesus dan para rasul. Sebagai contoh, penolakan terhadap ajaran sesat Gnostik, Manikheisme, Arianisme, Montanisme, Ebionit, Collyridianisme yang muncul pada abad-abad awal hingga abad ketiga masih ada datanya. Sekiranya Rasul Paulus memalsukan Injil tentu ada data dari orang-orang yang memprotes tindakan Paulus. Nyatanya tidak ada data sama sekali, selain ucapan kosong dan tanpa data.

Keempat, membuktikan keontentikan Injil. Bagaimana caranya?

  1. Seseorang harus menemukan jangka waktu ketika karya itu dituliskan sampai manuskrip pertama ditemukan. Jika jangka waktunya pendek, maka semakin sedikit kemungkinan kesalahan dari kisah yang sesungguhnya.
  2. seseorang harus menemukan berapa banyak manuskrip original yang masih ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan ke-otentikan dokumen.
  3. Fakta bahwa manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah kejadian dan terdapat 5000 manuskrip asli dalam bahasa Yunani. Selain itu, ada sekitar 20.000 bahasa non-Yunani yang masih eksis.
  4. Keontetikan Injil juga dapat dibuktikan dari tulisan Bapa Gereja. Sekiranya Rasul Paulus memalsukan tentulah para Bapa Gereja yang mengutip ‘Injil Asli’ akan memprotes tindakan itu. Nyatanya Injil yang dituduh dipalsukan malah paling banyak dikutip oleh Bapa Gereja sejak abad pertama. St. Klemens (tahun 95) telah mengutip ayat-ayat Injil, Kisah para rasul, Roma, 1 Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Sementara itu, St. Ignatius ( tahun 115) juga telah mengutip ayat-ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.

Kelima, darimana sumber tuduhan bahwa Rasul Paulus memalsukan Injil?

Tuduhan bahwa Rasul Paulus memalsukan Injil berasal dari kaum skeptik bernama Bart Erhman dalam buku yang berjudul Misquoting Jesus dan  para tokoh liberal dalam the Jesus Seminar. Mereka ini pengarang-pengarang di siang bolong yang karangannya kebablasan. Kiranya jelas, tuduhan bahwa Injil dipalsukan oleh Paulus adalah HOAX.

Tambahan untuk disimak:

Referensi

Lihat http://katolisitas.org
Lihat http://www.newadvent.org
[1] St. Irenaeus adalah murid St. Policarpus. Sementara St. Policarpus adalah murid Rasul Yohanes
[2]St. Irenaeus, Against Heresies (Book III, Chapter 1) Lihat http://www.newadvent.org/fathers/0103301.htm
[3] Commentary on the Gospel of Matthew (Book I) lihat http://www.newadvent.org/fathers/101601.htm

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here