Mengapa Perempuan Sebaiknya Memakai Mantila/Kerudung Misa? Kamu Harus Tahu?!

0
3598
sfetfedyhghj / Pixabay

Beberapa waktu lalu seorang teman bertanya, mengapa ada perempuan yang memakai ‘Jilbab’ menyambut komuni saat Misa?. Salah seorang tim JalaPress.com mencoba mencari informasi dan sumber. Setelah ditelusuri seperlunya, ternyata yang dimaksud adalah seorang perempuan yang memakai kerudung Misa/Mantila (Veil). Mungkin hal ini di Indonesia agak tabu/aneh jika digunakan di gereja karena belum terbiasa. Umat (perempuan) luar negeri seperti Korea Selatan, telah terbiasa memakai Veil ketika mengikuti Misa.

Sejak Kapan Penggunaan Kerudung Misa dalam Gereja?

Pertama, Setidaknya ada satu perikop dalam Kitab Suci yang menyebut tentang ‘kerudung’ ketika ibadah. [Hiasan kepala wanita], Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian (1 Kor. 11:1-16).

Kiranya jelas, bahwa St. Paulus memberi tahu kita dalam 1 Kor 11:2-16 bahwa ketika seorang perempuan mengerudungi dirinya saat Misa, dia mengakui Kristus sebagai kepala dan otoritas dari suaminya/ayahnya, jikalau wanita itu belum menikah, di mana sang suami/ayahnya dipanggil untuk menampilkan kepemimpinan Kristus dalam hidup sang perempuan tersebut (bdk. Ef. 5:23). Selain itu, Rasul Paulus berkata bahwa rambut panjang perempuan adalah “kehormatannya” (1 Kor 11:15). Namun, dalam Misa, setiap orang dipanggil untuk hadir di hadapan Allah dengan sederhana.

Kedua, dalam tradisi Yudeo-Kristen, bejana kehidupan seringkali dikerudungi. Selain itu, dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian dipisahkan oleh sebuah tabir yang mengerudungnya. Selanjutnya, dalam Gereja Katolik, piala yang berisi Darah Kristus ditudungi sampai ke Offertorium. Demikian pula Sibori yang berisi Tubuh dan Darah Kristus ditudungi di dalam Tabernakel. Bagi Umat Katolik sendiri, tidak heran setiap melihat patung Bunda Maria hampir tidak pernah tidak ada kerudung. Dengan demikian, perempuan Katolik diajak untuk menjadikan Bunda Maria sebagai panutan dalam hal-hal rohani.

Ketiga, dengan demikian pemakaian kerudung misa merupakan kebiasaan lama di dalam Gereja. Meskipun sekarang kebiasaan ini semakin ditinggalkan, namun tidak ada peraturan Gereja yang melarang perempuan untuk melestarikan praktik baik ini. Seperti diketahui, akhir-akhir ini praktek pemakaian kerudung misa, dipopulerkan kembali.

Referensi:

  1. http://www.indonesianpapist.com/2011/07/mengapa-wanita-sebaiknya-menggunakan.html
  2. http://www.katolisitas.org/wanita-harus-memakai-tutup-kepala-saat-ibadah-1-kor-113-15/

 

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here