Praktik Pengusiran Setan (Eksorsisme) dalam Gereja Katolik

1
5168
PhotoMIX-Company / Pixabay

Dalam kehidupan kita setiap hari, tidak jarang kita jumpai orang-orang dengan gejala ‘seperti kerasukan setan’. Biasanya tandanya bermacam-macam: ada yang mulutnya berbusa, bicara tidak karuan, teriak-teriak sembarangan, mata memerah, dan sebagainya.

Namun, meski sudah ada tanda-tanda seperti itu, kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa orang bersangkutan pasti kerasukan setan. Tetap harus dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya; sebab boleh jadi karena faktor lain, misalnya faktor psikologis.

Bioskop tanah air pernah menampilkan film pengusiran setan berjudul “Ruqyah: the Exorcism“. Film horor yang tayang di bioskop mulai 5 Oktober 2017 berhasil menarik perhatian banyak orang. Dari segi istilah, baik ruqyah maupun exorcism sebenarnya mengandung arti yang sama. Hanya saja, bedanya, istilah ruqyah banyak dipakai dalam Islam, sedangkan exorcism merupakan istilah pengusiran setan yang khas Katolik.

Ya, dalam Gereja Katolik, ritus pengusiran setan biasa dikenal dengan istilah exorcism atau eksorsisme. Eksorsisme termasuk dalam kategori sakramentali, yaitu tanda-tanda suci (signa sacra) yang diadakan oleh Gereja melalui mana dengan cara yang mirip sakramen memberikan efek, terutama spiritual, bagi yang menerimanya dengan perantaraan Gereja (bdk. KHK kan. 1166; Sacrosanctum Concilium, n. 60).

Praktek eksorsisme di dalam Gereja Katolik memiliki dasar iman dari kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Kita membaca atau mendengar dari isi Kitab Suci bahwa pada suatu waktu Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (Mat. 10:1; Luk 9:1).

Injil Mrk. 1:21b-28 menyajikan kepada kita satu cerita mengenai bagaimana Yesus mengusir setan. Ia menghardik setan itu. Menghardik artinya membentak atau mengusir dengan keras. Setan itu pun tunduk kepada-Nya; sebab Ia berbicara dengan penuh kuasa.

Dalam eksorsisme sederhana atau kecil (juga disebut doa pembebasan), setiap imam, melalui sakramen imamat yang diterimanya, mempunyai kuasa untuk mengusir setan. Namun, menurut Kitab Hukum Kanonik, eksorsisme besar atau khidmat hanya bisa dilakukan oleh imam yang sudah mendapatkan izin khusus dari Uskup. Mereka yang menerima pelayanan ini harus mengikuti kursus mengenai eksorsisme di Tahta Suci.

Saya pernah menjalani kerasulan akhir pekan di salah satu paroki di Manila, yang mana pastor parokinya adalah seorang eksorsis. Saya memperhatikan bahwa hampir setiap minggu selalu saja ada pasien yang datang ke parokinya. Rata-rata yang datang adalah anak remaja putri. Setelah didalami, ternyata tidak semuanya karena pengaruh roh jahat. Banyak juga di antara mereka yang bertingkah seperti orang kerasukan, tetapi sebenarnya bukan karena kerasukan setan. Sebagai contoh, karena sakit hati diputus pacar.

Makanya, Gereja sangat berhati-hati dalam memberikan kuasa untuk pengusiran setan. Dalam terang Kitab Hukum Kanonik (kan. 1172), ditegaskan bahwa tak seorangpun dapat dengan licit melakukan eksorsisme kepada mereka yang kerasukan (obsesses), kecuali ia telah memperoleh izin khusus dan resmi dari Ordinaris Lokal; dan bahwa izinan tersebut harus diberikan hanya kepada para imam yang menunjukkan kesalehan, pengetahuan, kebijaksanaan dan integritas hidup yang luar biasa. Para Uskup sangat didorong untuk menaati pelaksanaan ketentuan-ketentuan ini.

Dengan demikian, umat beriman Kristiani tidak boleh menggunakan rumusan eksorsisme melawan setan dan para malaikat yang jatuh dalam dosa (fallen angels) yang disebutkan dalam rumusan tersebut yang disusun secara resmi atas perintah Paus Leo XIII, dan sama sekali tidak diperbolehkan menggunakan keseluruhan teks eksorsisme itu. Para Uskup diminta untuk mengingatkan umat beriman tentang hal ini.

Meski demikian, penegasan di atas jangan sampai menghentikan umat beriman Kristiani untuk berdoa, sebagaimana diajarkan Yesus, agar mereka dibebaskan dari yang jahat (bdk. Mat 6:13). Justru sebaliknya, umat beriman haruslah terus berdoa dan mengandalkan Yesus di dalam hidup mereka. Jika hal itu bisa dilakukan, maka yakinlah, setan-setan termasuk juga segala pengaruhnya pasti menjauh. ***

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

1 COMMENT

  1. Ada jg masalah ketika Romo yg tertahbis ternyata tdk bisa menyelesaikan masalah “kerasukan” ini hal yg nyata, pertanyaan ketika dalam keadaan darurat ada umat harus ditolong tp pastor td ditempat apa yg harus dilakukan ,apakah membiarkan , ajaran Yesus aslinya jg terbuka bagi umat yg percaya untuk mengusir roh jahat ,Krn Roh jahat tidak jauh dr setiap pribadi manusia …hmm

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here