Belajar dari Kegagalan Orang Lain — Renungan Harian

0
241
Gambar ilustrasi oleh rawpixel / Pixabay

Belajar dari Kegagalan Orang Lain: Renungan Harian Katolik, Minggu 24 Maret 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kel. 3:1-8a, 13-15; Bacaan II: 1 Kor. 10:1-6, 10-12; Injil: Luk. 13:1-9

Tidak ada yang kebetulan bagi Tuhan. Dalam Kitab Keluaran diceritakan seolah Musa secara kebetulan saja tiba di gunung Tuhan, yaitu Gunung Horeb. Tidak demikian bagi Tuhan. Tuhanlah yang memanggil dia ke sana. Musa dipanggil oleh Tuhan dengan cara itu.

Tuhan juga memanggil kita dengan caranya sendiri. Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai ‘Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakob’ (Kel. 3:6). Ketiganya adalah nenek moyang orang Israel. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

Dalam Perjanjian Lama, mereka tidak mampu memandang wajah Allah. Allah digambarkan sebagai terang yang besar. Tidak ada orang yang mampu melihat terang yang besar. Mirip kalau kita menatap matahari, kita pasti bersin-bersin. Tidak tahan. Makanya, Musa menutup mukanya. Ia tidak tahan.

Tuhan mengungkapkan kepada Musa betapa Ia peduli dengan kesengsaraan umat-Nya di tanah Mesir. Ia mau mengutus Musa ke sana. Musa bertanya tentang nama dari Tuhan yang mengutusnya. Tapi, Tuhan hanya bilang: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu” (Kel. 3:14).

Bagi orang Israel, tahu nama seseorang sama artinya dengan menguasai orang itu. Maka, sangatlah tidak etis jika seorang bawahan menanyakan nama atasannya; atau seorang manusia menanyakan nama Tuhannya. Itulah sebabnya Tuhan hanya memperkenalkan nama-Nya sebagai ‘Sang Aku’.

Musa menuntun orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Mereka mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun. Kok, lama sekali? Ya, karena hidup mereka jatuh bangun. Tuhan mau memulihkan keadaan mereka terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka diperbolehkan masuk ke tanah terjanji.

Orang Israel cenderung menggerutu, gusar, dan bersungut-sungut. Mereka tidak puas dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Padahal, Tuhan selalu memberi apa yang mereka butuhkan. Mereka tidak tahu diri: dikasih hati minta jantung.

Rasul Paulus menyebutkan bahwa – karena sikap mereka itu – Allah tidak berkenan kepada sebagian terbesar dari mereka. Maka, mereka ditewaskan di padang gurun (1 Kor. 10:5). Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat. Apa yang terjadi pada orang-orang Israel di padang gurun itu merupakan contoh yang baik untuk tidak kita tiru.

Dalam banyak hal, kita sama saja dengan mereka. Kita mengeluh dan protes terhadap Tuhan. Padahal, Tuhan sudah memberi banyak kepada kita. Kita mungkin mau supaya Tuhan memberi uang cash kepada kita. Kita lupa bahwa Tuhan sudah memberi lebih dari apa yang kita pikirkan. Ia memberi kita kesehatan, nafas kehidupan, lingkungan yang aman, dan sebagainya. Itu semua tidak dengan sendirinya kita peroleh jika bukan karena kehendak Tuhan.

Juga, tidak jarang kita menertawakan pengalaman pahit yang dialami oleh orang lain. Tapi, jangan lupa bahwa pengalaman mereka bukan tidak mungkin akan kita alami juga kalau kita tidak bertobat. Tuhan mau supaya kita mengambil hikmah dari pengalaman pahit yang dialami oleh orang lain.

Kita mendengar cerita tentang orang Israel yang menggerutu, bersungut-sungut, dan protes, sehingga Tuhan menghukum mereka; semua itu bukan untuk dijadikan bahan olok-olokan atau bahan tertawaan, tetapi haruslah menjadi bahan pembelajaran bagi kita supaya kita tidak mengalami hal yang sama. Makanya, Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya:

“Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:2-5).

Tuhan Yesus mau supaya pengalaman pahit yang dialami oleh orang lain jangan hanya dijadikan sebagai bahan gosip. Kita harus belajar dan mengambil hikmah dari situ. Jika tidak, kita juga akan mengalami hal yang sama.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here