Jangan Mudah Pindah ke Lain Hati! Tuhan Mau Kita Setia

0
14444
Gambar ilustrasi oleh mogcity / Pixabay

Jangan Mudah Pindah ke Lain Hati! Tuhan Mau Kita Setia: Renungan Harian Katolik, Rabu 27 Maret 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Ul. 4:1, 5-9; Injil: Mat. 5:17-19

Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, sekali waktu pernah berkata: “JAS MERAH. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Kita bisa belajar banyak dari sejarah masa lalu, maka jangan pernah tinggalkan sejarah itu begitu saja. Sekalipun itu mungkin merupakan sejarah terburuk dalam hidup kita.

Semua bangsa di dunia ini mempunyai sejarah masa lalu, tidak terkecuali orang-orang Israel yang berada di bawah kepemimpinan Musa. Sejarah mereka tercatat dengan rapi dan lengkap di dalam Kitab Taurat, yaitu lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.

Sejarah besar bangsa Israel di bawah kepemimpinan Musa bercerita tentang pembebasan mereka dari perbudakan di tanah Mesir. Tuhan menuntun mereka keluar dari negeri asing itu, dan menuntun mereka ke tanah terjanji melewati padang gurun. Selama 40 tahun mereka berada di padang gurun, sebelum akhirnya bisa masuk ke tanah terjanji. Meskipun Musa sendiri tidak sempat masuk ke ‘tanah yang berlimpah susu dan madu itu’.

Perjalanan orang-orang Israel di padang gurun jatuh bangun. Kadang mereka dipuji, tetapi lebih sering ditegur oleh Tuhan; karena mereka berkali-kali jatuh menjadi orang yang tidak setia. Tidak sekali saja Tuhan marah dan menurunkan hukuman atas mereka; karena mereka khilaf, membelot, memberontak, pindah ke lain hati, dan menyembah berhala.

Musa mengajak orang-orang Israel supaya sejarah itu jangan sampai ditinggalkan. Ia mau supaya mereka selalu ingat apa yang telah diperbuat Tuhan kepada mereka. Bahwasanya, Tuhan memberkati orang yang setia, dan menghukum orang yang pindah ke lain hati.

Tuhan mau kita setia. Orang yang setia pada ketetapan dan peraturan dari Tuhan akan masuk ke tanah terjanji. Itulah sebabnya Musa berkata kepada orang Israel itu: “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi” (Ul. 4:5-6).

Apa yang disampaikan oleh Musa di Kitab Ulangan ini merupakan pengingat bagi orang-orang Israel; bahwasanya segala ketetapan dan peraturan sudah disampaikan kepada mereka selama berada di padang gurun. Musa mewanti-wanti: “Waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul. 4:9).

Jangan mudah tergiur untuk mengikuti segala pengajaran yang baru, tanpa mau belajar dari sejarah masa lalu. Pengalaman positif kita wariskan; dan dari pengalaman negatif, kita mengambil hikmahnya. Orang bilang, ‘pengalaman adalah guru yang baik.’ Dari pengalaman itu kita belajar.   Jangan sampai pengajaran yang baik itu tidak diteruskan.

Dunia ini butuh banyak orang baik dan setia. Maka, ceritakanlah hal-hal baik itu secara turun-temurun dan kabarkanlah kepada orang-orang lain. Mengapa itu harus dilakukan? ‘Supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu’ (Bil. 4:5).

Ada jaminan bagi orang yang terbukti setia. Tanah terjanji adalah tempatnya orang yang taat dan setia. Siapa yang tidak setia, tidak bisa masuk ke tanah terjanji. Orang yang setia dan taat pada hukum Taurat akan mendapat ganjaran yang besar. ‘Ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga’ (Mat. 5:19).

Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat. Tetapi sebaliknya, Ia justru datang untuk menggenapinya. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17).

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here