Cemburu karena Sayang, Tuhan Larang Kita Mendua Hati

0
677
Pexels / Pixabay

Cemburu karena Sayang, Tuhan Larang Kita Mendua Hati: Renungan Harian Katolik, Kamis 4 April 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kel. 32:7-14; Injil: Yoh. 5:31-47

Kita seringkali menjadi orang-orang yang tidak tahu diuntung. Kita mencari dan berteriak meminta tolong kepada Tuhan, hanya ketika kita membutuhkan bantuan dan pertolongan-Nya. Tapi, giliran hidup kita sudah senang dan tenang, dengan mudahnya kita melupakan Dia.

Kenyataan seperti ini terjadi di mana-mana dan bisa berlaku pada banyak orang. Contoh kecil dan sederhana, yaitu pada saat kita hendak mencicipi makanan. Sebelum makan, biasanya doa yang kita bawakan tersusun atas kata-kata yang panjang dan enak didengar. Makin lapar, makin khusuk doanya. Tapi, coba perhatikan, begitu selesai makan, syukur-syukur kalau kita masih sempat ingat untuk menutup acara makan kita dengan tanda salib.

Gejala dan kenyataan serupa tercatat dengan sangat baik di dalam cerita Kitab Suci, terutama pada bacaan pertama hari ini. Diceritakan bahwa Tuhan sudah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Mereka bersungut-sungut dan seringkali menggerutu kepada Tuhan; dan Tuhan selalu menjawab keluh-kesah mereka.

Sayangnya, hidup keimanan mereka jatuh-bangun. Kadang mereka beriman kuat, tapi seringkali rapuh dan cepat jatuh. Mereka bersungut-sungut, menggerutu, dan berteriak meminta tolong kepada Tuhan hanya jika mereka berada dalam keadaan susah. Tapi, ketika mereka diberi berkat, dengan gampang mereka beralih ke lain hati. Mereka begitu cepatnya melupakan Tuhan. Padahal, Tuhan sendiri pernah melarang mereka supaya jangan menyembah allah lain selain Dia. Tuhan berfirman: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Kel. 20:5).

Larangan Tuhan itu mereka langgar. Kejadian itu bermula ketika mereka menunggu Musa ‘turun gunung’. Mereka berharap agar Musa dapat turun secepat yang mereka mau. Padahal, Musa masih harus bercakap-cakap dengan Tuhan. Mereka tidak sabar, sehingga mereka memaksa Harun supaya membuatkan bagi mereka patung anak lembu. Kemudian, mereka sujud menyembah kepada patung itu dan mempersembahkan korban baginya, sambil berkata: “Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 32:8).

Secepat itu mereka melupakan Tuhan, secepat itu pula mereka menyimpang dari jalan Tuhan. Mereka menyesal, mereka bertobat, bahkan sampai menangis, tetapi air mata mereka  hanyalah air mata buaya.

Ulah manusia itu membuat Tuhan murka. Ia pun merencanakan suatu malapetaka atas umat yang disebut-Nya sebagai ‘bangsa yang tegar tengkuk’ itu. Tapi uniknya, Musa tampil untuk melunakkan hati Tuhan. Ia berkata kepada Tuhan:

“Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?  Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya” (Kel. 32:11-13).

Musa berhasil membujuk Tuhan. TUHAN menyesal terhadap malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. Cerita seperti ini kedengaran agak lucu, tetapi poin yang mau disampaikan sebenarnya adalah bahwa Tuhan mengasihi kita. Ia tidak mau menurunkan malapetaka atas kita, karena Ia sayang pada kita. Ia cemburu karena sayang, Ia juga marah karena sayang. Ia tidak mau melihat kita menduakan-Nya.

Kasih dan sayang Tuhan itu nyata terwujud dalam diri Yesus. Ia rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib, demi menebus dosa-dosa kita. Masihkah kita tega menyimpang dari jalan-Nya? Jadikanlah masa Prapaskah ini sebagai kesempatan bagi kita untuk menyesal dan bertobat. Semoga.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here