Jangan Lupa! Orang Baik, Wajib Pilih Orang Baik

0
182
Gambar ilustrasi oleh sasint / Pixabay

Saya mendasarkan permenungan ini pada bacaan pertama dan Injil kemarin (seturut kalender liturgi Gereja Katolik), yaitu dari Kitab Kebijaksanaan 2:1a, 12-22 dan Injil Yohanes 7:1-2, 10, 25-30.

Selama ini, kita selalu berpikir bahwa menjadi orang baik itu seharusnya hidup tenang dan senang; bukan sebaliknya, malah dipersulit dan menderita. Tampaknya, kita lebih mudah menerima kenyataan bahwa orang jahat hidupnya susah daripada orang baik hidupnya dipersulit dan menderita. Jika ada orang jahat hidupnya susah, kita bilang ‘itu karma’. Tetapi, jika ada orang baik hidupnya dipersulit dan menderita, kita tidak tahu lagi mau bilang apa. Kita tidak bisa menerima kenyataan itu; sehingga pertanyaan tentang ‘mengapa orang baik dipersulit dan menderita’ menjadi tidak gampang untuk dijawab dengan jawaban yang benar-benar memuaskan.  Namun demikian, bukan berarti bahwa pertanyaan sulit itu tidak bisa dijawab. Jawabannya bisa kita temukan di dalam kedua bacaan yang sudah saya sebutkan di atas.

Bacaan pertama memberi tahu kita bahwa memang menjadi orang baik itu ujiannya berat, bahkan sangat berat; karena musuhnya banyak. Menjadi orang baik itu tidak dengan sendirinya hidup tenang dan senang, terutama bila orang baik itu hidup di lingkungan orang jahat. Jika ada orang baik tinggal berdampingan dengan banyak orang jahat, maka orang baik itu akan dimusuhi dan diincar-incar.

Bagi orang jahat, kehadiran orang baik di tengah-tengah mereka merupakan suatu gangguan. Lihat saja apa yang dikatakan di dalam Kitab Kebijaksanaan. Orang fasik berkata: “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita” (Keb. 2:2).

Bayangkan satu orang baik tinggal satu kelompok dengan orang jahat; dan orang jahat itu sepakat untuk  melakukan korupsi berjamaah. Lalu, orang baik itu bilang, “Jangan Bro, nanti kita di-OTT KPK.” Apa reaksi orang-orang jahat itu? Pasti mereka marah, jengkel, dan merasa terganggu dengan kehadiran orang baik itu; sebab gara-gara dia niat mereka menjadi terhambat.

Orang baik selalu dianggap sebagai penghalang bagi orang jahat untuk melancarkan aksi jahatnya. Sekali lagi, lihat bacaan pertama kemarin. Orang jahat itu berkata: “Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya” (Keb. 2:19). Maka, orang baik itu akan difitnah habis-habisan. Segala macam tuduhan palsu akan diarahkan kepadanya, sekedar supaya reputasinya jatuh.

Sampai di sini kita jadi tahu bahwa ternyata seringkali orang baik dipersulit dan menderita karena ulah orang-orang jahat yang merasa tidak tenang dan tidak senang terhadap kehadirannya. Bagi mereka, kehadiran orang baik dianggap sebagai pengganggu dan penghambat.

Nah, kalau begitu, apakah kita berhenti saja menjadi orang baik; dan bergabung saja dengan orang jahat supaya gampang diterima di kelompok mereka? Jawabannya: Tidak. Justru kita harus makin giat menebarkan kebaikan. Memang, menjadi orang baik itu banyak ujiannya, tapi kita harus tetap bersabar. Kita hidup hanya satu kali; karena itu berjuanglah untuk menjadi yang pertama dan utama dalam segala hal. Kita harus tetap menjadi orang baik dalam segala situasi. Kita memilih orang baik; dan bergabung dengan orang baik, bukan orang jahat.

Memang orang-orang jahat akan selalu mencari kelemahan orang baik, dan menebarkan fitnah atas orang baik. Tapi, jangan patah semangat, ‘karena mereka yang menebarkan fitnah itu adalah sesat. Mereka telah dibutakan oleh kejahatan mereka’ (bdk. Keb. 2:21). Maka, tidak mungkinlah kita mengikuti cara-cara jahat seperti itu. Orang baik, memilih orang baik juga.

Banyak kali orang baik dibatasi ruang geraknya, difitnah, dan bahkan ada yang sampai dianiaya. Tapi, jangan kuatir. Jika ada orang baik mendapat kesulitan, sabar. Itu hanya ujian. Orang sabar disayang Tuhan. Orang baik mencontoh dari orang baik, yaitu dari Tuhan Yesus sendiri.

Yesus adalah orang baik yang dikejar-kejar oleh orang-orang Farisi. Kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka dianggap sebagai gangguan bagi mereka. Makanya, mereka berusaha untuk membatasi ruang gerak Yesus, memfitnah Dia dengan keji, bahkan merencanakan aksi pembunuhan atas-Nya.

Tapi, Tuhan Yesus tidak pernah gentar. Ia tetap menyampaikan kebenaran-Nya, sampai titik darah penghabisan, bahkan sampai wafat di kayu salib. Penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib menjadi pembelajaran bagi kita bahwa  kita jangan sampai berhenti menjadi orang baik, hanya karena orang-orang jahat menghalang-halangi kita.

Semoga kita semua terus menebarkan kebaikan di mana pun kita berada, dan jangan pernah berhenti menjadi orang baik; sekalipun kita harus menanggung segala resiko dari kebaikan itu. Amin.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here