Spiritualitas Pelayanan: Pribadi yang Diambil, Diberkati dan Dibagi

0
261
Gambar ilustrasi oleh rperucho / Pixabay

Kita mengenal ada empat kata kunci dan penting dalam Ekaristi, antara lain: kata ‘diambil’, ‘diberkati’, ‘dipecah’, dan ‘dibagi’. Keempat kata ini boleh dikatakan sebagai rangkuman dari seluruh perjalanan hidup kita.  Maka dari itu, mari kita melihatnya satu demi satu.

Kata ‘Diambil

‘Diambil’ sama artinya dengan ‘dipilih’. Kita harus berpegang pada keyakinan bahwa diri kita dipilih di tengah suara-suara yang mengatakan bahwa ‘kita sesungguhnya tidaklah istimewa dan biasa-biasa saja.’ Kita bisa memilih untuk percaya pada kebenaran atau percaya pada kebohongan. Kita juga harus mencari orang atau tempat di mana kita diingatkan mengenai jati diri kita yang paling dasar, yaitu sebagai pribadi yang dipilih.

Kita harus selalu merayakan kebenaran bahwa kita dipilih. Ini berarti bahwa kita perlu mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada Allah yang telah memilih kita dan ‘terima kasih’ juga kepada semua yang mengingatkan bahwa kita dipilih oleh Allah. Kita bisa memilih untuk bersyukur atau merasa terbebani. Bila kita memilih merasa terbebani, kita akan masuk dalam kegelapan. Bila kita memilih bersyukur kita akan menjadi sumber pengharapan dan inspirasi bagi orang lain.

Hal yang paling menakjubkan ialah bahwa setiap kali kita memilih untuk bersyukur, semakin mudah kita melihat hal-hal yang harus disyukuri. Syukur membuahkan syukur, seperti kasih membuahkan kasih. Kesadaran kita sebagai pribadi yang dipilih tidak akan membuat kita merasa lebih baik, lebih istimewa, lebih berguna dan lebih berharga dari orang lain. Sebaliknya, kesadaran itu membuka mata kita untuk melihat bahwa orang lainpun adalah pribadi-pribadi yang dipilih. Kebahagian terbesar adalah pada saat kita menemukan bahwa orang lain juga pribadi-pribadi yang dipilih.

Kata ‘Diberkati

Kata berkat dalam bahasa Latin adalah benedicere yang berarti menyatakan (dicere) kebaikan (bene). Memberkati tidak hanya memberi kata pujian, tetapi meneguhkan, mengatakan ‘ya’ bahwa orang lain adalah pribadi yang patut dikasihi.

Tidak cukup bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih. Kita juga membutuhkan berkat terus-menerus, yang bisa datang dari orang-orang lain di sekitar kita, komunitas dan keluarga. Kita mendengar atau membaca kata-kata: “Engkau adalah Anak yang Kukasihi, kepada-Mu Aku berkenan”. Kata-kata ini merupakan kata-kata berkat yang meneguhkan Yesus melewati segala puji dan cela, kekaguman dan hinaan.

Perasaan terkutuk seringkali lebih mudah datang daripada perasaan terberkati, dan kita dapat menemukan banyak alasan untuk itu bila melihat dunia sekitar kita yang penuh kehancuran dan penderitaan. Dalam keheningan doa kita mencoba untuk mendengarkan suara batin yang menyatakan “Engkau adalah anak yang Kukasihi, kepadamu Aku berkenan.”

Kesulitan kita saat ini adalah betapa sulitnya merasakam bahwa kita diberkati. Ungkapan ‘ah itu biasa saja’ merupakan tanda bahwa kita tidak sungguh-sungguh memperhatikan berkat yag diberikan kepada kita. Padahal, berkat itu ada di sekeliling kita dan datang dari segala arah. Keyakinan bahwa diri kita adalah pribadi yang diberkati akan menimbulkan keinginan yang kuat untuk memberkati orang lain.

Kata ‘Dipecah-pecah

Kita dipecah-pecah karena kita dipanggil dan memberi diri. Setiap pribadi menderita dengan cara khusus yang tidak akan pernah sama dengan orang lain. Sumber penderitaan bukanlah cacat atau kelemahan kita, tetapi perasaan ditolak, diremehkan, tidak berguna, tidak dihargai, serta tidak dicintai. Namun dipecah tidak sama dengan menderita, dipecah berarti bersengsara (passio).

Kata ‘Dibagi-bagikan

Hanya pada saat kita menyediakan diri untuk dibagikan, kita baru sungguh menghayati bahwa kita dipilih, diberkati dan dipecah. Kita dipilih, diberkati dan dipecah bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain. Kebahagiaan kita menjadi penuh pada saat kita memberikan diri kita bagi orang lain. Karena itu, pertanyaan sesungguhnya ialah bukan lagi ‘apa yang saya berikan untuk orang lain,’ melainkan ‘siapa kita bagi orang lain.’

Ada dua cara kita membagikan diri, yaitu pertama, kita memberikan diri dalam kehidupan. Apa yang kita berikan bukan sekedar bakat, talenta, atau pengetahuan yang kita miliki, tetapi bahkan anugerah pribadi kita. Anugerah pribadi itu antara lain persahabatan, kebaikan hati, kesabaran, kegembiraan, kedamaian hati, pengampunan dan pengharapan. Kedua, kita memberi diri dalam kematian kita. Kematian orang yang kita cintai dan mencintai kita seringkali mempunyai daya untuk meneguhkan dan memperdalam ikatan kasih, mewariskan buah kehidupan bagi banyak orang. Sebagai contoh, murid-murid Yesus baru mampu menangkap dan menyadari siapakah Yesus sesudah Yesus meninggalkan mereka.

avatar
“Coelum Stellatum Supra Me, lex Moralis Intra Me”. Pernah mengambil jurusan Accounting & Finance di STIEB Bandung, tinggal di Kota Bandung.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here