Makin Tua, Makin Berdosa: Kisah Susana, Wanita Berzinah, dan Daniel

0
1511
Gambar ilustrasi oleh Comfreak / Pixabay

Makin Tua, Makin Berdosa: Kisah Susana, Wanita Berzinah, dan Daniel: Renungan Harian Katolik, Senin 8 April 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: T. Dan. 13:1-9, 15-17, 19-30, 33-62; InjilYoh. 8:1-11

Selama ini, kita berasumsi bahwa usia yang tua dengan sendirinya membuat seseorang dewasa. Padahal, dalam realitanya hal seperti itu belum tentu. Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang. Tua tidak sama dengan dewasa. Umur boleh tua, tetapi perilaku bisa jadi malah kekanak-kanakan. Kisah dalam kedua bacaan hari ini memberi kita contohnya.

Dalam bacaan pertama, dikisahkan tentang Susana anak Hilkia, istri Yoyakim. Penulis Kitab Daniel menyebutkan bahwa perempuan ini berparas cantik dan takut akan Tuhan. Sayangnya, ia dituduh yang tidak-tidak. Penuduhnya justru datang dari kalangan tua-tua.

Kisah Susana menunjukkan kepada kita mengenai bagaimana dua orang tua-tua melancarkan tuduhan palsu terhadapnya. Mereka ngarang cerita tentang Susana. Mula-mula mereka menempatkan diri sebagai orang yang bersih, tanpa cacat cela. Padahal, kenyataannya, mereka ‘lupa daratan dan membuang muka, sehingga tidak memandang Sorga dan tidak ingat kepada keputusan yang adil’ (T. Dan. 13:9).

Kedua orang tua-tua itu dikendalikan oleh hawa nafsu, meski awalnya mereka malu mengakuinya. Tapi, toh mereka tidak bisa juga terus menyembunyikan hasrat itu; sehingga akhirnya mereka berani mengakuinya di hadapan Susana. Mereka berkata: “Kami sangat cinta berahi kepadamu. Berikanlah hati saja dan tidurlah bersama-sama dengan kami” (T. Dan. 13:20).

Orang tua-tua yang seharusnya menjadi pelindung dan pemberi teladan yang baik itu, justru melontarkan sesuatu yang di luar dugaan. Susana tidak pernah mengira bahwa orang setua itu mempunyai pemikiran yang ‘jorok dan cabul’ seperti itu. Maka, ia pun dengan tegas menolak permintaan mereka. Apa yang terjadi? Mereka mengancam Susana. Mereka ingin memberikan kesaksian palsu dan kabar bohong tentang Susana; dan memang mereka melakukannya. Mereka memfitnah Susana hanya karena Susana tidak memenuhi niat jahat mereka.

Nyawa Susana dipertaruhkan. Ia hampir saja menanggung hukuman mati untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Ia hampir menjadi tumbal dari ‘hasrat bejat’ orang-orang sok alim dan suci itu. Sementara itu, orang-orang lain pastilah lebih percaya kepada orang tua-tua itu; karena mengira bahwa tidak mungkinlah orang setua mereka melakukan kesalahan dan dosa.

Untung saja, ada seorang pemuda, namanya Daniel, yang berhasil menyelamatkan Susana, dengan memberikan pembuktian terbalik terhadap kedua orang tua-tua itu. Daniel berhasil membuktikan bahwa kedua orang tua-tua itu bersalah. Makanya, Daniel berkata keduanya: “Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu terlah kau perbuat” (T. Dan. 13:52).

Daniel berhasil membuktikan kepada orang-orang bahwa ternyata orang muda bisa jauh lebih bijaksana daripada orang tua-tua. Umur yang tua belum tentu dewasa dan bijaksana, sebaliknya umur yang muda tidak selamanya kekanak-kanakan dan labil.  Juga, umur yang tua tidak dengan sendirinya membuat seseorang itu tidak berdosa. Justru bisa jadi, makin tua makin banyak dosanya. Mengapa? Karena kesempatan untuk berbuat dosanya juga banyak.

Mengenai hal ini bisa kita lihat dengan jelas pada bacaan Injil hari ini. Bacaan Injil hari ini mengulang kembali Injil hari Minggu kemarin. Dikisahkan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:3-5).

Mereka membuka aib perempuan itu di muka umum, suatu perbuatan yang sama sekali tidak bijaksana. Mereka bahkan meminta Yesus supaya mengadili perempuan itu. Mereka mencap perempuan itu sebagai pendosa. Lalu, bagaimana dengan mereka sendiri? Mereka juga berdosa, tetapi mereka sengaja tidak melihatnya.

Yesus ingin menegur mereka: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat. 7:3). Makanya, ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Yesus pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7).

Perkataan Yesus ini seperti senjata yang mematikan. Mereka semua bungkam. Tak ada yang bersuara. Bahkan, seorang demi seorang mereka pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu, mulai dari yang tertua. Di sini, sekali lagi disinggung soal ‘usia tua’. Bahwasanya, ternyata, menjadi orang yang tua atau dituakan, tidak dengan sendirinya benar, bijaksana, dan tanpa cacat. Boleh jadi, makin tua makin buruk tingkahnya. Makin tua makin berdosa. Mengapa? Sekali lagi, karena kesempatan untuk berbuat dosanya banyak.

Kedua bacaan hari ini mengajarkan kepada kita bahwa menjadi tua saja tidak cukup untuk menunjukkan apakah seseorang itu bijaksana atau tidak. Kedewasaan dan kesucian harus diperjuangkan, tidak otomatis. Jika Anda merasa tidak berdosa, hanya karena Anda sudah tua, coba berhenti sejenak dari aktivitas Anda dan lihatlah ke dalam dirimu. Banyak orang lebih gampang melihat salah dan dosa orang lain daripada salah dan dosanya sendiri. Orang tua-tua itu menghabiskan energi untuk mengurus salah dan dosa orang, tapi diri mereka sendiri tidak mereka perhatikan. Jangan sampai kita juga seperti mereka.

Jangan pernah lupa bahwa kita juga mempunyai sederet daftar salah dan dosa. Ketika Anda merasa tidak berdosa sama sekali, justru di situlah Anda sudah berdosa. Tuhan mau supaya kalau kita berdosa, kita mengaku salah dan bertobat; sebab Tuhan sendiri pun tidak menghakimi dan tidak menghukum kita. Yesus berkata kepada perempuan itu: “Aku pun tidak menghukum engkau”. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang suka menghakimi dan menghukum, melainkan Tuhan yang senantiasa mengasihi, memberkati dan mengampuni. Hanya memang, pengampunan dari Tuhan itu selalu dengan catatan. Yesus berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi”. Penyesalan mesti mendatangkan pertobatan. Tuhan mengampuni dosa kita dengan satu pesan, yaitu supaya kita jangan berbuat dosa lagi.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here