Tri Hita Karana dalam Ajaran Hindu dan Persamaanya dalam Teologi Katolik

0
292

Maumere, JalaPress.com — Mahasiswa Pascasarjana STFK Ledalero-Maumere-Flores yang mengambil matakuliah Ilmu Perbandingan Agama (IPA) menyelenggarakan seminar dengan tema: “Konsep Tri Hita Karana dalam Ajaran Hindu-Bali dan dalam Perbandinganya dengan Ajaran Teologi Kristen” (Kamis, 4 April 2019).

Seminar ini diselenggarakan di Kampus STFK Ledalero. Ibu I Gusti Agung Ayu Trisnaputri yang bekerja di Departemen Agama Kabupaten Sikka sebagai penyuluh agama Hindu dan juga ibu Komang Anggreni (beragama Hindu) turut hadir dalam seminar tersebut. Yang menjadi narasumber utama dalam seminar ini adalah Fr. Aurelius Y. Haseng, Fr. Servasius Yano dan Fr. Gusti Hadun.

Dalam seminar tersebut, Fr. Aurelius Haseng dkk mengangkat satu kekhasan dalam agama Hindu yang penting juga dipelajari oleh umat beragama lain termasuk juga umat beragama Katolik yaitu ajaran tentang Tri Hita Karana. Ajaran ini berpengaruh kuat dalam agama Hindu dan menjiwai nafas kehidupan orang Bali, yang secara konkret terlihat dan disimbolkan dengan cara tata ruang perkampungan atau Pura.

Konsep Tri Hita Karana pada hakikatnya mengajarkan sikap hidup yang seimbang antara memuja Tuhan yang diwujudnyatakan dalam membangun relasi yang baik dengan sesama dan alam ciptaan.

Pada kesempatan yang sama, para narasumber menjelaskan secara singkat sejarah Tri Hita Karana. Fr. Aris Haseng dkk mengatakan bahwa istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 November 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diselenggarakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Konsep Tri Hita Karana pertama kali diceramahkan oleh Bapak I Wayan Merta Sutedja. Pada saat itu, konsep Tri Hita Karana adalah Urip, Bhuwana dan Manusa. Kemudian berubah menjadi Widhi, Bhuwana dan Manusa, dan pada akhirnya menjadi Parahyangan, Palemahan dan Pawongan.

Para nara sumber menjelaskan bahwa konsep Tri Hita Karana menjelaskan tentang tiga sumber utama kesejahteraan yang bersumber pada relasi manusia dengan Allah (Parahyangan), relasi manusia dengan sesamanya (Palemahan) dan relasi manusia dengan lingkungan alam ciptaan (Pawongan). Perpaduan harmonis ketiga unsur tersebut merupakan landasan terciptanya hidup tentram, damai dan sejahtera baik lahir maupun batin.

Konsep Tri Hita Karana terbagi dalam tiga unit utama dalam penerapannya yaitu sebagai berikut: pertama, Parahyangan yaitu unit Pura tertentu sebagai tempat utama manusia dalam membangun relasi dengan Tuhan. Tempat ini mengungkapkan relasi yang bersifat vertikal antara Tuhan dan manusia. Relasi yang dibangun ini merupakan wujud rasa syukur, karena kesadaran manusia akan segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Kedua, Pawongan merupakan tempat manusia membangun relasinya dengan sesama. Tempat ini mengungkapkan relasi horizontal, manusia dengan sesamanya agar tercipta hubungan yang harmonis. Dalam upaya mencapai keharomonisan tersebut, setiap pribadi dituntut untuk tidak boleh memilih dan memilah dalam berinteraksi dengan sesama, karena setiap pribadi memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Kalaupun ada perbedaan, umat beragama Hindu berkeyakinan bahwa perbedaan itu merupakan kehendak Tuhan sendiri agar manusia mampu menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati setiap ciptaan lain sebagaimana adanya. Ketiga, Palemahan merupakan perwujudan hubungan manusia dengan alam. Relasi ini merupakan bentuk tanggungjawab sosial manusia untuk menjaga alam semesta sebagai ciptaan Tuhan. Konsep palemahan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Adanya perayaan Nyepi, yang tentunya sehari tanpa polusi sangat memberikan cukup banyak oksigen untuk bumi ini dapat bernapas.

Dalam seminar tersebut, para narasumber mencoba menghubungkan kesamaan antara konsep Tri Hita Karana ini dengan ajaran dalam teologi Katolik. Fr. Aris Haseng dkk melihat bahwa konsep Tri Hita Karana dalam agama Hindu Bali memiliki kesamaan dalam ajaran teologi Katolik.

Seperti ajaran Tri Hita Karana, dalam teologi Katolik juga mengakui adanya makhluk supranatural yang patut disembah oleh manusia yang disebut dengan Allah. Allah dalam diri-Nya adalah sempurna dan bahagia tanpa batas. Dalam teologi Kristen, Allah yang disembah itu mewahyukan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus. Yesus diyakini sebagai Putra Allah yang hadir sebagai penyelamat umat manusia yang sering kali jatuh ke dalam dosa.

Dalam kaitan relasi manusia dengan sesamanya, teologi Katolik memiliki pemahaman yang sama dengan Tri Hita Karana bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan seturut gambar dan rupa Allah sendiri bukan untuk hidup seorang diri. Manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan yang lain. Karena itu, manusia dituntut untuk bisa menjaga keharmonisan dengan sesamanya. Dalam hubungan dengan alam ciptaan, teologi Katolik berkeyakinan bahwa alam semesta merupakan ciptaan Allah sendiri yang kemudian dipercayakan kepada manusia untuk menjaga dan merawatnya. Seperti dalam konsep Tri Hita Karana, agama Katolik menganjurkan agar alam semesta tetap dijaga dan dirawat, karena manusia digambarkan sebagai partner Allah yang juga mengambil bagian di dalam kreativitas Allah.

Pada akhir seminar ini, Pater Hendrikus Maku, SVD sebagai dosen pengampu matakuliah ilmu perbandingan agama memberikan beberapa catatan kritis dan sekaligus apresiasi kepada para narasumber. Pada kesempatan yang sama juga, Pater Hendrik menyampaikan limpah terimakasih kepada ibu Agung dan Reni yang mewakili umat beragama Hindu yang ada di Maumere yang turut hadir dan membagikan pengetahuan mereka berkaitan dengan konsep Tri Hita Karana dalam agama Hindu Bali. Seminari ini ditutup dengan acara foto dengan snack bersama.

Saat ini, sy berdomisili di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, calon imam keuskupan Ruteng. Mahasiswa STFK Ledalero. Dipercayakan menjadi ketua redaksi majalah Biduk milik Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada tahun 2016-2018, menjalankan tahun orientasi pastoral di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here