Yesus kepada Orang Yahudi: Jika Tidak Mau Menerima Aku, Paling Tidak Mengakui Pekerjaan-Ku

0
403
Gambar ilustrasi oleh ibrahim62 / Pixabay

Yesus kepada Orang Yahudi: Jika Tidak Mau Menerima Aku, Paling Tidak Mengakui Pekerjaan-Ku: Renungan Harian Katolik, Jumat 12 April 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yer. 20:10-13; InjilYoh. 10:31-42

Cerita Injil hari ini mirip sekali dengan apa yang terjadi di negara kita belakangan ini. Kita tidak suka terhadap pemimpin atau terhadap orang lain hanya karena kita merasa terganggu dengan popularitas dan atau keberhasilannya. Maka, sebagus apun pekerjaannya, kita tidak mau mengakuinya.

Bukan hanya sekedar tidak mau mengakui segala pekerjaan baik dari pemimpin atau dari orang lain itu, kita juga bahkan terus-menerus melontarkan ujaran kebencian, menebarkan fitnah dan hoaks terhadapnya. Kita menganggap dia sebagai gangguan bagi kita; karena keberadaannya sungguh mencederai kepentingan pribadi dan kelompok kita.

Dalam Injil hari ini, kita membaca bagaimana orang-orang Yahudi merasa terganggu dengan keberadaan Yesus. Mereka tidak mau mengakui segala pekerjaan baik yang dilakukan-Nya. Bukan hanya itu. Mereka juga bahkan ingin melempari Yesus dengan batu.

Yesus heran terhadap perilaku orang-orang Yahudi itu; sebab setahu-Nya, Ia sudah melakukan banyak hal baik di hadapan mereka. Makanya, Yesus berkata kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” (Yoh. 10:32).

Orang Yahudi itu tahu bahwa Yesus sudah melakukan banyak pekerjaan baik; tetapi hati mereka sudah terlanjur tidak suka terhadap-Nya; karena mereka berprasangka buruk dan gagal paham terhadap Yesus. Mereka menganggap Yesus sebagai penista Allah. Bagi mereka, Yesus tidak lebih dari seorang manusia biasa. Makanya, mereka berkata: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh. 10:33).

Sama seperti orang-orang Yahudi itu, kita juga seringkali tidak suka terhadap seorang pemimpin atau orang lain hanya karena kita mendengar omongan dari tetangga; atau karena kita membaca berita fitnah dan hoaks dari sosial media. Kita menuduh dia sebagai ‘antek asing, PKI, boneka, dan sebagainya’ tanpa didasari dengan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Yesus tahu bahwa orang-orang Yahudi itu sudah gagal paham terhadap-Nya. Ia pun berkata kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yoh. 10:34:36).

Apa sebenarnya yang membuat orang-orang Yahudi itu tidak suka terhadap Yesus? Alasannya sederhana: yaitu karena sebagian elite dari bangsa itu merasa terganggu dengan kehadiran Yesus; sebab simpati orang yang tadinya hanya tertuju kepada mereka, sekarang mulai bergeser dan tertuju kepada Yesus.

Ulah segelintir elite itu membuat orang-orang Yahudi kebanyakan merasa terganggu terhadap keberadaan Yesus. Makanya mereka berencana untuk melancarkan serangan terhadap-Nya. Tapi, Yesus tidak gentar, Ia tidak mundur sejengkalpun; karena Ia tahu bahwa Ia benar.

Yesus meluruskan pandangan mereka: “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh. 10:37:38). Dalam bahasa sehari-hari, perkataan Yesus ini barangkali bisa kita terjemahkan seperti ini: “Sudahlah kalian tidak suka terhadap saya, tetapi paling tidak kalian mengakui segala pekerjaan baik yang pernah Aku kerjakan”.

Kita seringkali tidak suka terhadap orang lain hanya karena orang lain itu lebih populer dari kita. Sampai-sampai kita tidak lagi mampu melihat dengan jernih dan mata terbuka terhadap segala pekerjaan baik yang pernah dilakukan oleh orang bersangkutan. Kita merasa bahwa jika kita tidak menekan orang bersangkutan, kita tergeser. Maka, kita melancarkan segala bentuk fitnah, ujaran kebencian, dan hoaks atas orang itu.

Marilah, dalam minggu terakhir Masa Prapaskah ini, kita belajar untuk melihat orang lain secara seimbang; tidak hanya dari sebelah mata saja. Kita harus dengan rendah hati mau mengakui keberhasilan dan pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang lain.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here