Kita adalah Keledai

0
180

Maumere-Jalapress.com. Warga Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapret-Maumere merayakan misa Minggu Palma untuk mengenang peristiwa 2000-an tahun yang lalu di mana Yesus secara akbar diarak masuk ke kota Yerusalem sebagai seorang Raja Damai (Minggu, 14/04/2019).

Perayaan ini dimulai tepat pukul 07.00 pagi dan dipimpin oleh RD. Pede da Lopez.Yang hadir dalam perayaan ini tidak hanya para Frater, tetapi juga umat di sekitar lingkungan Ritapiret.

Perayaan yang di bawah tema “Pribadi Rohanilah Yang Memberi” ini berlangsung khidmat, aman dan damai. Perarakan dimulai dari lapangan basket menuju Kapela Agung Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Dalam perayaan ini, Fr. Kristo Selamat dalam homilinya mengajak para Frater dan umat yang hadir untuk menjadi Keledai. Keledai adalah binatang yang lemah dan rapuh yang sebenarnya tidak mampu memikul beban berat. Tetapi Yesus justru membutuhkan Keledai itu. Keledai itu justru dipakai oleh Yesus untuk membawa-Nya menuju Kota Yerusalem. Keledai adalah simbol diri kita yang lemah dan rapuh. Kelemahan dan kerapuhan kita tidak diperhitungkan oleh Yesus. Dia justru memakai kita yang lemah dan rapuh ini untuk sama-sama mewartakan kebaikan dan cinta kasih Allah yang begitu besar kepada manusia. Kita juga hendaknya menjadi Keledai bagi sesama kita yang membutuhkan sentuhan cinta kita. Kita bukanlah Keledai yang terus menangisi kelemahan kita, tetapi Keledai yang berbangga bisa berarak bersama Yesus dalam lautan palma, lambang lautan kemenangan.

Dalam homilinya juga, calon Imam asal keuskupan Ruteng ini menggambarkan secara gamblang kemunafikan orang-orang Israel yang bersorak-sorai di gerbang Yerusalem padahal dalam hatinya tersimpan sesuatu yang busuk dan dendam membara. Dalam peristiwa Minggu Palma Yesus disapa sebagai Raja tetapi kemudian umat Israel mengubah kiblat dan menunjukkan penolakan pada-Nya. Di antara arak-arakan yang diwarnai dengan daun palma yang semarak, Yesus melihat siluet cambuk-cambuk yang berduri yang mendesiskan rintihan perih pada kulit tubuh-Nya, ungkap Fr. Kristo.

Fr. Kristo Selamat menawarkan beberapa landasan penting yang harus diperhatikan di Pekan Suci ini. Pertama, kerendahan hati. Inspirasi kerendahan hati ini datang dari solidaritas Allah yang tanpa batas ditunjukkan kepada manusia. Hal ini tercermin dalam pribadi historis Yesus Kristus yang menanggalkan Ke-Allah-an diri-Nya untuk menjadi serupa dengan manusia. Yesus merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya untuk mengangkat dan meninggikan martabat umat manusia. Kedua, kepasrahan kepada kehendak Allah.

Di hadapan penderitaan-Nya, Yesus tidak mengucapkan banyak kata melainkan menyandarkan diri sepenuhnya pada Allah. Ia rela menyerahkan diri-Nya secara total kepada kehendak Allah sendiri. Sebagai pengikut Kristus, kita hendaknya menyerahkan diri secara total pada rencana dan kehendak Allah. Allah yang berbelas kasih membutuhkan kita yang lemah dan rapuh. Ketiga, ketekunan dan kesabaran dalam doa. Yesus melewati penderitaan-Nya dengan sabar dan tekun, tidak ada suatu pun kalimat bernada kutukan yang keluar dari mulut-Nya. Berkat kedekatan-Nya dengan Bapa melalui doa, Ia mampu melewati pengalaman pahit dalam hidup-Nya.

Yesus tidak mengkambinghitamkan siapa-siapa ketika situasi duka melanda hidup-Nya. Ia tidak mempersalahkan kita, tidak juga kepada Yudas yang menjual diri-Nya atau tidak juga kepada Pilatus yang menjatuhkan hukuman tidak adil kepada diri-Nya. Ia rela menanggung derita hidup-Nya demi menyelamatkan umat manusia.

Perayaan ini berlangsung selama kurang lebuh dua jam dan dimeriahkan dengan lantunan lagu-lagu yang dibawakan oleh para Frater tingkat IV. (Fr. Ancis Sabar)

Saat ini, sy berdomisili di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, calon imam keuskupan Ruteng. Mahasiswa STFK Ledalero. Dipercayakan menjadi ketua redaksi majalah Biduk milik Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada tahun 2016-2018, menjalankan tahun orientasi pastoral di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here