Katolik Menjawab: Orang Katolik Tidak Menghormati apalagi Menyembah Patung

0
1270
Gambar ilustrasi oleh blickpixel / Pixabay

Kita sudah melihat pada postingan sebelumnya bahwa Tuhan tidak melarang semua jenis patung. Ia sendiri bahkan pernah dua kali menyuruh Musa membuatkan patung: yaitu patung kerub dari emas tempaan dan patung ular dari tembaga. Itu berarti, jika patung itu dibuat untuk tujuan peribadatan, maka bukan hanya diperbolehkan, tetapi bahkan diperintahkan pembuatannya oleh Tuhan.

Demikianlah yang terjadi di dalam Gereja Katolik, patung-patung dibuat hanya untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah. Dengan demikian, sebenarnya menjadi sangat jelas bahwa baik umat Katolik maupun umat lainnya hanya memuja Tuhan yang satu dan sama, dan sama-sama menentang penyembahan patung berhala.

Hal ini juga menandakan bahwa segala anggapan yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik menyembah ‘patung’ hanya karena mereka memiliki patung Yesus, patung Maria, dan patung santo-santa sangatlah tidak tepat sebab orang Katolik tidak menghormati apalagi menyembah patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalam patung itu.

Perlu diketahui, orang Katolik tidak menyembah patung, juga tidak menghormatinya. Bukan patungnya, tapi dia yang digambarkan lewat patung itulah yang disembah (Yesus) dan dihormati (santo-santa). Bahwasanya Anda melihat orang Katolik membungkuk di depan patung, berdoa di depan patung, atau berlutut di depan patung, itu ekspresi dalam berdoa saja. Sama halnya ketika ibu kita menangis di depan foto anaknya tatkala anaknya itu sudah lama tidak pulang ke rumah, apakah dia menangisi fotonya? Tidak kan? Dia menangisi anaknya yang ada di seberang sana. Demikianlah juga dengan orang Katolik. Bukan patungnya atau gambarnya, tapi sosok di balik patung dan gambar itu, dialah yang kita sembah (Tuhan) dan hormati (santo-santa).

Sekali lagi, dalam Gereja Katolik, patung tidak dibuat untuk disembah, melainkan sebagai benda rohani. Kalaupun umat Katolik berdoa di depan patung atau mencium salib Yesus, itu sama sekali tidak bermaksud untuk menyembah patung atau salibnya. Yang disembah adalah Dia yang berada di balik patung itu. Patung hanya sebagai sarana untuk menunjukkan kehadiran dari Dia yang transenden itu ke tengah-tengah kita (Tuhan). Bandingkan dengan perintah pembuatan patung kerub dan patung ular tembaga tadi. Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk membuatkan patung-patung itu untuk menunjukkan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat Israel; sehingga patung-patung itu berfungsi sebagai benda rohani bagi mereka.

Kita memerlukan benda-benda rohani seperti itu; karena bagaimanapun, doa membutuhkan konsentrasi. Dalam berdoa, imajinasi kita mesti diarahkan dengan baik supaya fokus. Nah, salah satu caranya adalah dengan menggunakan sarana-sarana seperti patung atau foto. Jadi, jelaslah, kita tidak menyembah patung atau foto.

Lalu, bagaimana dengan patung Maria dan patung santo-santa? Perlu ditegaskan bahwa orang Katolik tidak menyembah Maria, tetapi menghormati Maria. Ya, kita menghormati Maria sebagai ‘Ibu Tuhan’ sebagaimana dikatakan oleh Elisabet ketika Maria pergi mengunjungi Elisabet. Nah, jika ibu kita sendiri saja kita hormati, apalagi ibu Tuhan.

Kalau begitu, apakah orang Katolik menghormati patung Maria? Sekali lagi, bukan patungnya yang dihormati, tetapi Maria yang ditunjukkan lewat patung itu. Orang Katolik tahu bahwa patung itu benda mati, yang sewaktu-waktu bisa rusak dan dihancurkan. Orang Katolik menghormati pribadi Maria yang ada di balik patung itu.

Sama halnya seperti ini: “Apakah kita menghormati kain ketika kita mengarahkan hormat kita ke bendera merah putih pada saat upacara bendera? Tentu tidak kan? Kita tidak menghormati kain bendera, tetapi kita menghormati jasa para pahlawan yang berhasil memperebutkan kemerdekaan; dan jasa mereka itu dilambangkan dengan bendera merah putih”.

Begitu juga ketika orang tua berdoa di depan foto anaknya yang meninggal. Apakah orang tua itu berdoa untuk atau kepada foto itu? Tentu saja TIDAK. Orang tua itu mendoakan anak mereka yang berada di balik foto itu. Foto itu digunakan hanya sebagai sarana untuk membantu imajinasi mereka; sehingga doa mereka khusuk dan terarah pada anak mereka yang meninggal itu.

Dengan demikian, anggapan yang mengatakan bahwa orang Katolik menyembah ‘patung’ hanya karena mereka memiliki patung Maria dan patung santo-santa sangatlah tidak tepat; sebab orang Katolik tidak menghormati apalagi menyembah patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalam patung itu.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here