Kita Dikagumi karena Pelayanan

0
81
Gambar ilustrasi oleh sabineoesterlin / Pixabay
    • (Renungan RD. Polce Lewar dalam misa Kamis Putih di Komunitas Semanari Tinggi Interdiosesa St.Petrus Ritapiret, 18/042019)

Bapa, ibu, saudara-saudariku sekalian yang terkasih dalam Tuhan.
Hari Kamis putih merupakan hari penuh syukur sebab kita diajak untuk merayakan kenangan akan Yesus yang makan bersama para murid dalam kelompok keduabelasan. Sebuah acara makan bersama untuk yang terakhir kalinya, maka gereja pun layak menamakan malam makan bersama ini, sebagai Malam Perjamuan Terakhir. Apa yang dilukiskan oleh Penginjil Yohanes dalam bacaan tadi, sebenarnya mengacu pada adat kebiasaan orang-orang Yahudi. Nenek moyang mereka, selalu merayakan upacara persembahan anak domba untuk menghalau roh-roh jahat dan menghapus dosa-dosa anggota keluarga.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah mengalami ziarah pembebasan dari perbudakan di Mesir, korban anak domba dan upacara makan roti tak beragi, lebih dilihat sebagai upacara kenangan akan pembebasan dari perbudakan, dan akan perjanjian Tuhan yang bersifat kekal. Yesus pada malam perjamuan akhir, juga melakukan hal yang sama. Ada roti dan anggur sebagai santapan bagi para murid. Akan tetapi, walaupun tujuan dari makan bersama kali ini adalah untuk mengenangkan peristiwa keselamatan yang dilaksanakan Allah bagi manusia, namun Yesus sungguh menyadari bahwa anak domba yang akan dikorbankan, tidaklah lagi pada domba-domba piaraan melainkan diriNya sendiri. Maka pantaslah kepada para muridNya, Ia berujar: “ambillah dan makanlah, inilah tubuhKu,… Minumlah kamu semua dari cawan ini sebab inilah darahKu” (Mat 26 : 26-29).

Yesus menunjukkan identitas kemesiasanNya yang datang melayani manusia yang berdosa agar memperoleh pengampunan dan pembebasan. Dan Yesus, pada malam perjamuan akhir, sungguh menjadikan diriNya sebagai seorang Hamba, seorang pelayan. Saat hendak membasuh kaki para murid, Petrus yang sungguh mengenal adat kebiasaan Yahudi, lantas berujar heran: “Tuhan, Engkau hendak membasuh Kakiku ?” Petrus pantas heran sebab pekerjaan membasuh kaki merupakan tindakan yang dianggap hina. Bahwasannya tindakan membasuh kaki cumalah pekerjaan kotor dari para hamba sahaya, kepada seorang majikan. Yesus bukannya tidak tahu, apa yang menjadi adat kebiasaan orang-orang Yahudi. Yesus bukannya tidak tahu bahwa pekerjaan yang Ia lakukan merupakan pekerjaan kotor dari orang-orang hina di masyarakat.

Bagi Yesus, tindakan membasuh kaki adalah sebuah ajaran, sekaligus merupakan pertanggungjawaban dari apa yang pernah disabdakanNya : “Aku datang untuk melayani bukan untuk dilayani’. Di sini, Yesus menunjukkan tanggung diri-Nya sebagai seorang Hamba yang rela melayani sampai total, dengan tulus iklas tanpa pamrih, biar pekerjaan itu dianggap hina dan kotor sekalipun.

Malam ini kita merayakan malam perjamuan terakhir, maka sebenarnya kita diajak untuk menjadi pelayan bagi sesama. Kita melayani tanpa membeda-bedakan suku, martabat atau status sosial. Kini, banyak orang punya kedudukan dan nama besar dalam masyarakat namun sering menjadi cibiran orang sebab status yang terhormat dan kedudukan yang empuk tidak dipakai untuk melayani dan mengabdi kepada sesama. Kalau dalam bacaan tadi Yesus bilang : “Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”, maka kini kita diajak untuk melakukan karya melayani, mencinta dan mengasihi bagi orang-orang, dimana kaki kita berdiri dan ke mana mata kita memandang sebab tiada orang yang lebih dikagumi selain dia, yang karena karya-karya pelayanannya membuat orang berhutang budi kepadanya. Mudah-mudahan.

Saat ini, sy berdomisili di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, calon imam keuskupan Ruteng. Mahasiswa STFK Ledalero. Dipercayakan menjadi ketua redaksi majalah Biduk milik Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada tahun 2016-2018, menjalankan tahun orientasi pastoral di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here