Tubuh Telanjang

0
73
MichaelGaida / Pixabay

Tubuh telanjang adalah renungan singkat perhentian ke-10 dalam jalan salib Jumat Agung yang dibawakan oleh Fr. Yonas Unarajan (Frater Tahun Orientasi Rohani) di Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret-Maumere (Jumat, 19 April 2019)

Para Romo, para Suster, para Frater dan umat beriman yang terkasih dalam Kristus yang tersalib. Ketelanjangan Yesus karena kekejaman para Algojo, menarik kita untuk kembali sejenak merenungkan kejatuhan manusia pertama. Ular musuh yang begitu licik dan sekaligus begitu berbahaya dijadikan lambang penggoda manusia pertama. Ular lambang kejahatan.

Manusia pertama tunduk tak berdaya dalam ketelanjangannya akibat dosa yang telah dibuatnya, berusaha menyemat daun ara untuk sejenak menatap Allah, di balik semak persembunyiannya karena malu. Keindahan manusia pertama tercopot habis.

Manusia pertama jatuh ke dalam lumpur dosa karena mengklaim dan ingin menobatkan dirinya sebagai dewa dan menggantikan Allah seperti halnya upacara kafir Palestina merupakan kelicikan ular. Aksi manusia pertama ini merupakan suatu bentuk reaksi kecurigaan manusia terhadap Kemahakuasaan Allah. Manusia menolak dan bahkan ingin melawan firman yang diucapkan Allah sang Pencipta. Dengan demikian, secara sadar manusia memutuskan relasinya dengan Allah, sang sumber keindahannya. Alhasil yang tampak adalah budaya kematian yang dihidupi manusia, bukan budaya kehidupan. Manusia akan menemukan duri dan derita bukan kesuburan penuh sukacita.

Ketelanjangan Yesus di muka umum karena kekejaman para Serdadu bengis mengajak kita untuk berani menanggalkan pakaian kemanusiaan lama kita yang penuh dengan noda dosa, terutama tegar tengkuk akan Firman Allah. Dengan menanggalkan kemanusiaan lama kita, kita akan dilahirkan kembali dengan air dan darah Yesus sendiri dan boleh didandani dengan anugrah Ilahi dan menatap Firdaus kembali, kesuburan penuh sukacita Paskah. Amin

Saat ini, sy berdomisili di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret-Maumere, calon imam keuskupan Ruteng. Mahasiswa STFK Ledalero. Dipercayakan menjadi ketua redaksi majalah Biduk milik Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada tahun 2016-2018, menjalankan tahun orientasi pastoral di SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here