Not Action Talk Only (NATO)

0
83
geralt / Pixabay

Manusia beragama dimaksudkan supaya mampu hidup dalam damai dengan sesama dan semua ciptaan. Dalam agama juga  diatur norma-norma tertentu sehingga seseorang dituntut untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam agama diajarkan untuk mengampuni dan mendoakan musuh.

Tentu anda dan saya patut berbangga karena Indonesia, termasuk Negara dengan populasi penduduknya memeluk suatu agama, bukan? Ya saya juga bangga. Orang-orang beragama di Indonesia sangat rajin beribadah. Bahkan mungkin mengalahkan semangat untuk mengamalkannya. Oleh sebab itu dalam tindakan dapat diberi nilai 0 (nol besar).

Agama lebih sering digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan kemunafikan dan kebusukan. Bahkan agama dijadikan alat untuk membenci dan membunuh sesame. Tidak hanya itu, agama bahkan diperkosa demi menjatuhkan lawan politik. Seketika ayat-ayat ‘suci’ itu menjadi mantra kebencian, melebihi ayat-ayat ‘setan’.

Anehnya, sebagian orang Indonesia mengecap negara lain sebagai negara atheis atau kafir. Padahal Negara yang dicap kafir dan atheis lebih agamis tindakannya daripada orang-orang yang menganggap diri paling ‘agamis’ itu. Mungkin karena merasa diri “tuhan” meskipun perbuatan hantu yang dilakukan.

Bahkan, orang-orang di negara yang dicap sebagai atheis dan kafir mempunyai jasa yang besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan justru hasilnya dinikmati oleh orang-orang yang mencap mereka sebagai kafir dan atheis, terutama di Indonesia. Sementara mereka yang menyebut diri beragama masih berbicara sebatas teori.

Di Indonesia, agama dan kemunafikan masih melekat dan satu paket, sehingga banyak orang menjadi ‘tuhan’ atas dirinya dan atas sesamanya. Tidak heran jika salah satu filsuf mengatakan bahwa agama adalah “candu”. Dalam konteks tertentu pendapat sang filsuf dapat dibenarkan, terutama berkaitan dengan orang-orang yang memperkosa agama demi kekuasaan. Maka tidak heran jika sebagian orang beragama dalam pengamalannya Not Action Talk Only (NATO).

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here