Spiritualitas Pemimpin Kristiani

0
98
Uce / Pixabay

Kisah pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Yesus merupakan kisah populer. Setiap perayaan Kamis Putih dibacakan, sekaligus dipraktekkan sebagaimana perintah Yesus sendiri. Tindakan simbolis pembasuhan kaki yang dipraktekkan memiliki makna. Tidak hanya sebagai simbol, melainkan suatu ajakan untuk melakukan tindakan nyata. Berikut adalah perikop Injil Yohanes 13:1-17 yang dibacakan pada perayaan Kamis Putih:

 Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bacaan Kamis Putih di atas setidaknya mempunyai beberapa makna yang dapat menjadi tuntunan bagi umat beriman antara lain:

Pertama, tindakan Yesus yang menanggalkan jubah merupakan tindakan menanggalkan kekuasaan, hormat dan keagungan. Yesus menanggalkan kekuasaan, hormat dan keagungan untuk menyelamatkan manusia. Tindakan yang dilakukan Yesus hendak menyadarkan kita untuk menanggalkan jubah kekuasaan yang kita miliki dan bersedia menjadi pelayan. Menanggalkan segala pernak-pernik dan sekat-sekat yang menghalangi umat beriman dalam melaksanakan pelayanan demi harkat dan martabat manusia. Selain itu, Yesus hendak menunjukkan pula bahwa kekuasaan itu bersifat sementara, sedangkan tindakan pelayanan terhadap sesama bersifat baka.

Kedua, Yesus mengikat pinggang dengan sehelai kain lenan. Tindakan Yesus yang mengikat pinggang-Nya merupakan tindakan mengikat ego, ambisi, dan ke-aku-an. Yesus tidak lagi berpusat pada diri-Nya sendiri (ke-aku-an) melainkan ia menjadi roti/hosti dan anggur yang dibagikan dan dipecahkan untuk semua orang. Dengan demikian, Yesus hendak mengajak umat beriman untuk menjadi berkat bagi semua orang, seperti roti/hosti dan anggur (tubuh dan darahnya) yang dibagikan.

Ketiga, Yesus membasuh kaki para murid. Membasuh kaki merupakan pekerjaan seorang hamba, Oleh sebab itu tidak heran jika Petrus menolak dengan memberikan pertanyaan. Namun Yesus ‘melawan arus’ pengertian duniawi tentang pekerjaan seorang hamba. Yesus justru mengatakan bahwa ‘barangsiapa yang terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu/hamba’. Oleh sebab itu, seorang pemimpin diajak untuk menjadi hamba dan pelayan bagi semua orang. Pemimpin harus memiliki spiritualitas ‘turun’ dari singgasana dan menjadi pelayan bagi semua.

Keempat, bersyukur. Petrus meminta agar Yesus membasuh tangan dan kepalanya. Tindakan tersebut merupakan tanggapan atas ketidaktahuan Petrus tentang makna dari tindakan Yesus. Sesungguhnya Yesus hendak mengajak Petrus untuk menyelami makna terdalam dari tindakan-Nya. Tetapi Petrus malah salah kaprah sehingga ia meminta agar Yesus membasuh kepala dan tangannya. Umat beriman diajak untuk bersyukur atas keselamatan yang telah diberikan oleh Yesus melalui tindakan dan karya-Nya. Selain itu, umat beriman diajak agar menyelami makna dari setiap peristiwa hidupnya. Yesus mengetahui diri kita seutuhnya, tanpa kita ‘menggurui’ Tuhan dalam doa-doa dan permohonan kita.

Kelima, Meneladani Yesus. Yesus  mengajak pengikutnya untuk menjadi pemimpin yang melayani, rendah hati dan murah hati seperti diri-Nya sendiri.

 

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Penulis adalah alumnus Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta, jurusan Ilmu Pendidikan Teologi. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here