Katolik Menjawab: Surat kepada Orang Ibrani Tidak Ditulis Oleh Paulus

2
1056
HarryFabel / Pixabay

Hampir tidak ada satu pun orang yang bisa memastikan siapa nama penulis dari ‘surat kepada orang Ibrani’; karena berbeda dengan kitab-kitab lain pada umumnya, surat ini tidak mencantumkan nama penulisnya.

Memang, pada abad-abad pertama kekristenan hingga Abad Pertengahan, ada banyak orang meyakini bahwa surat itu ditulis oleh Rasul Paulus, meskipun tidak seperti biasanya, pada bagian pendahuluan dari surat itu tidak dimulai dengan nama Paulus, seperti surat-surat Paulus lainnya. Namun, pendapat seperti itu tidak dapat dipertahankan; sebab semenjak   zaman   Reformasi Gereja,   secara   luas diketahui bahwa Paulus bukanlah penulis dari surat itu.

Origenes (hidup pada abad ke-2 M) adalah satu dari sekian banyak orang yang yakin betul bahwa Pauluslah yang menulis surat itu. Namun, ia juga memberikan sedikit catatan dan penjelasan bahwa mungkin surat itu tidak ditulis langsung oleh tangan Paulus, tapi boleh jadi ditulis oleh seorang editor dari ide-ide Rasul Paulus. Artinya, semua hal yang dituliskan di dalam surat itu berasal dari Rasul Paulus; hanya saja, bahasa dan komposisinya merupakan karya seseorang yang lain yang menuliskan pemikiran-pemikian dan perkataan Rasul Paulus itu. Namun, akhirnya, Origenes sendiri tidak bisa mempertahankan pandangannya, sehingga ia pun berkata: “Nama sebenarnya dari penulis Ibrani hanya diketahui oleh Tuhan”.

Ada dua alasan atau keberatan mengapa Rasul Paulus bukan penulis dari ‘Surat kepada Orang Ibrani’: Pertama, gaya penulisan dari surat ini berbeda sekali dengan gaya penulisan yang biasa digunakan oleh Paulus. Paulus tentu saja mempunyai gaya penulisan yang khas, yang tidak kita temukan di dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani’. Kedua, ada keterangan di dalam surat ini yang menyebutkan bahwa si penulis adalah orang yang menerima perkataan Kristus dari orang lain (Ibr. 2:3), padahal Paulus sendiri pernah mengaku sebagai saksi mata yang telah melihat Yesus secara langsung, dan dengan demikian memiliki status yang sama dengan rasul-rasul yang lain.

Maka, atas dasar berbagai pertimbangan, akhirnya para pakar modern sepakat bahwa memang tidak ada kepastian mengenai siapa penulis dari surat ini. Tapi yang jelas, penulisnya adalah seseorang yang sudah dikenal luas di kalangan penerima surat. Mereka kemudian mengambil kesimpulan bahwa besar kemungkinan penulisnya adalah seorang rasul atau seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan rasul-rasul. Kesimpulan itu ditarik dari ayat berikut: “Ketahuilah, bahwa Timotius, saudara kita, telah berangkat. Segera sesudah ia datang, aku akan mengunjungi kamu bersama-sama dengan dia” (bdk. Ibr. 13:23).

Dari judulnya saja kita dapat langsung tahu bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang berlatarbelakang Yahudi. Apalagi, dari isi suratnya kita juga dapat memastikan bahwa orang-orang yang mana surat ini ditulis, sangat dekat dengan keyahudian. Indikasi yang menunjukkan bahwa surat ini ditulis kepada orang Kristen berlatarbelakang Yahudi adalah adanya tekanan terhadap peran Yesus sebagai imam.

Penulis surat ini tampaknya berada di Italia. Hal itu kita ketahui dari adanya penggunaan frasa ‘dari Italia’ pada surat itu. “Sampaikanlah salam kepada semua pemimpin kamu dan semua orang kudus. Terimalah salam dari saudara-saudara di Italia” (Ibr. 13:24). Adanya penggunaan frasa itu juga menunjukkan kepada kita bahwa surat itu ditujukan kepada mereka yang berada di luar Italia, yaitu kepada mereka yang membutuhkan nasihat, bimbingan, dan penghiburan.

Seperti sudah disebutkan di atas bahwa ‘Surat kepada Orang Ibrani’ ditulis kepada para anggota Gereja yang berlatarbelakang Yahudi. Tujuannya untuk memberitahu mereka bahwa aspek-aspek penting dari hukum Musa telah digenapi di dalam Kristus; dan bahwa Injil Kristus telah menggantikan hukum Musa itu. Penulis surat ini berusaha mendorong pembacanya supaya tetap menaruh percaya pada Tuhan. Untuk itu, ia menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah pernyataan Tuhan yang sempurna.

Adapun garis besar dari isi surat Ibrani adalah sebagai berikut: Bab 1 dan 2 menjelaskan bahwa Yesus adalah Putra Allah yang dulu menciptakan dunia, kemudian melakukan penyucian dosa, dan akhirnya duduk di sebelah kanan Bapa. Juga mengajarkan bahwa Kristus lebih besar dari para malaikat. Bab 3–7 membandingkan antara Yesus dengan Musa dan dengan hukum Musa, serta bersaksi bahwa Dia lebih besar dari keduanya. Juga mengajarkan bahwa Imamat Kristus lebih tinggi daripada Harun.

Bab 8–9 menguraikan tentang bagaimana Musa mempersiapkan pelayanan Kristus; dan bagaimana Kristus telah datang sebagai seorang perantara perjanjian yang baru. Bab 10-13 menjelaskan tentang pentingnya iman sebagai dasar hidup setiap orang Kristen, ajakan agar umat tetap bertekun dalam iman, ajakan agar umat memelihara kasih persaudaraan, menedalan para pemimpin yang baik dan taat kepada mereka, doa dan beberapa catatan (yakni bahwa penulisnya akan mengunjungi umat Ibrani), dan penutup.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

2 COMMENTS

  1. Bagiku, Surat Ibrani jelas bukan ditulis oleh Paulus, karena uraian Pasal 7 tentang Melkisedek , tdk pernah disinggung dalam surat Paulus lainnya.
    Surat Paulus pada umumnya mempertentangkan : 1. Hukum Taurat dan Kasih, 2. Iman dan perbuatan, 3. Roh dan Daging.
    Gb u all.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here