Martin Luther: Maria adalah ‘Ratu’

4
1797
Didgeman / Pixabay

Banyak aliran masa kini merasa terganggu jika menyebut nama Maria, Bunda Yesus dalam sebuah perkumpulan. Mereka langsung tertuju pada ‘prasangka’ bahwa tindakan itu akan menduakan Yesus. Bahkan mereka tertuju pada ‘prasangka’ bahwa itu tergolong sebagai penyembahan kepada Maria, Bunda Yesus.

Tentu saja pikiran semacam ini sangatlah sempit dan picik, karena tidak bertanya kepada sumber awal kekristenan atau kepada induk dari aliran-aliran itu, yang justru lebih mengenal dan memahami iman Katolik dengan benar. Salah satu yang perlu mereka pahami adalah pendapat pendahulu dari Protestan (1517) tentang Maria, ibu Yesus. Penganut-penganut Protestan awal sangat mengenal iman Katolik dengan benar bahkan mengakuinya. Namun aliran-aliran masa kini yang terus berkembang karena perpecahan membuat ajaran tanpa ada kendali dan patokan yang jelas dan baku. Berikut adalah pendapat atau sanjungan Martin Luther terhadap Bunda Maria, ibu Yesus.

“Apakah persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan ke¬agungan ini tak akan pernah cukup dipuji”.

Kemudian Martin Luther melanjutkan sanjungan itu: “Sungguh pantas apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber¬seru: “Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia” tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.

Lantas Martin Luther mengutip Nyanyian Pujian Maria untuk menunjukkan betapa Maria layak dihormati. “Melalui perkataannya sendiri dalam Magnificat (Lukas 1:46-55), dan melalui pengalamannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah… Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam sebuah kalimat: “Bunda Allah”. Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di Pohon, rumput di padang, bintang di langit atau pasir di lautan, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria. Perlu direnungkan dalam hati apakah artinya menjadi seorang Bunda Allah”.

Referensi

  1. William Johnston SJ. Mistik Kristiani. Sang Rusa Terluka. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 1987.
  2. Frans Harjawiyata OCSO. Kehidupan Devosional Dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama 1993.
  3. Alexander Roman. Orrologion. Martin Luther on the Mother of God. Dalam http://orrologion.blogspot.com/2006/01/martin-luther-on-mother-of-god.html.
avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

4 COMMENTS

  1. Trm kasih
    Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Kita mohon di doakan Maria bukan menyembahnya. Begitu ksli?

  2. Saya Katolik, setuju dengan pengantar di atas, pertanyaan, tulisan Marthin Luther itu, apakah setelah dia keluar dari Katolik atau sebelumnya?

    • Martin Luther baik sebelum dan setelah keluar dari GK tidak pernah mengkritik ajaran tentang Maria dalam Gereja Katolik. Bahkan tulisan-tulisannya itu tetap beredar tanpa ada tindakan untuk memusnahkannya.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here