Katolik Menjawab: Kita Patut Belajar dari 4 Keutamaan Bunda Maria

0
901
Gambar ilustrasi oleh Cbdlq / Pixabay

Nama Maria, Ibu Yesus, memang jarang disebut di dalam Kitab Suci. Hanya beberapa kali dan pada beberapa peristiwa saja namanya disebut; tapi tidak berarti perannya tidak penting. Peran Bunda Maria sangatlah penting, terutama melahirkan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita.

Bunda Maria dipilih oleh Allah di antara para wanita. Ia menjadi wanita yang ‘terpuji’ di antara kaumnya itu. Tentu saja pemilihan oleh Allah itu bukan tanpa dasar. Dasarnya adalah: Bunda Maria dipandang layak oleh Allah untuk menyandang status sebagai ‘Ibu’ bagi Putra-Nya.

Ada banyak keutamaan hidup yang dimiliki oleh Bunda Maria; dan pada bulan ini secara khusus kita mau belajar darinya. Keutamaan pertama yang dimiliki oleh Bunda Maria adalah kepasrahan pada kehendak Allah.

Ketika ia dikunjungi oleh Malaikat Gabriel; dan malaikat itu memberitakan kabar mengejutkan kepadanya, mengenai kelahiran Yesus, ia hampir tidak percaya. Makanya, ia berkata kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34).

Sebagai seorang gadis, Maria tentu saja mempunyai sejuta mimpi. Ia juga pasti tahu resikonya jika dirinya ketahuan hamil di luar perkawinan; tapi toh ia mengorbankan mimpinya dan memberanikan dirinya untuk berkata ‘YA’ terhadap permintaan malaikat itu. Ia pasrah pada kehendak Allah. Ia pun berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Dalam beriman, kita meniru Bunda Maria. Ciri utama dari orang beriman seharusnya adalah seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria, yaitu membiarkan segala sesuatunya terjadi seturut kehendak Tuhan, bukan kehendak kita sendiri. Orang beriman harus berpasrah kepada Tuhan. Jika kita belum bisa berpasrah kepada Tuhan dan masih menuntut agar Tuhan mengikuti kemauan kita, maka sudah saatnya kita belajar dari Bunda Maria.

Keutamaan kedua yang harus kita teladani dari Bunda Maria adalah soal kerendahan hati. Sekalipun Bunda Maria dipilih oleh Allah menjadi wanita terpuji di antara semua wanita, ia tidak ‘besar kepala’. Ia justru berkata: “Aku ini adalah hamba Tuhan”. Ia tidak merasa paling suci dan paling benar. Kesombongan rohani tidak ada pada Maria.

Kita juga perlu rendah hati seperti Bunda Maria. Kedekatan kita dengan Tuhan jangan sampai membuat kita ‘besar kepala’ dan merasa paling suci di antara yang lain. Itu namanya kesombongan rohani. Kita harus tetap rendah hati. Justru makin kita rajin berdoa, makin kita religius, makin kita dekat dengan Tuhan, sudah seharusnya kita makin rendah hati.

Keutamaan ketiga adalah percaya sungguh-sungguh pada Yesus. Ketika Bunda  melihat bahwa tuan pesta di Kana mengalami kekurangan anggur, ia meminta Yesus supaya membantu tuan pesta itu. Tapi apa yang terjadi? Yesus berkata kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Mendengar perkataan Yesus itu, Bunda Maria bukannya diam, tetapi justru berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:4-5).

Hal itu dilakukan oleh Bunda Maria karena ia sangat percaya kepada Yesus, putra-Nya. Ia juga tahu bahwa Yesus pasti akan menerima permintaannya; dan betul terjadi demikian. Yesus menyuruh para pelayan menyiapkan tempayan-tempayan berisi air; dan air-air dalam tempayan itu seketika berubah menjadi anggur yang terbaik. Nah, ini mengajarkan kepada kita bahwa kita perlu mempunyai iman sebesar iman Maria itu supaya hal-hal yang kita harapkan bisa terjadi di dalam kehidupan kita.

Keutamaan keempat yang kita teladani dari Bunda Maria adalah soal kesetiaan. Kita belajar setia dari Bunda Maria. Bunda Maria setia menemani putra-Nya mulai dari kandang hina di Betlehem sampai di bukit tengkorak di Golgota. Tatkala murid-murid lari meninggalkan Yesus karena takut terhadap para prajurit, Bunda Maria tetap tak gentar berdiri di bawah kaki salib putra-Nya. Nah, teladan seperti inilah yang mau kita tiru dari Bunda Maria.

Kita belajar dari Bunda Maria supaya bisa setia dalam iman akan Yesus, putra-Nya. Apapun tuntutan dan tantangan yang kita hadapi dalam mengimani Yesus, seberat apapun tuntutan dan tantangan itu, jangan putus asa, apalagi sampai lari dari-Nya. Bunda Maria sudah memberi kita contoh yang baik untuk itu. Kita harus tetap teguh berdiri sampai akhirnya Tuhan Yesus sendiri menjemput kita kembali untuk dibawa-Nya ke rumah Bapa di surga.

Itulah empat keutamaan yang bisa kita tiru dari Bunda Maria. Semoga kita semua dapat meneladani Bunda Maria, terutama pada bulan yang secara khusus didedikasikan kepadanya ini; agar kita boleh menjadi orang-orang Katolik yang baik dan benar. Amin.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here