Katolik Menjawab: Apa yang Dinyatakan Halal oleh Allah, Tidak Boleh Engkau Nyatakan Haram!

4
2419

Beberapa waktu yang lalu, saya menulis di sini satu artikel yang nadanya kurang lebih sama dengan apa yang saya tulis sekarang, yaitu mengenai ‘tidak adanya jenis makanan yang haram di dalam ajaran Gereja Katolik’. Dasarnya adalah perkataan Tuhan Yesus sendiri.

Tuhan Yesus berkata: “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:11). Jadi, bagi Yesus, tidak ada makanan yang haram; yang haram dan menajiskan orang adalah apa yang keluar dari hatinya; sebab dari sana lahir rasa iri, dengki, benci, amarah, dendam, dan sebagainya.

Memang, sebelumnya, Kitab Suci Perjanjian Lama menyebut deretan binatang yang haram dan halal. Tetapi, hal itu harus dibaca dan dimengerti dalam konteksnya. Pembahasan yang rinci tentang hal tersebut bisa dibaca di dalam artikel terdahulu. KLIK linknya di sini.

Paulus, dalam pengajarannya, mengikuti jalan pemikiran Yesus. Paulus berkata: “Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:14-17).

Berbeda dengan Paulus yang memberikan penjelasan atas pengajaran Yesus, Rasul Petrus justru mengalami penglihatan. Diceritakan dalam Kis. 10:10-16 bahwa suatu ketika Petrus merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.

Nah, pengajaran Yesus, ditambah dengan penjelasan dari Paulus dan penglihatan dari Petrus itulah yang mendasari sikap Gereja Katolik tentang makanan. Gereja Katolik mengajarkan: pertama, bukan soal apa yang masuk yang menajiskan kita (lih. Mat. 15:11), sehingga, makanan apapun (asalkan dari segi kesehatan layak dimakan) dapat kita makan, termasuk di dalamnya daging babi. Kedua, namun jika dengan memakan daging babi itu kita menjadi batu sandungan bagi orang lain [terutama bila sedang makan di hadapan orang-orang yang mengharamkan babi], maka sebaiknya kita tidak makan daging babi (lih. Rom. 14:21).

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

4 COMMENTS

  1. Maaf sebelumnya, sya mau brtanya ttg hal makanan halal & haram.. Yesus disebutkan hadir di dunia bukan utk menghapus ajaran dalam perjanjian lama, tetapi menggenapkan ajaran2 tsb & tidak ada dalil yg mnyebutkan Yesus memakan hewan2 seperti babi maupun binatang melata.. Mohon penjelasannya kalo seandainya sya keliru.. Trims 🙏🙏

    • Terima kasih atas pertanyaannya. Betul sekali bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk menghapus hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Dan memang, sama sekali tidak ada pertentangan antara perkataan Yesus dengan peraturan dan larangan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama; sebab Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat. Penggenapannya itu mencakup mempertahankan Hukum Taurat dalam hal moralitasnya (hukum moral dalam sepuluh perintah Allah), namun berbagai ketentuan lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan hukum moral itu, tidak diberlakukan lagi dengan cara yang sama seperti dalam Perjanjian Lama. Ada tiga macam hukum dalam Perjanjian Lama, yakni Moral Law (hukum moral), Ceremonial Law (hukum seremonial), dan Judicial Law (hukum yudisial). Hukum Taurat yang tidak berubah adalah hukum moral (misalnya sepuluh perintah Allah), sedangkan hukum dan peraturan yang bersifat ceremonial law dan judicial law harus dilakukan dalam terang Perjanjian Baru. Nah, mengenai makan darah dalam Perjanjian Lama itu termasuk ‘ceremonial law’ sehingga sejak kedatangan Yesus, hukum itu tidak berlaku lagi. Memang Kitab Suci tidak memberi data yang detail soal hidup dan karya Yesus, apalagi menyangkut aktivitas rutin seperti makan, minum, dsb. Tapi hal itu jelas alasannya. Alasannya bisa ditemukan di dalam Injil Yohanes 21:25, yang berbunyi: ” Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” Kiranya masih belum jelas, bisa diklarifikasi kembali di sini. Trims.

  2. Romo, di kisah para rasul sesudahnya, pada Bab 21:25 masih ada yg disebut “haram” yakni: yakni 1. makanan yg dipersembahkan pada berhala, 2.darah, 3.daging binatang yang mati dicekik. Jadi gimana… Kata Yesus semua yg masuk tak bikin najis, krn akan jadi feses. Tapi ada ketentuan menjauhkan diri dari makanan “haram” di kisah para rasul. Mohon penjelasan Romo Jufri Kano Terimakasih banyak. Berkah dalem.

    • Terima kasih atas pertanyaannya. Konteks dari ayat itu adalah kedatangan Paulus ke tengah-tengah komunitas Yahudi, setelah dirinya ‘berhasil’ mempertobatkan banyak orang non-Yahudi. Paulus mempunyai misi untuk juga memperkenalkan Kristus di antara orang Yahudi dan dia mau supaya mereka menerima Yesus. Tapi ada satu kendala, yaitu adanya rumor tak sedap ttg Paulus, yaitu bhw dirinya tidak menjalankan hukum Musa (ayat 21). Tentu jika rumor ini benar adanya, maka akan menjadi batu sandungan bagi karya misinya. Makanya, orang-orang mengusulkan agar Paulus meluruskan romor itu dengan cara mengikuti upacara pentahiran (seperti orang Yahudi pada umumnya) dan orang Kristen non-Yahudi tdk blh makan makanan spt yang disebutkan itu seperti adat istiadat Yahudi (ayat 23). Dengan cara itu, maka orang Yahudi yang ingin menjadi pengikut Yesus tidak merasa enggan, karena harus meninggalkan tradisi-budayanya. Kita mesti ingat bahwa yang kita bicarakan ini adalah komunitas transisi dari Yahudi menjadi Kristen. Butuh waktu dan proses yang lama untuk mengubah mereka ‘pure’ Kristiani. Maka, spy tidak menjadi batu sandungan, lebih baik mengikuti pintu mrk sambil perlahan-lahan diajarkan ajaran Yesus, sehingga nantinya bisa keluar lewat pintu kita. Itulah sebabnya juga hari ini kita mengenal istilah ‘inkulturasi’. Tentu saja dengan pertimbangan: sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran Yesus.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here