Jangan Mengaku Kristen Kalau Tidak Mau Mengasihi

0
319
Gambar ilustrasi oleh pasja1000 / Pixabay

Jangan Mengaku Kristen Kalau Tidak Mau Mengasihi: Renungan Harian Katolik, Minggu 19 Mei 2019 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 13:31-33a, 34-35

Kita pasti sudah sering mendengar orang berbicara soal ‘wasiat’ atau ‘pesan terakhir’. Dikatakan sebagai ‘pesan terakhir’ karena biasanya pesan seperti ini hanya disampaikan pada saat-saat terakhir menjelang seseorang hendak menemui ajalnya. Kita mungkin mendengarnya dari keluarga kita, dari orang tua kita, dari sahabat kita, dari kenalan kita, atau dari siapa saja yang pernah kita jumpai.

Dalam masyarakat kita, ada keyakinan bahwa yang namanya ‘wasiat’ atau pesan terakhir itu, jangan pernah diabaikan. Kita tidak boleh melupakan begitu saja wasiat yang kita terima. Pokoknya, apapun isinya, entah mudah dilakukan atau sulit diwujudkan, setiap isi wasiat harus dipenuhi oleh si penerima wasiat. Jika tidak, maka akan terjadi sesuatu pada si penerima wasiat.

Hari ini, kita mendengar Tuhan Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Penginjil Yohanes mencatat bahwa perkataan Yesus tentang kasih ini disampaikan pada saat malam Perjamuan Terakhir. Dengan kata lain, kata-kata ini merupakan wasiat dari Yesus.

Apa yang akan terjadi jika wasiat dari Tuhan Yesus ini tidak dijalankan? Kita tidak dikenal sebagai murid Yesus; sebab sejatinya Tuhan Yesus berkata: “Dengan demikian (artinya dengan saling mengasishi di antara kita) maka semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35). Maka, bagi kita, kasih itu merupakan penanda identitas kita sebagai pengikut Kristus. Jika kita tidak saling mengasihi, orang tidak akan tahu bahwa kita adalah murid-murid Yesus.

Ingat, Yesus tidak mengatakan “Inilah usulan-Ku atau Inilah anjuran-Ku” atau “Inilah ajakan-Ku”. Tidak. Ia tidak berkata demikian. Ia berkata: “Inilah perintah-Ku”. Artinya, apa yang dikatakan-Nya wajib untuk dilakukan. Dengan demikian, perbuatan ‘mengasihi yang lain’ sebagaimana yang diperintahkan-Nya, bukan lagi sekedar pilihan bagi kita melainkan merupakan suatu keharusan dan kewajiban.

Yesus tidak hanya memerintah kita supaya saling mengasihi, tetapi Ia sendiri memberi kita contoh. Ia memberikan nyawanya bagi kita, para sahabat-Nya. Itulah bukti nyata bahwa Ia sungguh mengasihi kita. Ia berkata: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Maka, mestinya, sesuai dengan perintah dan contoh dari-Nya, kita pun harus menunjukkan kasih itu kepada satu dengan yang lain.

Kasih itu tidak muluk-muluk dan tidak harus yang besar-besar. Dengan saling tegur-sapa, saling tolong-menolong, itu juga cara kita mengasihi sesama. Semoga kita semua menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menebarkan kasih-Nya kepada orang-orang lain yang ada di sekitar kita. Amin.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here