Yesus kepada Pendengar-Nya: Akulah Pokok Anggur dan Kamulah Ranting-rantingnya

0
435
Gambar ilustrasi oleh JillWellington / Pixabay

Yesus kepada Pendengar-Nya: Akulah Pokok Anggur dan Kamulah Ranting-rantingnya: Renungan Harian Katolik, Rabu 22 Mei 2019 — JalaPress.com; Injil: Yoh. 15:1-8  

Ketika Tuhan Yesus berbicara di hadapan para pendengar-Nya, Ia mengikuti alam berpikir mereka; dan alam berpikir mereka sedikit banyak dipengaruhi oleh profesi masing-masing. Nah, pada masa itu, ada tiga profesi yang umum digeluti oleh banyak orang, yaitu petani, peternak, dan nelayan. Makanya, dalam setiap pengajaran-Nya, Yesus selalu mengambil contoh-contoh dari tiga profesi itu. Tujuannya supaya para pendengar-Nya itu dapat mengerti dengan baik isi pengajaran-Nya.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengambil contoh dari dunia pertanian, yaitu tentang pokok anggur. Kiranya semua orang yang berprofesi sebagai petani tahu bahwa tidak ada ranting anggur yang bisa hidup dan berbuah tanpa menyatu dengan pokok anggurnya. Maka, Yesus menggunakan cara berpikir yang sama untuk menjelaskan peran-Nya.

Yesus berkata: “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh. 15:4). Yesus menyebut diri-Nya sebagai pokok anggur, dan kita adalah ranting-rantingnya. Sama seperti ranting tidak bisa hidup dan berbuah tanpa pokok anggur, demikianlah juga kita tidak bisa hidup dan berbuah tanpa Yesus. Dengan kata lain, hidup dan masa depan kita bergantung hanya kepada Yesus.

Yesus berkata lagi: “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yoh. 15:6). Bisakah ranting-ranting hidup tanpa pokok anggur? Jelas tidak bisa. Ranting-ranting hanya akan hidup dan berbuah jika mendapat asupan makanan terus-menerus dari pokok anggur; dan itu hanya akan terjadi kalau ranting itu masih menyatu dengan pokok anggur.

Hidup kita hanya akan berbuah kalau kita menyatu dengan Yesus. Hidup kita hanya akan berkualitas kalau kita bersatu dengan Yesus. Dialah yang mengangkat derajat dan martabat kita menjadi manusia seutuhnya. Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Kita tahu bahwa dunia yang kita tempati ini sangat kejam. Orang dikotak-kotakkan berdasarkan banyak kategori. Yang satu direndahkan, yang lain ditinggikan. Yang satu dirangkul, yang lain dikucilkan. Yang satu disanjung-sanjung, yang lain dilecehkan. Bisakah kita hidup dan berbuah kalau lingkungan sosial kita sudah dikotak-kotakkan seperti itu? Jelas tidak bisa.

Tapi, coba perhatikan apa yang dilakukan oleh Yesus kepada mereka yang dikucilkan di dalam masyarakat? Ia memperlakukan mereka secara istimewa. Orang miskin dilayani-Nya, para pendosa didekati-Nya, dan orang sakit disembuhkan-Nya. Hanya Yesus yang bisa melalukan hal seperti itu. Di luar Yesus, kita tidak akan mendapat perlakuan yang istimewa seperti itu.

Yesus tidak akan mencampakkan kita begitu saja. Ia mendengarkan permintaan kita. Ia selalu membuka hati-Nya untuk mengabulkan kebutuhan kita. Ia berkata: “Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7).

Dengan analogi ini, Yesus ingin mengatakan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Dia. Kita membutuhkan Yesus dan harus menyatu dengan Dia. Hidup kita hanya akan bermakna kalau kita berada di dalam Yesus. Yesus berkata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh. 15:4-5).

Yesus harus berada di dalam kita supaya kita bisa hidup dan berbuah. Energi yang mengalir di tubuh kita haruslah energi yang kita dapatkan dari Yesus. Kita harus mengakui bahwa ada hal yang tidak bisa kita selesaikan sendiri; dan karenanya kita memerlukan pertolongan Tuhan.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here