Jika Adam dan Hawa adalah Manusia Pertama, Lantas Siapakah Istri Kain Yang Sesungguhnya?

2
3644
Gambar ilustrasi oleh Feniks2010 / Pixabay

Kitab Kejadian (lih. (Kej. 4:17) menyebutkan bahwa ‘Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya’. Pertanyaannya: jika Adam dan Hawa hanya memiliki tiga orang anak (Kain, Habel, dan Set), lantas siapa dan dari mana perempuan yang dinikahi oleh Kain itu?

Pertanyaan mengenai nama dan asal-usul dari istri Kain memang sudah sering diajukan oleh banyak orang. Isu ini terutama berfokus pada peristiwa setelah kematian Habel, yaitu setelah Tuhan melindungi Kain dengan sebuah tanda. Kita tidak pernah tahu tanda apa yang diberikan oleh Tuhan kepada Habel, tapi pastilah itu merupakan tanda yang penting.

Pertengkaran antara Kain dan Habel dapat dilihat pada Kitab Kej. 4:1-15. Kitab Suci tidak menyebutkan pada usia berapa Kain membunuh Habel (Kej. 4:8). Tapi karena dikatakan bahwa keduanya adalah petani, maka kemungkinan besar saat itu mereka sudah dewasa.

Setelah Kain menerima tanda dari Tuhan, penulis Kitab Suci menyebutkan bahwa Kain bersetubuh dengan istrinya.

“Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia. Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya” (Kej. 4:15-17).

Kitab Kejadian tidak menyebutkan nama dan asal wanita itu. Padahal, kita juga tahu bahwa Adam dan Hawa merupakan ‘manusia pertama’ (bdk. 1 Kor. 15:45); dan bahwa mereka mempunyai ‘putra dan putri’ (Kej. 3:20). Perlu diketahui bahwa Kitab Suci tidak mencantumkan nama-nama semua anak Adam dan Hawa. Apa yang kita lihat pada Kej. 5:1-5 hanyalah garis besarnya.

“Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; aki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘Manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati.”

Penulis Kitab Suci tidak menyebut semua anak yang lahir bagi pasangan suami-istri. Pada kutipan di atas, misalnya, anak yang disebutkan namanya hanyalah Set; padahal Set lahir setelah Kain dan Habel.  Juga, ada kalimat yang menegaskan bahwa ‘ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Adam dan Hawa mempunyai anak perempuan; tapi kita tidak pernah tahu siapa nama anak perempuan Adam dan Hawa. Lantas, apakah Kain menikahi saudarinya? Jawabannya: bisa ya dan bisa tidak.

Jawaban Pertama: Ya, Kain Menikahi Saudarinya

Tentu saja masuk akal jika kita mengatakan bahwa Kain menikahi saudarinya  karena Adam dan Hawa adalah manusia pertama, sehingga anak-anak mereka tidak mempunyai pilihan lain selain harus menikah sedarah.

Kita mungkin kaget mendengar jawaban seperti ini, karena kita sudah dipengaruhi oleh banyak pengajaran tentang moral. Tapi, jika kita berangkat dari Kitab Suci, maka jawabannya jelas. Dalam rangka memenuhi bumi, saudara dan saudari terpaksa harus menikah. Ketika jumlah manusia sudah banyak, pernikahan antar-sesama anggota keluarga tidak diperlukan lagi.

Mula-mula, perkawinan hanya didefinisikan ‘satu laki-laki untuk satu perempuan seumur hidup’ (bdk. Kej. 1-2), tidak ada ketidaktaatan terhadap perintah Tuhan (sebelum zaman Musa), ketika saudara dan saudari kandung menikah. Jangan lupa bahwa Abraham menikahi Sara, saudari tirinya (Kej. 20:2, 12); Isak menikahi Ribka, putri dari sepupunya, Batuel (Kej. 24:15, 67); Yakub menikahi sepupunya, Lea dan Rahel. Tuhan melarang perkawinan seperti itu ratusan tahun setelahnya, yaitu pada zaman Musa.

Perlu disadari bahwa larangan mengenai perkawinan sejenis baru ada pada zaman Musa (Im. 18-20). Dalam perkembangan kemudian hari, isu genetik menjadi pokok bahasan penting dalam pernikahan sedarah. Jadi, jelaslah, Tuhan tidak melarang pernikahan sedarah sampai pada zaman Musa.

Bahwasanya Kain menikahi saudara perempuannya juga secara logis disimpulkan dari doktrin Gereja tentang dosa asal. Dosa asal ditularkan kepada semua manusia dari orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Seperti kata St. Paulus: “Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang” (Rm. 5:12; lih. Rm. 5:19-20; KGK 402-406).

Jawaban Kedua: Tidak, Kain Menikahi Perempuan dari Keturunan Lain

Perlu kita ketahui bahwa Kitab Suci itu bukanlah laporan historis tentang peristiwa masa lalu, tetapi merupakan buku iman yang hendak mengajarkan butir-butir ajaran iman, meskipun data dan fakta tidak bisa diabaikan begitu saja. Pertanyaan kita tentang istri Kain mengalir dari pandangan bahwa kisah-kisah ini adalah laporan sejarah. Padahal, kisah Penciptaan Adam dan Hawa (Kej. 1-3) dan kisah Kain dan Habel (Kej. 4:1-16) bukanlah laporan sejarah.

Pusat perhatian dari cerita tentang Kain ini tertuju pada dosa Kain dan hukuman yang diakibatkan oleh dosa itu; sehingga banyak pertanyaan dibiarkan tak terjawab; termasuk pertanyaan mengenai asal-usul istrinya. Tapi, jika kita cermati ketakutan Kain akan pembalasan orang lain terhadap tindak kejahatannya (4:14), maka kita bisa katakan bahwa kisah itu tidak bisa dimengerti jika diandaikan tak ada orang lain, selain Adam, Hawa, dan Kain (meski dalam kisah itu tidak disebutkan adanya orang lain di sekitar mereka).

Tidak mungkin bahwa pembalasan akan datang dari keturunan Habel. Fakta bahwa tidak ada daftar keturunan Habel harus ditafsirkan bahwa Habel dibunuh pada usia muda, sehingga tidak mempunyai keturunan. Jika saat itu hanya ada Adam, Hawa, dan Kain, lantas mengapa Kain harus takut? Kisah ini mengandaikan adanya orang-orang lain, dan suatu masyarakat yang teratur dengan pekerjaan yang berbeda-beda, tempat kultus persembahan sudah mulai berkembang (lih.Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 2002, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 42).

Tambahan pula, pada Kej. 4:17 dikatakan bahwa ‘Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.’ Ini menunjukkan bahwa ada banyak orang lain di sekitarnya. Tidak mungkinlah ia mendirikan sebuah kota hanya untuk bertiga (dirinya, istrinya, dan anaknya).

Menurut, Romo Petrus Maria Handoko CM, dalam tulisannya di Hidup Katolik, jika Kain menikah dengan saudarinya sendiri, pasti hal ini dikatakan secara eksplisit. Sangat mungkin Kain menikah dengan perempuan lain di luar keluarga Adam. Ini mengandaikan ada poligenisme. Sekedar informasi, poligenisme adalah pandangan bahwa berbagai ras manusia berevolusi secara independen satu sama lain, dan secara langsung bertentangan dengan interpretasi literal mengenai penciptaan Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian; sedangkan monogenisme adalah doktrin bahwa manusia modern muncul dari sepasang leluhur tunggal, yaitu Adam dan Hawa.

Meski demikian, ide tentang poligenisme ini tentu saja masih menyisakan diskusi yang panjang. Bahkan, Paus Pius Pius XII, dalam ensikliknya ‘Humani Generis’ pernah menuliskankan demikian:

“The faithful cannot embrace that opinion that maintains that either after Adam there existed on this earth true men who did not take their origin through natural generation from him as from the first parent of all or that Adam represents a certain number of first parents. Now it is no way apparent how such an opinion can be reconciled with that which the sources of revealed truth and the documents of the teaching authority of the Church propose with regard to original sin, which proceeds from a sin actually committed by an individual Adam and which, through generation, is passed on to all and is in everyone as his own” (HG 37).

Sumber Pertama:

Sumber Kedua:

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

2 COMMENTS

  1. Saya sangat tertarik dengan ulasan mengenai agama Katolik, karena saya sangat yakin dan percaya Yesus sang juru selamat, tapi akhir akhir ini muncul perdebatan oleh banyak pemuka agama, mereka seperti mencari kebenaran dan merasa yang paling benar, tolong kepada admin untuk lebih banyak memuat artikel tentang agama Katolik,,,

    • Terima kasih atas kunjungannya. Ya, portal ini memang khusus untuk memuat tulisan-tulisan tentang iman Katolik. Silahkan update terus artikel-artikel terbaru dari kami. Salam sehati-sejiwa.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here