Mengapa Tuhan ‘Memerintahkan’ Bangsa Israel untuk Menumpas Orang Kanaan?

0
4986
Gambar ilustrasi oleh DariuszSankowski / Pixabay

Menurut Kitab Pentateukh (lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama), ketika Tuhan membawa umat Israel keluar dari perbudakan di negeri Mesir, Dia menyuruh mereka merebut tanah Kanaan, yaitu tanah leluhur mereka (Ul. 7:1-2; 20:16-18). Kitab Yosua menceritakan bahwa orang-orang Israel itu menyerang dari kota ke kota di seluruh tanah Kanaan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka.

Bukan hanya merebut tanahnya, kita juga membaca dalam Kitab Yosua bahwa setelah melewati Sungai Yordan, mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang ada di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang tua maupun anak-anak, bahkan termasuk hewan peliharaan, seperti lembu, domba, dan keledai. Mereka juga membakar kota itu hingga segala sesuatunya dilalap api (Yos. 6:21, 24).

Mereka juga menumpas semua orang yang tidak percaya yang tinggal di kota Ai (Yos. 8:26), membunuh dua belas ribu orang laki-laki dan perempuan di kota itu, serta menggantung raja Ai pada sebuah tiang (Yos. 8:25, 29). Sementara di kota Makeda dan Libna, mereka tidak membiarkan seorang pun lolos dari mata pedang (Yos. 10:28, 30).

Mereka juga menghabisi orang-orang yang berdiam di Lakhis (Yos. 10:32); dan menaklukkan kota Gezer, Eglon, Hebron, Debir, dan Hazor (Yos. 10:33-39; 11:1-1). Segala kota kepunyaan raja-raja itu dan semua rajanya dikalahkan oleh Yosua; dan ia membunuh mereka dengan mata pedang. Mereka ditumpasnya seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN itu (Yos. 11:12). Mereka melenyapkan orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus (Kel. 23:23; Ul. 7:1-2; Yos. 3:10).

Singkatnya, dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Tuhan secara gamblang memerintahkan orang-orang Israel supaya menghabisi mereka ‘yang tidak percaya’ yang tinggal di negeri Kanaan; dan menjadikan negeri itu sebagai Tanah Terjanji bagi mereka (Yos. 9:24).

Kisah penyerbuan terhadap tanah Kanaan dan orang-orang yang tinggal di dalamnya menyisakan pertanyaan besar di benak banyak orang. Orang-orang bertanya: “Mengapa hal sekejam itu dibiarkan atau bahkan diperintahkan oleh Tuhan? Bukankah yang kita tahu bahwa Tuhan itu Mahabaik (Mrk. 10:18), Mahakasih (1 Yoh. 4:8) dan Mahakudus (Im. 11:44-45)?

Memang, kita harus mengakui bahwa cerita tentang penyerangan yang dilakukan oleh orang-orang Israel terhadap tanah Kanaan dan orang-orang yang berdiam di dalamnya tidak selalu mudah untuk dipahami, dan bisa disalah-mengerti juga – apalagi  kalau kita hanya mendasarkan penafsiran kita pada teks semata, tanpa memperhatikan keseluruhan konteksnya.

Karena itu, jika kita ingin memahami apa sebenarnya yang terjadi, maka kita perlu mengingat beberapa kriteria penafsiran Kitab Suci berikut ini:

  • Memperhatikan dengan saksama ‘isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci’ (KGK 112). Dengan kata lain, bagian lain dari Kitab Suci harus bisa membantu kita dalam memahami teks yang sedang kita baca.
  • Membaca Kitab Suci ‘dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja’ (KGK 113). Kita harus memperhatikan apa yang telah Tuhan sampaikan kepada kita; tidak hanya melalui kata-kata yang sudah tertulis dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam Tradisi Suci. Ajaran Gereja tentang perintah, “Jangan membunuh,” berarti bahwa tidak ada seorang pun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan mana pun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tidak bersalah (KGK 2258).
  • Kita harus ingat bahwa pastilah ada ‘koherensi dari kebenaran iman’ (KGK 113). Artinya, iman kita tidak mungkin saling bertentangan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang Israel pada zaman dulu, yaitu membunuh orang yang tidak bersalah, dapat dibenarkan untuk situasi saat itu; meski sekarang tidak lagi bisa diterima.

Jadi, jika Tuhan itu Mahabaik (Mrk. 10:18), Mahakasih (1 Yoh. 4:8) dan Mahakudus (Im. 11:44-45), maka tidak akan pernah dapat diterima secara moral bahwa Ia menghancurkan orang yang tidak bersalah. Namun, bagaimana kita memahami apa yang sudah terjadi itu?

Perhatikan apa yang dikatakan oleh St. Agustinus tentang bagian-bagian Kitab Suci  yang sulit dimengerti. Ia berkata: “… jika dalam Kitab Suci saya menemukan sesuatu yang tampaknya bertentangan dengan kebenaran, saya tidak akan ragu untuk menyimpulkan bahwa teksnya salah, atau bahwa penerjemahnya tidak mengungkapkan arti sebenarnya dari ayat tersebut, atau bahwa saya sendiri tidak mengerti” (St. Augustine, Ep. 82, i. et crebrius alibi).

Kita semua sudah tahu bahwa pembunuhan secara sengaja terhadap orang-orang  yang tidak bersalah, secara moral tidak dapat dibenarkan. Apalagi, kita juga tahu bahwa Tuhan itu Mahabaik. Lantas, apa sebenarnya yang diperintahkan oleh Tuhan kepada orang-orang Israel? Apakah Dia menyuruh mereka untuk bertindak jahat – dengan membunuh – orang-orang yang tidak bersalah?

Dua kisah lain dalam Kitab Suci kiranya dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini.

Pertama, kisah tentang Abraham, Tuhan, dan Sodom (Kej. 18-19). Ketika Tuhan mengumumkan niatnya untuk menghakimi Sodom dan Gomora atas dosa-dosa mereka, Abraham dengan berani bertanya, “Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kej. 18:25).

Abraham terlibat tawar-menawar dengan Tuhan. Tuhan meyakinkan Abraham bahwa jika ada sepuluh saja orang benar di kota itu, Dia tidak akan menghancurkan kota itu demi mereka. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan memang adil, dan Dia tidak akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Seperti yang dikatakan Katekismus, “Tuhan itu amat baik secara tak terbatas dan segala karya-Nya baik” (KGK 385). “Bagaimanapun juga, baik langsung maupun tidak langsung, Tuhan bukanlah sebab kejahatan moral” (KGK 311). Yang menariknya adalah dalam Kej. 19 diceritakan bahwa ternyata Tuhan akhirnya menghancurkan kota Sodom.

Apakah itu berarti bahwa tidak ada seorang pun yang benar di antara orang-orang Sodom itu? Apakah tidak ada anak-anak yang tidak bersalah di sana? Ataukah ada sesuatu yang lain yang mau disampaikan dari kisah ini? Maka, mari kita lihat kisah kita selanjutnya dan lihat bagaimana kisah itu dapat membantu kita untuk menjelaskan apa yang mungkin terjadi.

Kedua, kisah tentang pertempuran di Yerikho (Yos. 6). Yerikho merupakan daerah di Tanah Terjanji yang dibicarakan dalam Ulangan 7; dan menjadi bagian dari negeri ‘yang harus dihancurkan.’ Di Kitab Yosua kita melihat bahwa orang-orang Israel  menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai (Yos. 6:21).

Apa yang terjadi di Yerikho? Penafsiran literel dari perikop ini membawa kita pada kesimpulan bahwa tampaknya Tuhan memerintahkan kematian orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak. Tetapi, apakah ini satu-satunya cara untuk menafsirkan teks ini? Sang literalis memang menafsirkan setiap kata dalam Kitab Suci sebagai kebenaran historis; dan tidak membedakan antara berbagai jenis tulisan yang ditemukan dalam Kitab Suci — termasuk puisi dan metafora. Padahal, ‘untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis’ (KGK 110).

Apakah penulis Kitab Yosua benar-benar ingin mengatakan bahwa setiap makhluk hidup di kota Yerikho dihancurkan, termasuk anak-anak yang tidak bersalah? Padahal, kita melihat bahwa cerita itu memiliki pengecualian terhadap kehancuran total kota Yerikho. Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia, misalnya, ternyata dibiarkan hidup oleh Yosua (lih. Yos. 6:25).

Kalau demikian, mungkinkah dalam contoh-contoh ini arti kehancuran total tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah, tetapi digunakan sebagai metafora? Dan, mungkinkah kisah-kisah ini merujuk pada kehancuran hebat — tetapi bukan kehancuran total?

Dalam kehidupan kita setiap hari, kita juga sering menggunakan gaya serupa dalam menyampaikan suatu cerita kepada orang lain. Ketika kita hendak menceritakan sesuatu, kita sering melebih-lebihkan keadaan sebenarnya agar terkesan serius dan hebat. Kiranya, demikian juga halnya dengan gagasan bahwa ‘setiap makhluk hidup’ di Yerikho terbunuh, sangat mungkin merupakan sebuah ungkapan semata.

Apa sebenarnya yang diperintahkan oleh Tuhan kepada orang-orang Israel? Dari percakapan antara Abraham dengan Tuhan kita tahu bahwa Tuhan tidak bermaksud menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Jadi, sepertinya, Kitab Ulangan tidak bermaksud mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan kematian setiap orang. Sebaliknya, dalam Kitab Ulangan Tuhan memerintahkan orang-orang Israel supaya “Janganlah engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki” (Ul. 7:3).

Jika saja Tuhan menghendaki kehancuran total dari orang-orang di tanah Kanaan, mengapa di Kitab Ulangan Tuhan menyampaikan larangan perkawinan campur antara keturunan Israel dengan mereka? Bukankah jika semuanya hancur dan mati, berarti tidak ada lagi yang tersisa untuk dapat melakukan kawin campur? Maka, sekali lagi, frasa ‘benar-benar menghancurkan’ di sini lebih tepat jika ditafsirkan sebagai ungkapan semata.

Barangkali ungkapan itu sekedar untuk menggambarkan kemenangan total bagi Israel; yaitu kemenangan yang berarti memisahkan diri dari apa pun yang mungkin menghalangi hubungan mereka dengan Tuhan. Sepertinya, itulah alasannya mengapa dalam Kitab Ulangan disampaikan perintah ini: “Sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain” (Ul. 7:4).

Penafsiran ini berarti bahwa Tuhan tidak memerintahkan kejahatan. Sebaliknya, Ia memerintahkan orang-orang Israel supaya menghindari kejahatan dengan menyingkirkan godaan-godaan yang mungkin menyesatkan mereka. Dan sebetulnya, Tuhan Yesus juga menggunakan ungkapan yang sama ketika menjelaskan tentang bagaimana caranya terhindar dari dosa. Ia berkata:

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka” (Mat. 5:29-30).

Tentu saja, dalam teks tersebut Tuhan Yesus tidak berbicara secara harfiah. Maka, jangan memotong tangan Anda, mencungkil mata Anda, atau membuang anggota tubuh Anda. Pelajarannya adalah bahwa kita harus berusaha keras agar terhindar dari hal-hal yang menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Begitulah cara kita menafsirkan kisah penyerbuan orang-orang Israel terhadap tanah Kanaan. Tentu saja masih ada cara penafsiran yang lain yang patut kita perhitungkan juga. Tapi, hampir semua penafsiran mengerucut pada satu kesimpulan, yaitu bahwa Tuhan tidak memerintahkan orang-orang Israel untuk menghabisi orang yang tidak bersalah di tanah Kanaan.

Penafiran lain, misalnya, menyebutkan bahwa sebelum menaklukkan tanah Kanaan, Tuhan justru memerintahkan bangsa Israel, katanya: “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu. Janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri” (Im. 19:17-18,33-34; bdk. Rm. 13:9).

Orang-orang Yahudi, seperti kita juga orang Kristiani, diharapkan ‘tidak melawan orang yang berbuat jahat’ (Mat. 5:39), tetapi sebaliknya, ‘siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’ (Mat. 5:39). Namun demikian, orang-orang Israel diperintahkan supaya menghukum (bahkan membunuh) mereka yang melawan hukum. Hanya lima bab setelah memerintahkan setiap orang Israel supaya ‘tidak melawan kejahatan’ melainkan ‘mengasihi sesama seperti diri sendiri’ (Im. 19:18), Tuhan dua kali mengatakan bahwa pembunuh harus menerima hukuman mati (Im. 24:21, 17). Itu berarti bahwa menghukum orang jahat bukanlah tidak mengasihi.

Seperti halnya orang tua yang baik, guru, polisi, dan hakim dapat secara adil menghukum mereka yang melawan hukum, demikianlah juga halnya Tuhan yang Mahabaik dan Mahakasih menghukum orang-orang jahat. Orang tua dan guru penyayang menghajar anaknya pada waktunya (Ams. 13:24). Polisi yang berbelaskasih, yang terus-menerus menyelamatkan hidup orang-orang yang tidak bersalah, mempunyai otoritas (dari Tuhan dan dari pemerintah – Rm. 13:1-4) untuk membunuh orang-orang yang berlaku jahat, yang membunuh orang-orang lain. Hakim yang adil mempunyai otoritas untuk menghukum pelaku pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Jadi, cinta kasih dan hukuman fisik atau hukuman mati tidak saling bertentangan.

Penduduk Kanaan dihukum karena kejahatan yang mereka lakukan. Tuhan tidak menghukum mereka sebagai ras atau etnis tertentu. Tuhan tidak mengutus orang-orang Israel ke tanah Kanaan untuk menghancurkan bangsa-bangsa yang baik. Tetapi, sebaliknya, bangsa-bangsa Kanaan mengalami kerusakan yang mengerikan. Mereka mempraktikkan kebiasaan buruk (Im. 18:30) dan melakukan hal-hal yang menjijikkan (Ul. 18:9). Mereka melakukan penyembahan berhala, menjadi petenung, peramal, penyihir, dan pemanggil roh orang mati (Ul. 18:10-11). Bahkan, orang-orang yang tidak percaya di tanah Kanaan rela menjadikan putra dan putri mereka sebagai korban bakaran untuk dewa-dewi mereka (Ul. 12:30) serta melakukan ritual pelacuran dan inces. Nah, praktik mereka ini sangatlah barbar dan tidak bermoral. Itulah sebabnya mengapa Tuhan mengatakan bahwa negeri itu telah menjadi najis dan Aku telah membalaskan kesalahannya kepadanya, sehingga negeri itu memuntahkan penduduknya (Im. 18:25).

Tuhan sebetulnya sudah memberi kesempatan yang cukup lama bagi orang-orang di tanah Kanaan agar bertobat. Dia menunggu lebih dari empat abad untuk menghakimi penduduk Kanaan. Meskipun orang Amori sudah menjadi orang berdosa di zaman Abraham, Tuhan menunda memberikan keturunan kepada Tanah Perjanjian. Dia menunggu sampai orang-orang Israel telah berada di Mesir selama ratusan tahun, karena pada waktu itu Tuhan berbicara dengan Abraham bahwa  ‘kedurjanaan orang Amori belum ‘genap’ (Kej. 15:16).

Tuhan menahan penghakiman atas Kanaan selama 400 tahun sampai kejahatan mereka tidak bisa ditolerir lagi. Dia bahkan membiarkan umat pilihan-Nya menderita dalam perbudakan selama empat abad sebelum menentukan bahwa orang-orang Kanaan siap untuk dihakimi dan memanggil umat-Nya keluar dari Mesir. Jadi, Tuhan memiliki alasan yang sangat kuat untuk menghakimi orang-orang Kanaan, dan orang-orang Israel hanyalah alat bagi-Nya.

Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak bersalah? Anak-anak Kanaan tidak menanggung dosa orang tua mereka (Yeh. 18:20).  Mereka adalah manusia yang tidak berdosa, tidak bersalah, dan berharga (bdk. Mat. 18:3-5). Faktanya bahwa anak-anak juga menjadi korban dari penyerangan itu, hal semacam itu sebetulnya justru membuat mereka terhindar dari kondisi yang lebih buruk — yaitu dibesarkan untuk menjadi sama jahatnya dengan orang tua mereka dan dengan demikian menghadapi hukuman abadi. Semua orang yang mati di masa kanak-kanak, menurut Kitab Suci, diantar ke Surga dan pada akhirnya akan tinggal di Surga. Jadi, Tuhan ingin membersihkan tanah Kanaan dari segala macam cobaan terhadap umat-Nya yang ingin berbalik dari-Nya.

Referensi:

https://biblestudyforcatholics.com/god-command-evil-actions-bible-part/
https://catholicism.org/ad-rem-no-267.html
https://brandonvogt.com/did-god-command-genocide/
https://www.thecatholicthing.org/2009/05/04/why-did-god-command-evil-deeds/
https://www.apologeticspress.org/APContent.aspx?category=6&article=1630
https://www.reasonablefaith.org/writings/question-answer/slaughter-of-the-canaanites/
https://www.bethinking.org/bible/old-testament-mass-killings
https://www.namb.net/apologetics-blog/joshua-s-conquest-was-it-justified/

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here