Katolik Menjawab: Tidak Mungkinlah Alkitab Dipalsukan

0
1935
Gambar ilustrasi oleh voltamax / Pixabay

Orang-orang tertentu seringkali menuduh dan beranggapan bahwa Alkitab yang kita miliki saat ini isinya sudah banyak diubah. Atas dasar anggapan seperti itu, mereka lalu menyimpulkan bahwa Alkitab yang kita miliki saat ini adalah Alkitab yang sudah dipalsukan.

Anggapan seperti itu berkembang secara masif dan dianggap sebagai suatu kebenaran di kalangan mereka. Hanya saja pertanyaan yang mestinya kita ajukan adalah “Bagian mana dari Alkitab itu  yang sudah dipalsukan?

Kok bagian mana? Apakah Alkitab itu banyak? Ya, Alkitab itu kan kumpulan buku. Kata Alkitab diambil dari kata bahasa Yunani ‘Biblia’ [Inggris: bible] yang berarti kumpulan buku. Mengapa begitu? Karena ketika kita membuka suatu Alkitab, kita sebenarnya berhadapan dengan banyak buku (yang telah dipadukan menjadi satu). Nah kalau begitu, bagian mana sih yang dipalsukan dari kumpulan buku itu?

Seandainya mereka menyebutkan bagian mana saja dari Alkitab yang sudah dipalsukan, kita wajib mengajukan satu pertanyaan lagi: “Dari mana mereka tahu bahwa bagian itu sudah dipalsukan? Apakah mereka menyimpan Alkitab yang asli?”

Secara logika, jika kita mengatakan sesuatu sebagai yang ‘palsu’, itu artinya kita mempunyai yang aslinya atau sekurang-kurangnya kita tahu bagaimana isi atau keadaan yang aslinya. Kita tidak bisa seenaknya mengatakan ‘yang ini palsu’ kalau kita sendiri tidak bisa memberikan bukti mengenai seperti apa yang aslinya. Jangan mengatakan ‘yang ini palsu’ jika kita tidak bisa menunjuk ‘yang itu asli’. Kategori ‘palsu’ dan ‘asli’ itu baru bisa disematkan setelah kita membuat perbandingan; dan itu mengandaikan bahwa kita mempunyai yang aslinya. Kalau tidak, omongan kita tidak lebih dari ‘tong kosong’, yang nyaring bunyinya tetapi tidak ada isinya.

Mengapa mereka mengatakan bahwa Alkitab sudah dipalsukan? Karena mereka mengamati bahwa terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia sudah sering berubah. Memang, diksi atau pilihan kata dalam terjemahan Alkitab berbahasa Indonesia sudah pernah beberapa kali berubah. Itu pun bukan tanpa alasan. Alasannya jelas: karena terjemahan Alkitab mengikuti perkembangan bahasa yang ada. Ya, yang namanya bahasa itu kan selalu berkembang meski maksudnya sama, misalnya dari ejaan lama menjadi ejaan baru, dari istilah yang satu ke istilah yang lain, dan sebagainya.

Nah, mengingat bahasa Indonesia selalu berkembang, maka memang mau tidak mau, terjemahan Alkitab harus disesuaikan dengan perkembangan bahasa Indonesia itu. Mengapa? Karena tujuan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia adalah supaya ayat-ayat yang ada di dalamnya dimengerti oleh para pembaca di Indonesia. Apa gunanya diterjemahkan jika ternyata pembacanya tidak paham [misalnya hanya gara-gara menggunakan ejaan lama]? Bahwa dalam terjemahan itu ada kata yang terpaksa harus diganti atau diubah, ya itu harus dilakukan, tetapi hal itu sama sekali tidak menghilangkan maksud asali dari teks itu.

Mari kita lihat satu contoh dari Injil Yohanes 2:1-3 yang bercerita tentang pesta perkawinan di Kana. Pesta itu dihadiri oleh Yesus, ibunya, dan para murid-Nya. Diceritakan bahwa saat itu tuan pesta kekurangan anggur. Maria, ibu Yesus, berkata kepada Yesus: “Mereka kehabisan anggur.” Kalimat dari Maria yang bunyinya seperti itu ada di dalam Alkitab terjemahan sekarang. Tetapi dulu tidak diterjemahkan seperti itu. Dulu, kata-kata Maria itu diterjemahkan “Mereka tidak mempunyai anggur lagi”. Dari dua terjemahan itu, mana yang asli dan mana yang palsu? Bukankah dua-duanya mempunyai maksud yang sama, yaitu mau mengatakan bahwa tuan pesta sudah kekurangan anggur?

Oleh karena itu, perubahan diksi pada Alkitab terjemahan harus dipandang sebagai resiko dari bahasa terjemahan. Kalau demikian, apakah tidak lebih baik jika Alkitab tidak perlu diterjemahkan? Jawabannya jelas: Alkitab harus tetap diterjemahkan sebab manfaatnya besar.

Alkitab yang diterjemahkan memudahkan para pembaca mengerti apa yang mereka baca daripada Alkitab yang tidak diterjemahkan. Bahwa kalau diterjemahkan nanti diksinya berubah, tidak masalah; daripada diksinya tidak berubah karena tidak diterjemahkan, tetapi para pembacanya tidak mengerti sedikit pun apa yang mereka baca.

Mengapa diksi dalam Alkitab terjemahan selalu mengalami perubahan? Karena boleh jadi kata atau kalimat dalam bahasa asli tidak ada padanannya di dalam bahasa kita. Ya, kita harus pahami bahwa setiap bahasa mempunyai keterbatasan. Maka, apa yang harus kita buat? Kita mencari kata yang mendekati maksud dari bahasa aslinya. Jadi jelaslah, tuduhan ‘palsu’ terhadap Alkitab terjemahan tidak masuk akal.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here