Jika Manusia adalah Ciptaan yang ‘sungguh amat baik’, Mengapa Baru Diciptakan pada Hari Keenam?

0
1032
Gambar ilustrasi oleh sasint / Pixabay

Kita, manusia, adalah citra Allah. Kita diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya sendiri. Itu artinya bahwa kita ini adalah foto kopi wajah Allah. Maka, sifat kita mestinya menyerupai sifat Allah. Jika Allah itu Mahakasih, paling tidak menjadi orang-orang yang tahu mengasihi.

Injil selalu menekankan bahwa kita harus menjadi sempurna sama seperti Bapa sempurna adanya. Maka, jika Allah itu kita kenal sebagai yang Mahasempurna, paling tidak kita mengambil sedikit kesempurnaan-Nya. Kita tidak akan menjadi sesempurna Allah, tetapi kita mendekati sedikit kesempurnaan-Nya.

Kita manusia adalah ciptaan Allah yang paling istimewa. Makanya, jika kita membaca Kisah Penciptaan, ada pemilihan kata yang berbeda di sana. Ketika Allah menciptakan alam semesta, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, dikatakan bahwa Allah melihat apa yang diciptakan-Nya itu ‘baik adanya’. Tetapi, ketika Allah menciptakan manusia, Ia melihat manusia yang diciptakan-Nya itu ‘sungguh amat baik’. Dari sanalah cikal bakal martabat pribadi manusia. Bahwasanya, manusia adalah ciptaan Allah yang paling luhur, ciptaan yang sungguh amat baik dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Mengapa? Sebab Roh Allah tinggal di dalam diri manusia itu.

Ketika Allah menciptakan manusia, pertama-tama Ia menciptakan manusia itu dari debu tanah. Tetapi, apa yang terjadi setelahnya? Allah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidung manusia yang diciptakan-Nya sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Maka, prinsipnya jelas: apa yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah, dan yang dari Allah akan kembali kepada Allah. Ketika manusia mati, tubuh-Nya akan kembali ke tanah sebab dibentuk dari tanah, tetapi Rohnya akan kembali kepada Tuhan sebab datang dari Tuhan.

Ada yang bertanya, mengapa manusia diciptakan pada hari ke-6? Mengapa bukan hari pertama, supaya manusia bisa menyaksikan langsung proses penciptaan itu seperti di film-film? Baik juga jika terjadi seperti itu. Tetapi rupanya Allah tidak mau manusia yang diciptakan-Nya itu menderita. Bayangkan, jika manusia diciptakan pada hari pertama, betapa menderitanya manusia itu. Hari pertama bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudra raya. Juga belum ada daratan, semuanya air.

Mengapa hari ke-6? Karena Allah mau memastikan terlebih dahulu bahwa lingkungan sudah tersedia dan makanan sudah ada, barulah Ia menciptakan manusia. Allah terlebih dahulu menciptakan lingkungan yang nyaman, hewan dan tumbuhan sebagai sumber makanan, barulah Ia menciptakan manusianya. Sungguh luar biasa Allah itu.

Tidak hanya itu. Allah juga menganugerahkan kebebasan kepada manusia itu supaya mereka tidak menjadi seperti robot. Allah mau supaya kita menjadi makhluk yang bebas berekspresi dan bebas memilih. Dan justru karena kita mempunyai kebebasan makanya masuk akal jika pada akhirnya kita dimintai pertanggung jawaban. Namun, kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here