Bermimpi bersama CICM: Mengubah Wajah Dunia menjadi Wajah Kristus

0
1654
Keterangan Foto: RP. Richard, CICM dan RP. Erwin, CICM dalam Perayaan Ekaristi di negara misi mereka di Congo, Afrika

Kongregasi Misionaris Religius CICM (Latin: Congregatio Immaculati Cordis Mariae) atau dalam bahasa Indonesia – Kongregasi Hati Tak Bernoda Maria – didirikan oleh seorang imam diosesan berkebangsaan Belgia, Pater Theophile Verbist, pada 28 November 1862.

Pater Verbist merasa terpanggil untuk melayani umat di negeri yang jauh. Ia meninggalkan tanah kelahirannya bahkan negaranya sendiri untuk berkarya bagi orang-orang terlantar di negeri Cina. Ia juga menyediakan ruang bagi mereka yang mempunyai mimpi yang sama seperti dirinya – yaitu mereka yang bersedia pergi ke mana saja diutus untuk mewartakan kasih Tuhan – dengan mendirikan Kongregasi Misionaris Religius CICM.

Baca selengkapnya di sini: Sejarah Berdirinya CICM

Kini, Kongregasi CICM mempunyai sejumlah anggota yang berkarya di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Mereka – seperti halnya pater pendiri – meninggalkan keluarga bahkan negara mereka masing-masing untuk pergi ke mana saja mereka diutus. Tentu saja ada banyak pengalaman yang mereka alami, tergantung konteks tempat di mana mereka berkarya. Kita mungkin bertanya, “Bagaimana mereka bisa bertahan dalam situasi sulit di negara misi?” Jawaban atas pertanyaan ini sudah pernah diungkapakan oleh pater pendiri CICM, Pater Theophile Verbist. Ia berkata: “Bagi mereka yang mencintai tidak ada sesuatu yang sulit”.

Saya sendiri membayangkan bahwa pater pendiri CICM – dari namanya saja Theo-phile – adalah seorang pribadi yang setia pada kehendak Tuhan. Theo-philos, sang pencinta Tuhan, begitulah kira-kira nama itu diartikan. Maka, benarlah, bagi mereka yang mencintai Tuhan, tentu tidak ada sesuatu yang sulit – sebab Tuhan pasti akan menolongnya. Ya, Tuhan pasti akan menolong dan menaruh kemudahan bagi mereka yang bersedia membagikan kasih-Nya kepada semua orang – sesuai dengan perintah-Nya.

Baca selengkapnya di sini: Negara Misi CICM

Bagi saya, pendidikan calon imam CICM sangat menarik karena sejak awal para frater dibentuk di dalam komunitas multikultural, dan bahkan internasional. Di Filipina, misalnya, para frater datang dari berbagai latar belakang budaya dan negara yang berbeda, yaitu Philippines, Brazil, Congo, Camerun, Haiti, Zambia, China, dan Indonesia. Meski berbeda, mereka semua memegang teguh prinsip dan motto kongregasi “cor unum et anima una” atau “one heart and one soul” atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “sehati sejiwa”.

Kongregasi Misionaris Religius CICM mengawali karya misinya di Indonesia, terutama di Keuskupan Agung Makassar pada tahun 1937. Sejak tahun 1937 – 1977, CICM tidak menerima calon imam asal Indonesia karena masih berfokus untuk memenuhi kebutuhan Gereja Lokal. Makanya, semua yang ingin bergabung bersama CICM diarahkan untuk menjadi imam diosesan. Barulah pada tahun 1979, CICM mulai membuka seminari tinggi di Jakarta; dan pada 16 Januari 1982 Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans Van Roessel, CICM menerbitkan surat izin resmi pendirian novisiat CICM di Makassar.

Baca selengkapnya di sini: Sejarah CICM di Indonesia 

Pendirian rumah pendidikan CICM di Indonesia menjadi sebuah tonggak sejarah bagi CICM di Indonesia dan CICM di seluruh dunia. Tunas-tunas yang dihasilkan telah hidup dan bertumbuh di berbagai belahan dunia. Saat ini tunas-tunas muda CICM Indonesia telah diutus sebagai misionaris di sembilan negara di empat benua yang berbeda. Kehadiran tunas-tunas muda ini telah menjadi saksi akan persaudaraan universal di mana pun mereka hadir dan berkarya.

Baca selengkapnya di sini: Pendidikan CICM di Indonesia 

Mimpi besar CICM adalah untuk ‘mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus’. Caranya: dengan diutus ke tempat di mana Injil belum dikenali atau belum dihidupi.

Beranikah engkau bermimpi? Beranikah engkau mewujudkan impianmu? Beranikah engkau menjadi misionaris CICM? Misionaris CICM berani bermimpi untuk mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Come and join us!

Baca selengkapnya di sini: Syarat-syarat Calon Misionaris CICM dan jika Anda tertarik Hubungi Kami.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here