Katolik Menjawab: Tradisi Mendoakan Orang Mati sudah ada sebelum Yesus

2
9312

Sebenarnya, persoalan utama mengapa Gereja Katolik mendoakan orang mati, sementara Gereja Kristen non-Katolik tidak mendoakan orang mati terletak di sini:

Pertama, Gereja Katolik mengakui adanya Api Penyucian sementara orang-orang Kristen non-Katolik tidak mengakui adanya Api Penyucian sebab menurut mereka Api Penyucian itu hanya karangan Gereja Katolik. Kedua, orang-orang Kristen non-Katolik beranggapan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, relasinya dengan manusia yang hidup dengan sendirinya terputus, sementara Gereja Katolik mengakui adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut.

Ketiga, Gereja Katolik mengakui adanya Kitab Makabe, sementara orang-orang Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe dalam Kitab Suci mereka. Mereka beranggapan bahwa kitab Makabe merupakan rekayasa Gereja Katolik. Keempat, bagi orang-orang Kristen non-Katolik, keselamatan hanya diperoleh melalui iman (sola fide), yang sering dimaknai terlepas dari perbuatan, dan hal mendoakan ini dianggap sebagai perbuatan yang tidak berpengaruh terhadap keselamatan, sementara bagi Gereja Katolik, iman tidak bisa dipisahkan dari perbuatan kasih.

1) Adanya Api Penyucian

Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’/ proses kita disucikan. Keyakinan tentang adanya Api Penyucian inilah yang membuat Gereja Katolik merasa penting untuk mendoakan orang-orang mati.

Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “… tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Mat 12:32). Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

2) Adanya Persekutuan Orang Kudus

Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Maka, sebagai sesama anggota Tubuh Kristus, kita selayaknya saling tolong menolong [berupa doa] dalam menanggung beban (Gal 6:2), dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga.

3) Adanya Kitab Makabe

Bagi Gereja Katolik, kebiasaan mendoakan orang mati memang tidak lepas dari apa yang tertulis di dalam Kitab Makabe. Sementara itu, Gereja Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab ini. Padahal jika kita mau berkata jujur, sekalipun mereka tidak mengakui adanya Kitab Makabe itu, namun mereka tidak bisa mengubah kenyataan bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di zaman Yahudi sebelum Kristus, sampai sekarang. Maka, tradisi ini juga bukan tradisi yang asing bagi Yesus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18).

Kesimpulan

Tradisi mendoakan orang mati sudah ada jauh sebelum Yesus, dan bisa dipastikan bahwa tradisi itu bukanlah tradisi yang asing bagi Yesus. Yesus saja tidak menghilangkan tradisi itu, lalu mengapa kita sebagai pengikut Yesus begitu berani untuk menghilangkannya?

Seandainya saja tradisi mendoakan orang mati tidak ada faedahnya, tentulah Rasul Paulus tidak akan mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal. Tetapi nyatanya ia toh tetap mendoakan Onesiforus. Itu berarti bahwa dia tidak hanya meneruskan tradisi yang sudah berjalan jauh sebelum Yesus itu, tetapi lebih-lebih karena ia sendiri tahu bahwa mendoakan orang mati sangatlah berguna. Nah, jika Paulus saja yang sudah mengajarkan kepada kita banyak hal tentang ajaran Yesus melakukan itu, lantas siapakah kita yang berani mengatakan bahwa kebiasaan yang baik itu tidak ada faedahnya?

Diolah dan dikembangkan dari: www.katolisitas.org

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

2 COMMENTS

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here