Kitab Deuterokanonika Diilhami Oleh Allah

0
414
voltamax / Pixabay

Dalam beberapa diskusi dengan umat non-Katolik tim JalaPress seringkali menemukan pernyataan bahwa Kitab Deuterokanonika tidak diilhami Allah. Mereka mengatakan demikian karena beberapa alasan antara lain, menurut mereka Kitab Deuterokanonika tidak pernah menulis nama Tuhan, atau Tuhan berfirman, menceritakan sejarah yang keliru dan lain sebagainya. Namun, alasan tersebut tidaklah masuk akal dan terkesan kurang wawasan. Bagaimana menanggapi pernyataan-pernyataan itu?. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan.

Pertama, Gereja Katolik meyakini bahwa Kitab Deuterokanonika adalah bagian dari Perjanjian Lama (Kitab yang diilhami oleh Allah) dan kelanjutan dari Kitab Maleakhi. Apabila Kitab Deuterokanonika tidak ada dalam Perjanjian Lama, maka ada sejarah atau kisah yang hilang dari Maleakhi hingga Matius.

Kedua, alasan bahwa dalam Kitab Deuterokanonika tidak ada disebut nama Allah adalah tidak benar. Banyak ayat dalam Kitab Deuterokanonika menyebut nama Allah. Misalnya, “Sebab lubuk hati manusia saja tak dapat kamu selami dan pikiran-pikiran sanubarinya tak dapat kamu mengertinya. Mana boleh kamu mau menyelidiki Allah yang membuat segala-galanya, mengenal budi-Nya serta memahami pikiran-Nya! Sekali-kali tidak, saudara-saudara! Janganlah memurkakan Tuhan, Allah kita!” (bdk. Yudit 8:14). Malahan alasan tersebut akan menjadi bumerang bagi pembuat pernyataan, karena dalam Kitab Ester (yang dianggap kanon) tidak ada disebutkan nama Allah. Beranikah pembuat pernyataan membuang Kitab Ester karena standar yang digunakan harus ada nama Allah?. Saya kira mereka tidak akan berani.

Baca:

Ketiga, sejarah yang ditulis dalam Kitab Deuterokanonika merupakan lanjutan dari Kisah Kitab Maleakhi. Oleh sebab itu, jika seseorang tidak membaca secara berurut maka muncul kekacauan karena muncul gelar-gelar atau nama-nama yang serupa pada kitab sebelumnya. Padahal sejarah tertentu terjadi pada masa yang berbeda, meskipun ada persamaan gelar atau nama.

Keempat, Kitab Deuterokanonika diilhami oleh Allah. Banyak ajaran dalam Kitab Deuterokanonika yang ada atau dikutip oleh Yesus dan para rasul. Beberapa kutipan Deuterokanonika yang ada dalam Perjajian Baru antara lain,

Sirakh 5:11-12, Hendaklah cepat mendengarkan, tetapi laun mengucapkan jawabannya. Jika engkau tahu, hendaklah menjawab sesamamu, jika tidak, taruhlah tangan pada mulutmu. Pesan yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam Yakobus 1:19, Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk Marah;…

Yudit 8:14, Sebab lubuk hati manusia saja tak dapat kamu selami dan pikiran-pikiran sanubarinya tak dapat kamu mengertinya. Mana boleh kamu mau menyelidiki Allah yang membuat segala-galanya, mengenal budi-Nya serta memahami pikiran-Nya! Sekali-kali tidak, saudara-saudara! Janganlah memurkakan Tuhan, Allah kita!. Pesan yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam 1 Korintus 2:10-11.  Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, dsebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.  Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain Roh Manusia sendiri yang ada di dalam dia?demikian pulalah tidak ada yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.

Sirakh 28:2, Ampunilah kesalahan kepada sesamamu, niscaya dosa-dosamupun akan dihapus juga, jika engkau berdoa. Pesan yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam Yoh. 20:23,  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kitab Deuterokanonika adalah Kitab yang diilhami Allah, karena mengandung ajaran yang sama dengan ajaran Yesus. Pertanyaannya adalah mengapa pihak tertentu justru mengurangi Kitab yang diilhami oleh Allah ini dalam kitab mereka? Tidakkah mereka diminta pertanggungjawaban kelak atas pengurangann terhadap Kitab Suci tersebut?. Entahlah. Semoga tulisan singkat ini memberikan wawasan bagi sidang pembaca.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.