Beriman Saja Tidak Selamat

0
419
reenablack / Pixabay

Dalam berbagai kesempatan saya berdiskusi dengan saudara-saudari dari Gereja non-Katolik. Pembahasan yang sering didiskusikan adalah benarkah beriman saja dan pasti masuk surga?. Memang sebagian besar Gereja non-Katolik mengajarkan Sola Fidei (hanya iman) dan Sola Gracia (hanya rahmat) yang dapat menyelamatkan. Sementara itu, Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan perbuatan adalah satu paket. Iman dan perbuatan mendatangkan rahmat atau anugrah dari Tuhan sendiri. Oleh sebab itu Gereja Katolik meyakini bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” [Yak 2:15-17]. Agaknya perbedaan tersebut muncul karena pandangan yang berasal dari pandangan Rasul Paulus dan Surat Yakobus.

Pertama, Rasul Paulus ‘mengajarkan bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum taurat, melainkan karena iman kepada Yesus Kristus’. “Kamu tahu bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh iman dalam Kristus Yesus, sebab itu kami telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat, Sebab:”tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Galatia 2: 15-16). Selain itu dalam Roma 3:28: “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Frase tersebut menjelaskan bahwa iman kepada Kristus terlepas dari tindakan melakukan hukum Taurat. Oleh sebab itu seolah-olah Rasul Paulus mengatakan pembenaran itu hanya melalui iman. Namun, perlu diperhatikan bahwa Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa perbuatan sebagai bukti atau wujud dari iman adalah salah atau tidak perlu. Sementara yang dipermasalahkan Paulus adalah tentang bermegah. Roma 4: 2: “… sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah” Itu artinya Rasul Paulus tidak menentang kesatuan antara iman dan perbuatan, namun ia meminta agar tak seorang pun bermegah karena perbuatan (wujud atau bukti) iman tersebut. Selain itu, Rasul Paulus membahas antara iman pada Kristus dan melakukan hukum Taurat. Ia tidak membahas tentang iman kepada Kristus,  yang satu paket dengan perbuatan kasih (Bdk. Mat. 25:31-46, 7:2. Maka dari itu, pembahasan Rasul Paulus tidak bertentangan dengan ajaran Surat Yakobus.

Baca juga:

Kedua, Yakobus menjelaskan bahwa iman yang benar dilihat dari perbuatan atau iman yang benar terwujud atau tercermin dalam perbuatan. Yakobus menegaskan bahwa seorang yang beriman mengeluarkan perbuatan baik dari perbendaharaannya. Oleh sebab itu, iman dan perbuatan adalah satu paket yang tak terpisah. “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya di atas mezbah?” (Yak. 2:21). Lalu ada yang bertanya mengapa Rasul Paulus mengatakan bahwa Abraham tidak dibenarkan oleh perbuatan, tetapi oleh iman?. Seperti disebutkan pada point pertama, Rasul Paulus membandingkan iman kepada Kristus dan hukum Taurat. Pada konteks itu, Rasul Paulus menjelaskan bahwa Abraham tidak dibenarkan karena melakukan hukum Taurat. Oleh sebab itu, yang dibahas oleh Yakobus dan Rasul Paulus adalah dua konteks yang berbeda. Oleh sebab itu, Yakobus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan dengan melakukan perbuatan, yang merupakan wujud dari iman kepada Allah (bdk. Yak. 2:20,26).

Ketiga, Yesus mengajarkan iman dan perbuatan adalah satu paket. Bahkan dalam penghakiman terakhir Yesus bertanya kepada orang-orang beriman tentang perbuatan yang telah mereka buat selama di dunia (Matius 25:31-46). Bahkan Yesus mengusir orang-orang yang memanggilnya Tuhan (beriman) yang tidak melakukan kehendak Bapa (bdk. Mat. 7:21). Lebih dari itu, Yesus menuntut para murid untuk sempurna seperti Bapa (bdk. Mat. 5:48). Oleh sebab itu, Yesus akan datang membawa upahnya untuk membalas kepada setiap orang menurut perbuatannya (Wahyu 22:12). Tidak heran jika Yesus mengajar para murid untuk menjadi garam dan terang dunia, sebab ketika tiba waktunya akan dituntut pertanggungjawaban dari mereka (bdk. Mat. 3:12). Bahkan ia meminta para muridnya berbuah (ada hasil atau perbuatan baik) kerena pohon yang baik (orang beriman) menghasilkan buah yang baik pula. Setiap orang yang tidak berbuah akan dilemparkan ke dalam api yang tak terpadamkan (bdk.  Mat. 7:16-20). Maka penebusan Yesus bukanlah kesempatan bagi kita berbuat dosa sebanyak-banyaknya, melainka kesempatan bagi kita berbuat baik karena iman yang kita miliki. Dengan demikian ajaran yang mengajarkan bahwa beriman saja cukup atau beriman saja sudah pasti selamat adalah ajaran yang tidak lengkap atau menyimpang dari Alkitab.**

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here