Tuhan Tidak Menghukum Orang yang Tidak Bersalah

0
418
lechenie-narkomanii / Pixabay

Tuhan Tidak Menghukum Orang yang Tidak Bersalah: Renungan Harian Katolik, Jumat 19 Juli 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Kel. 11:10 – 12:14; Injil: Mat. 12:1-8

Cerita Kitab Suci hari ini (bacaan pertama) mengisahkan bahwa orang-orang Israel diperintahkan oleh Tuhan supaya menyembelih anak domba pada waktu senja dan darahnya harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu. Alasan dari perintah ini diutarakan secara sangat gamblang, yaitu supaya apabila Tuhan melihat darah itu, Ia akan melewati mereka; sehingga mereka akan selamat. Tuhan berfirman:

“Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir” (Kel. 12:12-13).

Tanah Mesir akan dihukum oleh Tuhan; tetapi orang-orang Israel diselamatkan-Nya. Mengapa orang Israel harus diselamatkan? Pertama, karena Tuhan menaruh belas kasihan terhadap mereka; dan kedua, karena mereka tidak bersalah di mata Tuhan. Jadi, Tuhan menaruh belas kasihan dan tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

Dalam Injil, Tuhan Yesus bersabda: “Seandainya kalian memahami sabda ini: ‘Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,’ tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat. 12:7).

Konteks dari perkataan Yesus ini adalah: para murid-Nya yang memetik gandum pada hari Sabat dan memakannya. Diceritakan bahwa pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

Dalam perikop ini sudah sangat jelas diterangkan bahwa para murid Yesus memetik bulir gandum KARENA LAPAR. Jika saja mereka tidak lapar, pastilah mereka tidak memetik bulir gandum itu. Jelaslah ini bukan sekedar justifikasi atau pembenaran; tetapi memang mereka sungguh-sungguh lapar; sehingga dengan sendirinya tidak bisa disalahkan. Dan, orang yang tidak bersalah tidak boleh dihukum.

Dari kedua bacaan hari ini, kita mendapat pelajaran bahwa Tuhan tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah; dan Tuhan lebih menghendaki belas kasihan daripada sekedar menegakkan aturan.

Tuhan senantiasa menaruh belas kasihan terhadap semua orang; sehingga orang berdosa, kalau mereka bertobat, diampuni. Analoginya sederhana: orang tua yang baik tidak akan pernah menghukum anaknya yang tidak bersalah. Tapi, anak yang bersalah akan dinasehati; dan kalau memang perlu, dijewer. Tuhan juga begitu. Ia tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah; tetapi orang yang berdosa diberi-Nya teguran supaya mereka bertobat; dan ketika mereka bertobat, Ia mengampuni mereka.

Karena itu, ada dua hal yang patut kita lakukan. Pertama, kita tidak boleh melanggar perintah Tuhan; sebab Tuhan tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Kedua, kalau kita bersalah, kita harus bertobat; sebab Tuhan sayang pada orang yang bertobat.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here