Katolik Menjawab: Bunda Maria Tetap Perawan Selamanya

0
1102
Couleur / Pixabay

Pertanyaan mengenai apakah Maria tetap perawan pada saat dan setelah melahirkan Yesus sering sekali ditanyakan orang. Ini adalah artikel seri ke-3 yang saya tulis untuk menjawab pertanyaan sulit itu.

Ada beberapa kutipan ayat Kitab Suci yang dijadikan dasar oleh orang-orang non-Katolik untuk menolak keperawanan abadi dari Maria – sebagaimana yang diajarkan di dalam Gereja Katolik.

  • Mat. 13:55-56 – “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita?”
  • Mrk. 3:31 – “Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus”.
  • Gal. 1:19 – “Tetapi aku (Paulus) tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus”.

Saya sudah terangkan pada postingan sebelumnya bahwa dalam Kitab Suci Perjanjian Lama istilah ‘saudara laki-laki’ memiliki makna yang luas dan dapat merujuk pada kerabat laki-laki (saudara kandung maupun tiri), saudara-saudara sepupu, mereka yang menjadi anggota keluarga karena perkawinan (ipar) atau karena hukum (saudara angkat), dan tidak selalu karena hubungan darah. Secara khusus dalam bahasa Ibrani atau Aram (bahasa yang diucapkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya), istilah itu digunakan untuk menyebut ‘sepupu’ sebab pada kedua bahasa itu tidak ada kata khusus untuk menyebut ‘sepupu’.

Jika demikian penjelasannya, maka masuk akallah jika Yesus menyebut murid-murid-Nya sebagai saudara dan saudari satu sama lain. Ia berkata: “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara” (Mat. 23:8). Ayat ini jelas tidak bermaksud bahwa semua pengikut Kristus harus lahir dari ibu yang satu dan sama.

Apalagi, jika kita telusuri secara saksama dari contoh Yakobus, salah satu yang disebut sebagai ‘saudara Tuhan’ dalam Injil Matius 13:55, tampak sekali bahwa Yakobus yang dimaksudkan di situ adalah sepupu atau kerabat dari Tuhan Yesus, dan bukan saudara kandung-Nya.

Coba perhatikan baik-baik, Paulus dalam suratnya itu menyebut ‘Yakobus’ sebagai ‘saudara Tuhan’ dan ‘seorang rasul’. Nah, kita tahu bahwa hanya ada dua nama Yakobus dalam barisan kedua belas murid Yesus. Yang pertama adalah Yakobus anak Zebedeus (Mat. 10:2); dan kedua, Yakobus anak Alfeus (Mat. 10:3). Tidak satu pun dari keduanya disebut sebagai ‘anak Yosef’. Jadi, jelaslah, bahwa Yakobus rasul bukan saudara kandung Tuhan Yesus. Titik. Makanya, dalam Katekismus Gereja Katolik (disingkat: KGK) no. 500 dikatakan:

“Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus dan Yosef yang disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria (bdk Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan “Maria yang lain” (Mat 28: 1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama (bdk Kej 13:8; 14:16; 29:15), mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat.”

Orang-orang yang menolak keperawanan abadi Maria juga biasanya mengutip Injil Mat. 1:25 yang bunyinya: “Yosef mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus” (Mat. 1:25). Menurut mereka, ayat ini menandakan bahwa setelah Maria melahirkan Yesus, pastilah Yosef ‘mendekatinya’ (baca: bersetubuh denganya) layaknya suami dan istri.

Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: apakah penggunaan kata ‘sampai’ di situ harus diartikan seperti itu? Ternyata jawabannya: tidak. Kata Yunani ‘Heos’ (artinya: ‘sampai’) tidak bisa secara serampangan diartikan bahwa Maria melakukan hubungan suami-istri dengan Yosef setelah dirinya melahirkan Yesus. Kita bisa melihat perbandingan dari penggunaan kata ini dalam 2 Sam. 6:23. Dalam kitab itu ditulis demikian: “Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.” Pertanyaannya: apakah setelah kematiannya, ia memperoleh keturunan? Pastilah tidak. Nah, begitu juga dengan maksud penggunaan kata itu dalam konteks Maria ini.

Memang, dalam Kitab Suci, kata ‘sampai’ banyak kali digunakan. Kata ini dipakai lebih sebagai suatu ekspresi atau ungkapan; persis seperti dalam penggunaan sehari-hari. Misalnya kita berkata: “Sampai jumpa, Tuhan memberkatimu”. Apakah itu berarti bahwa setelah kita bertemu, Tuhan mengutukmu? Tentu saja tidak kan? Kata ini digunakan semata-mata untuk memberi tekanan pada apa yang sedang dibicarakan. Ada beberapa contoh penggunaan kata ‘sampai’ dalam Kitab Suci.

  • 1 Tim. 4:13 – “Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.” Apakah ini berarti bahwa Timotius harus berhenti mengajar setelah Paulus datang? Tentu saja tidak.
  • 1 Kor. 15:25 – “Karena Ia (Kristus) harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Apakah ini berarti bahwa Kerajaan-Nya akan berakhir? Tentu saja tidak; sebab Luk. 1:33 berbunyi: “Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Itulah sebabnya, ketika kita mengartikan suatu teks, perhatikan apa yang menjadi fokus perhatian penulisnya. Dalam Injil Mat. 1:25, penulis Injil tentu tidak bermaksud untuk menjelaskan apa yang akan terjadi setelah kelahiran Yesus. Ia semata-mata ingin menerangkan bahwa Yosef dan Maria tidak berhubungan sebelum kelahiran Yesus. Yang mau dijelaskan oleh Matius adalah tentang kelahiran Sang Anak (Yesus), yang lahir tanpa melalui hubungan suami-istri, bukan tentang anak-anak lain dari Maria dan Yosef yang lahir setelah Yesus.

Gereja Katolik yakin seyakin-yakinnya bahwa Maria tetaplah perawan seumur hidupnya. Bukti kuat tentang keyakinan ini bisa kita temukan di dalam Injil Luk. 1:34. Ketika Maria dikunjungi oleh Malaikat Gabriel; dan malaikat itu memberi kabar kepadanya, Maria berkata: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Justru aneh rasanya jika ia harus bertanya demikian sementara dirinya sudah bertunangan dengan Yosef, dapat segera menikah, dan kemudian mempunyai anak. Bukankah pernikahannya tinggal menunggu saatnya saja? Perlu diketahui bahwa ‘bersuami’ di sini berarti bersetubuh dengan suami.

Menurut sementara penafsir Katolik, jawaban Maria itu baru punya arti apabila Maria mempunyai kaul (janji) untuk tidak bersetubuh dengan suaminya seumur hidupnya. Jika tidak demikian, jawaban Maria itu kedengaran aneh dan tidak ada artinya.

Lantas, mengapa Yosef ‘mengambil Maria sebagai isterinya’ (Mat. 1:24) jika Maria sendiri tidak mempunyai maksud untuk bergaul intim dengannya layaknya suami dan istri? Setidaknya, ada dua alasan yang bisa disajikan di sini. Pertama, seperti dikatakan dalam Injil Matius bab satu bahwa Yosef adalah keturunan Daud, Raja Israel. Maka, hanya dengan menjadi putra Yosef, Yesus bisa diterima sebagai ‘sungguh putra Daud’ dan Raja Israel (lih. 2 Sam. 7:14). Jadi, sebagai satu-satunya putra Yosef, meskipun hanya anak angkat, Yesus berada pada garis keturunan Daud, pemegang takhta Kerajaan Israel. Kedua, dalam banyak budaya, sangatlah tidak menguntungkan bagi seorang perempuan jika ia kedapatan mengandung di luar perkawinan. Itu artinya, Maria berada dalam bahaya; karena ia mengandung bukan dari hasil perkawinannya dengan Yosef. Kitab Suci menyebutkan bahwa ia mengandung dari Roh Kudus. Maka, Yosef, sesuai dengan apa yang diberitahukan kepadanya dalam mimpinya, ia harus mengambil Maria sebagai istrinya dengan tujuan untuk melindungi Maria dan bayinya.

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-explain-the-perpetual-virginity-of-mary
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/the-case-for-marys-perpetual-virginity
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/how-we-know-mary-was-a-perpetual-virgin-0

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here