Sejarah Masuknya Agama Kristen di Pulau Nias

0
839
Sumber: Museum-Nias.org

Kristen Katolik adalah agama Kristen pertama yang masuk di Pulau Nias, yang dibawa oleh misionaris Prancis tahun 1832. Misi tersebut berasal dari Missions Etrangers de Paris.

Misi yang dibawa oleh misionaris Prancis tersebut berlangsung hingga tahun 1835. Setelah itu, Jean Baptiste Boucho (1845), Vikaris Apostolik dari Peninsula, Malaysia, sangat bersemangat untuk menyebarkan Injil ke Pulau Nias. Semangat itu muncul karena menurut Boucho, orang-orang Nias adalah orang yang baik, sederhana, dan setia pada iman mereka.

Meskipun demikian, Boucho tidak mendapat izin dari College di Penang. Akhirnya tugas misi diserahkan kepada Jean Pierre Vallon dan Jean Laurent Berard. Pada tanggal 14 Desember 1831, Vallon dan Berard berangkat dari Penang dan tiba di Nias pada bulan Maret 1832. Tahun ini merupakan penanda misi Gereja Katolik pertama di Pulau Nias. Namun, misi mulai bergerak secara massif/utuh pada tahun 1939. Banyak orang Nias yang belum beragama Kristen meminta supaya seorang Pastor datang ke Nias. Sejak saat itu, umat Katolik bertumbuh dengan pesat. Adapun  beberapa orang dilatih di Gunungsitoli, sebagai bekal untuk mengajar orang-orang di desa.

Sementara itu, misi penginjilan Kristen Protestan masuk ke Pulau Nias pada tahun 1865, yang dibawa oleh zending (dari bahasa kata bahasa Belanda ‘zendeling‘ yang artinya pengutusan – sebutan untuk misionaris Protestan) yang berasal dari Jerman, Ernst Ludwig Denninger dari Rheinische Missiongesellschaft (RMG).[1] Badan misi tersebut dikirimkan dari Kalimantan. Baptisan pertama dilaksanakan pada tahun 1874.

Pada tahun 1890, jumlah orang Kristen Protestan yang telah dibaptis mencapai 706 orang. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, pertumbuhan gereja berlangsung lambat hingga tahun 1900. Namun, pada tahun 1915, jumlah orang-orang yang telah dibaptis bertambah menjadi 20.000 orang.  Sejak tahun 1915 hingga 1920, Kristen Protestan mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 1921 jumlah orang yang telah dibaptis mencapai 60.000 orang.

Sejak tahun 1936, sinode Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) dibentuk. Hingga tahun 1940 dipimpin oleh misionaris Jerman.[2] Perkembangan pesat umat sejak 1938-1942, 1945-1949 juga menimbulkan perpecahan dalam gereja. Alkitab dalam bahasa Nias diterbitkan pada tahun 1913 dengan memakai dialek bahasa Nias Utara sebagai acuan. Bukan hanya itu, Bahasa Nias Utara juga dijadikan acuan dalam bahasa-bahasa Gerejawi. Kini, masyarakat Nias menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, Budha, Hindu, Konghucu, dan aliran kepercayaan.[3]

Referensi

  • M. Hammerle, Johanes. 2015. Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Nias. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias.
  • Heuken, Adolf J., P. Krissantono, Bernard Mardiatmadja, Tonny S. Tjokrowardojo, Maria Meilany, Emil J. Endy Rukmo, Pius S. Nasar, Stefan Kusdarwanto. 1971. Sedjarah Geredja Katolik Di Indonesia. Jakarta: Cipta Loka Cakara.
  • Gea, Silvester Detianus dan H. Lisman B. S. Zebua. 2018. Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias. Labuan Bajo: Yayasan Komodo Indonesia.
  • [1] Lihat buku ‘Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias’ hlm. 5.
    [2] Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Banua_Niha_Keriso_Protestan
avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here