Katolik Menjawab: Pantaslah Jika Bunda Maria Diangkat Tubuh dan Jiwanya ke Surga

0
384
gracic / Pixabay

Dalam tulisan sebelumnya ‘Katolik Menjawab: Bunda Maria Bukan ‘Naik ke Surga’, tapi ‘Diangkat ke Surga’’, saya sudah menerangkan bahwa memang kadang-kadang orang tidak bisa membedakan antara ‘naik ke surga’ dengan ‘terangkat ke surga’. Bunda Maria bukanlah naik ke surga, melainkan diangkat ke surga. Artinya, ia masuk ke dalam surga atas kehendak dan kuasa Tuhan.

Ada banyak alasan mengapa Bunda Maria pantas diangkat tubuh dan jiwanya ke surga oleh Tuhan. Kita tahu bahwa dengan menjadi manusia, Yesus dilahirkan di bawah hukum Taurat (Gal 4: 4) dan karenanya terikat untuk mematuhi perintah untuk menghormati ibu-Nya. Kata bahasa Ibrani untuk ‘menghormati’ tidak terbatas pada penghormatan semata, tetapi juga sekaligus ‘memuliakan’.

Dengan menjaga tubuh Maria dari kerusakan, Yesus memenuhi perintah untuk menghormati ibunya, tentu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh Anak Allah. Yesus mempunyai kuasa untuk mencegah kerusakan tubuh ibunya, maka tidak mungkinlah Ia tidak melakukannya. Cinta Yesus terhadap ibu-Nya menjadi alasan terkuat bagi pengangkatan Maria ke surga.

Baik juga untuk melihat bagaimana dalam Perjanjian Lama Allah mengajarkan kepada manusia tentang cara memperlakukan hal-hal suci. Objek paling suci bagi bangsa Israel adalah Tabut Perjanjian, karena di dalamnya berisi roti dari surga, tongkat Harun, dan loh-loh hukum.

Tabut itu dilapisi emas dan hanya bisa didekati oleh para imam yang dikuduskan. Ketika seseorang menyentuhnya, terlepas dari niat baiknya, maka orang itu akan mati (lih. 2 Sam. 6: 6-7). Kemuliaan Allah menaungi Tabut Suci itu, dan Mazmur 132:8 mengatakan: “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!”

Dengan melihat bagaimana Tuhan memperlakukan Tabut Perjanian yang tidak hidup itu, St. Robertus Bellarminus mengajukan satu pertanyaan yang sangat mendasar. Ia berkata: “Siapa yang bisa percaya bahwa tabut kekudusan, tempat tinggal Allah, bait Roh Kudus [seperti Maria], hancur menjadi debu? Saya tentu tidak sepakat pada pemikiran bahwa daging perawan yang darinya Tuhan dikandung dan dilahirkan, yang memelihara dan membawa-Nya, berubah menjadi abu atau diberikan sebagai makanan cacing. ”

Dalam Kitab Wahyu kita membaca: “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat” (Why. 11:19).  “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya” (Why. 12:1, 5). Nah, di sinilah Yohanes, penulis Kitab Wahyu, menyebutkan ibu Sang Mesias dalam hubungannya dengan Tabut Perjanjian.  Artinya, berkat kekudusannya, Bunda Maria selalu berada dalam persekutuan yang erat dengan Kristus. Ia adalah tabut Perjanjian Baru yang selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus yang dikandungnya. Maka, jika Henokh dan Elia dapat diangkat oleh Tuhan ke surga (Kej. 5:24; Ibr. 11:5; 2 Raj. 2:11-12; 1 Mak. 2:58), tentu terlebih lagi Tuhan Yesus dapat melakukan hal itu terhadap ibu-Nya sendiri.

Dengan keperawanannya yang tetap selamanya, Bunda Maria menunjukkan kesempurnaan kasihnya yang tak terbagi kepada Tuhan (lih. 1 Kor. 7:34) dan persembahan jiwa dan tubuhnya bagi Tuhan. Maka, dengan dogma ini dimaksudkan bahwa Maria dimuliakan dalam dan pada Allah.

Kita perlu tahu bahwa pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah (lih. Rm. 8:17; 1 Kor. 15:23). Bunda Maria adalah seorang yang telah membuktikan kesetiaannya dan bertahan dalam iman sampai akhir hidupnya, makanya ia beroleh penggenapan janji Tuhan. Ia menjadi yang pertama dari seluruh orang beriman menerima janji Kristus akan mahkota kehidupan abadi (lih. Yak. 1:12; 1 Kor. 9:25; Why. 2:10).

Stefanus Tay dan Inggrid Listiaty Tay, dalam buku mereka ‘Maria O Maria: Bunda Allah, Bundaku, Bundamu’ memberi penjelasan bahwa sesungguhnya dogma tentang ‘Bunda Maria Diangkat ke Surga’, bukan semata-mata hanya untuk menghormati Bunda Maria, tetapi juga untuk mengingatkan akan pengharapan kita sebagai umat beriman, yaitu bahwa jika kita setia beriman sampai akhir seperti Bunda Maria, kita pun akan diangkat ke surga, tubuh dan jiwa, dan memperoleh mahkota kehidupan (lih. Tay, Stefanus & Inggrid, hlm. 114).

Referensi:
Tay, Stefanus & Listiati, Inggrid. 2016. Maria, O Maria. Bunda Allah, Bundaku, Bundamu. Surabaya: Penerbit Murai Publishing.
Pidyarto, H. 2015. Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Malang: Penerbit Dioma.
Dister, Nico Syukur. 2004. Teologi Sistematika 2. Yogyakarta: Kanisius.
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/how-to-argue-for-marys-assumption
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/assumptions-about-mary
https://www.catholic.com/qa/where-in-the-bible-does-it-say-that-mary-was-assumed-into-heaven
https://www.catholic.com/tract/immaculate-conception-and-assumption

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here