Tuhan Baik, Maka Janganlah Ingkar Janji — Renungan Harian

0
173
NickyPe / Pixabay

Tuhan Baik, Maka Janganlah Ingkar Janji: Renungan Harian Katolik, Jumat 16 Agustus 2019 — JalaPress.com; Bacaan I: Yos. 24:1-13; Injil: Mat. 19:3-12

Dalam bacaan pertama hari ini, kita membaca atau mendengar cerita tentang tokoh Yosua yang memanggil semua suku Israel dan mengumpulkan mereka di Sikhem. Tujuannya: untuk mengajak mereka agar mengadakan pembaharuan perjanjian di hadapan Tuhan.

Yosua mengingatkan orang-orang Israel tentang apa yang Tuhan sudah kerjakan atas mereka; dan apa pula yang Tuhan kehendaki dari mereka. Ia secara terus-terang memberitahukan kepada mereka bahwa Tuhan sudah sangat berjasa atas hidup mereka. Dialah yang mengambil leluhur mereka, Terah, ayah Abraham dan Nahor, dari Mesopotamia; mengeluarkan mereka dari Mesir; dan menuntun mereka masuk ke tanah terjanji.

Yosua menyadarkan bangsa itu bahwa sejak lama Tuhan ada di pihak mereka. Buktinya: Ia menyingkirkan orang-orang yang berniat menghambat perjalanan nenek moyang mereka masuk ke tanah terjanji. Yosua menceritakan bagaimana nenek moyang mereka bertempur dan mengalahkan bangsa-bangsa lain dalam perjalanan menuju tanah terjanji itu. “Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu” (Yos. 24:12). Artinya, kemenangan yang mereka terima itu tidak akan pernah terjadi kalau bukan atas campur tangan Tuhan. Tuhan bersabda:

“Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya” (Yos. 24:13).

Tanah terjanji adalah ‘suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya’ (lih. Kel. 3:17; Ul. 31:20); suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga (Ul. 8:7-9).

Negeri ini diberikan oleh Tuhan kepada bangsa pilihan-Nya, yaitu Israel. Di sini mereka akan makan dan akan kenyang. Harapannya agar dengan memasuki negeri yang baik yang diberikan-Nya kepada mereka itu, maka mereka akan memuji TUHAN. “Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu” (Ul. 8:10).

Namun, terkadang ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Makanya, jauh sebelum mereka menempati tanah itu, Musa sudah mewanti-wanti: “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini” (Ul. 8:7-11).

Nasihat yang disampaikan oleh Musa ini diperjelas dengan perkataan Tuhan sendiri. Tuhan berkata kepada Musa: “Mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjian-Ku akan diingkari mereka” (Ul. 31:20).

Itulah sebabnya, sejak awal, Tuhan sudah berpesan kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu. Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka” (Im. 18:2-3).

Tidak ada keterangan yang jelas mengenai kebiasaan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang Mesir dan orang-orang Kanaan itu sehingga dilarang. Tapi, kiranya, dari ayat-ayat selanjutnya, kita dapat tahu bahwa cara hidup yang tidak diperbolehkan dilakukan oleh orang Israel adalah cara hidup yang tidak menghormati wadah pernikahan.

Kitab Imamat 18:1-30; 20:1-27 memuat sejumlah peraturan mengenai kudusnya perkawinan. Maka, nyambung dengan bacaan Injil hari ini yang juga berbicara mengenai perkawinan. Tapi, topik mengenai perkawinan itu akan saya bahas dalam postingan yang lain; dan tidak dalam bentuk renungan, melainkan Katekese.

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here