Dalam Diri Yesus, Allah yang tadinya tidak Kelihatan menjadi Kelihatan

0
555
ivanovgood / Pixabay

Saya cukup sering menonton video live streaming dari Christian Prince, seorang pria keturunan Arab, yang akhir-akhir ini viral di media sosial, karena aksinya berdebat dengan saudara-saudari Muslim, tentang banyak hal menyangkut ajaran Islam.

Namun, di sini, saya tidak akan membahas tentang apa saja yang dia sampaikan menyangkut Islam, karena hal itu bukan bidang saya. Yang ingin saya terangkan justru adalah hal-hal yang biasanya ditanyakan oleh para penanya kepada Christian Prince, terutama berkaitan dengan ajaran iman Kristiani.

Dari sekian banyak hal yang sering ditanyakan, salah satunya adalah soal ketuhanan Yesus. Tampaknya, mereka cukup kesulitan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan; sebab menurut mereka, tidak mungkinlah seorang manusia ‘diangkat’ menjadi Tuhan. Mereka berkeyakinan bahwa Yesus ‘diangkat’ menjadi Tuhan pada Konsili Nicea 325. Padahal, jelas sekali bahwa Konsili Nicea dimaksudkan untuk menolak ajaran Arius, yang mengajarkan bahwa Kristus hanyalah ciptaan Allah dan bukan Allah. Konisili ini merumuskan suatu pernyataan iman, didasarkan pada syahadat pembaptisan yang digunakan di Yerusalem, untuk menegaskan kembali keilahian Kristus, dan bukannya mengangkat Yesus sebagai Tuhan.

Tidak sedikit orang di luar sana mendapat pemahaman yang keliru tentang keilahian Yesus. Mereka mengira bahwa Yesus adalah manusia yang diangkat menjadi Tuhan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia menjadi manusia.

Sejarah panjang ‘Allah yang menjadi manusia’ bermula dari Perjanjian Lama. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Allah secara berulangkali menyampaikan pesan-Nya kepada umat-Nya, meski Ia sendiri tidak memperlihatkan wajah-Nya. Ibaratnya ‘ada suara tapi tidak ada gambar’. Namun Musa pernah punya kesempatan untuk menatap wajah Allah, tapi ia tidak mampu. Musa menutup mukanya karena takut menatap wajah Allah (lih. Kel. 3:6).

Memang, pada dasarnya Allah tidaklah kelihatan. Bacaan pertama hari ini (Kol. 1:15-20) turut menegaskan hal itu. Mengapa? Karena Allah adalah Roh; atau oleh penginjil Yohanes disebut ‘Firman’. Mata kita tidak bisa melihat Roh Allah. Tapi, pada suatu masa tertentu, Allah yang adalah Roh itu, masuk ke dalam daging dan mengambil rupa manusia (inkarnasi, kata serapan dari bahasa Latin ‘in carne’ – in artinya masuk, dan carne berarti daging).

Injil Yohanes mencatat: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1, 3, 14). Allah yang tadinya tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam diri Yesus Kristus. Kristuslah gambar-Nya. Jadi, Yesus adalah pernyataan diri Allah; Dia sungguh Allah sungguh manusia; sehingga Allah yang tadinya hanya memperdengarkan suara-Nya, kini dalam diri Yesus, juga memperlihatkan wajah-Nya.

Turunnya Allah yang Mahasuci ke dalam dunia menjadi seorang manusia: Yesus Kristus, lahir dalam keadaan bayi, tumbuh normal seperti manusia lainnya, dewasa dan mengalami kematian dalam misi penyelamatan bagi umat manusia dari dosa. Kematian Allah yang inkarnasi ini tidak selamanya, sebab Ia bangkit, dan Ia kembali naik ke Surga.

Pernah ada orang bilang begini: “Jika Yesus itu Tuhan, sebutkan satu ayat saja dalam Kitab Suci yang memuat kata-kata Yesus: ‘Aku Tuhan, sembahlah Aku!’”

Kalimat “Akulah Tuhan, sembahlah Aku,” tidak pernah keluar dari mulut Yesus; dan karenanya tidak kita temukan di dalam Kitab Suci. Alasannya jelas: Yesus, yang adalah Allah, sudah merendah serendah-rendahnya, mengambil rupa manusia dan menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Ia sangat konsisten dengan tujuan kedatangan-Nya itu, sehingga Ia tidak akan mungkin berkata “Aku Tuhan, sembahlah Aku”.

Lantas, bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan? Kitab Suci memberitahu kita bahwa Yesus seringkali membiarkan para pendengar-Nya mengenal siapa diri-Nya dari apa yang dilakukan-Nya. Makanya, ketika Yohanes Pembaptis menyuruh murid-muridnya bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:2-5; Luk. 7:22).

Pertanyaannya sederhana: adakah manusia biasa yang mampu melakukan hal-hal seperti itu? Jelas tidak ada. Yesus bisa karena Dia punya kuasa. Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia bahkan menegaskan: “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh. 8:58). Mengapa Yesus mengatakan demikian? “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16).

Sekalipun Yesus tidak secara langsung menyebut diri-Nya Tuhan; dan tidak menyuruh orang lain untuk menyembah diri-Nya, tetapi Ia seringkali mengafirmasi apa yang dikatakan orang mengenai diri-Nya. Jadi prinsipnya, setelah orang melihat apa yang dilakukan-Nya, orang lalu mengenal diri-Nya sebagai Tuhan, dan Yesus mengafirmasi perkataan itu.

Referensi:
Kristiyanto, Eddy. 2002. Gagasan yang Menjadi Peristiwa. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hlm. 73.
https://www.catholic.com/encyclopedia/incarnation
https://www.catholic.com/magazine/online-edition/did-the-incarnation-cause-god-to-change
https://www.catholic.com/magazine/print-edition/eternally-begotten-son
http://www.katolisitas.org/apa-yang-terjadi-di-konsili-nicea-325/

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & CICM Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here