Aku Menemukan Tuhan di Jalan Katolik

0
2436

Cerita ini adalah pengalaman pribadi dan perjalanan spiritual dan spiritual yang penting di dalam hidupku. Aku harap cerita ini dibaca dengan mata dan hati yang terbuka. Terima kasih banyak.

Pada suatu hari di bulan Maret 2013, pada saat sebelum mengajar yoga di studio yoga, aku merasakan kekosongan jiwa yang begitu mendalam. Hati ini rasanya bergejolak terus mencari sesuatu yang tidak aku mengerti bentuknya. Pada waktu itu, saya mencoba menjawab jiwa dengan doa yang pada waktu itu saya ucapkan sehari-hari dari agamaku yang dulu, namun tetap saja jiwa ini terasa hampa. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk doa permohonan Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan di dalam hati. Doa-doa ini kupelajari pada saat aku bersekolah di sekolah Katolik. Ajaibnya, setelah selesai menyelesaikan tiga doa tersebut, hati dan jiwa ini terasa nyaman, bahagia dan penuh. Tak ada lagi kekosongan batin yang meresahkan jiwa. Buat aku merasa tenang dan damai.

Dari kejadian ini, timbullah dari diriku sendiri untuk pergi ke gereja dan mencoba beribadah di sana. Rencana ini harus kutunda dari pada akhir bulannya, aku harus ke Bali untuk menjadi sukarelawati di acara Bali Spirit Festival. Memasuki pertengahan bulan April, aku pun mulai beribadah di gereja, tempat dimana aku menemukan kedamaian yang luar biasa. Menyenangkan perjalanan menuju gereja pun terasa penuh kesenangan dan menguntungkan.

Pada saat mau berangkat ke gereja, semuanya terasa lancar, bahkan pada jam-jam sebagaimana seharusnya semua kendaraan keluar pada saat jam pulang kantor. Ada saat-saat di mana ada hujan datang, ada kemacetan di jalan raya, dan ada kesulitan mencari transportasi. Namun demikian, selalu dengan tiga percakapan yang kusebutkan diawal cerita ini, hujan berangsur-angsur berhenti, jalan terasa lancar dan transportasi selalu ada di depan mata Buatku, ini adalah yang disetujui yang disetujui Tuhan.

Pada saat memasuki Lingkungan gereja, pada saat misa akan dimulai, akan terdengar bunyi lonceng kecil di gereja yang menandakan bahwa misa akan segera dimulai. Bunyi lonceng gereja ini begitu lembut dan lembut, dan hanya terdengar di dalam lingkungan gereja dan untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Dari sini saja, saya sudah dapat merasakan bahwa panggilan untuk beribadah yang lembut ini bisa jadi merupakan simbol bahwa Tuhan di agama Katolik ini begitu lembutnya memanggil para umat-Nya.

Pada saat duduk di dalam gereja dan mengambil ibadahnya, aku jadi mengerti bahasa yang dipakai di dalam ibadahnya. Kadang-kadang, aku ikut misa dalam bahasa Indonesia. Kadang-kadang juga aku mengikuti misa dalam bahasa Inggris. Aku begitu mengenal dua bahasa ini, begitu doa diucapkan, doa ini begitu merasuk ke jiwaku dan dapat kumengerti dan kucerna dengan mudah. Doa-doa di misa ini begitu sederhana, pendek dan menyenangkan, karena para pastor dan para umatnya juga menyanyikan sebagian dari doa yang diucapkan. Semua doa yang diucapkan dan dinyanyikan oleh para pastor dan para umat dan semua sabda yang dibagikan oleh para pastor berisi tentang cinta kasih, kenikmatan, pengampunan dan keagungan Tuhan. Kadang-kadang, para pastor juga berbagi cerita tentang sikap gereja tentang topik-topik dan pertanyaan yang sedang populer di masyarakat, namun pembahasannya melalui persetujuan cinta dan kebaikan, sementara ada salah satu pastor yang selalu meminta para umatnya untuk memegang hati kami sendiri sebelum mendengarkan sabda Tuhan agar hati kami dapat membuka untuk menerima sabda Tuhan. Biasanya, mendengarkan firman Tuhan dari pastor yang satu ini akan membuat mataku menitikkan air mata karena sangat terharu karena dapat membalikkan hati para umat. Sungguh semua ibadah yang ada di gereja ini membuat hatiku menjadi lebih damai dan bahagia.

Di dalam ibadahnya, laki-laki dan perempuan ditempatkan sejajar dan dapat duduk bersama saling berdampingan. Aku bisa sebagai perempuan bisa beribadah kapan saja aku mau, bahkan ketikq aku mendapatkan halangan yang datang kapan saja. Tuhan di agama Katolik ini benar-benar baik hati mau menerima semua umat-Nya bersama dan berdampingan tanpa harus dipisah, dan dalam keadaan dan kondisi tubuh dan kesehatan apa pun.

Berpakaian dalam ibadah agama Katolik ini pun tidak sulit. Cukup mengenakan pakaian yang sopan dan pantas, maka kami dapat menerima ibadah dengan nyaman. Ini semua memang karena hanya hati yang terbuka yang perlu diambil diambil ibadah di gereja. Aku pun sebagai perempuan tidak perlu mengenakan kostum khusus di gereja atau di luar gereja sebagai bentuk ketaatanku di agama Katolik ini. Buatku, terasa sekali agama Katolik ini sederhana dan tidak sulit. Agama Katolik ini mengajarkan mendukung keimanan tumbuh dari hati yang terbuka dan tulus, bukan dengan mengenakan kostum tertentu.

Setelah selesai misa, aku pun masih terus menerima kehadiran Tuhan di dalam lingkungan gereja ini.

Para pastor biasanya akan berada di belakang gereja setelah selesai misa untuk beramah tamah dan menyalami para umatnya satu per satu, baik laki-laki dan perempuan, dan memberikan berkat kepada umatnya jika diperlukan. Buatku, bersalaman dengan para pastor ini adalah suatu berkat khusus. Bila bersalaman adalah tanda dari sebuah perdamaian, maka bersalaman dengan pastor adalah berkat perdamaian dari Tuhan sendiri yang diberikan melalui perantaraan para pastor ini. Terasa sejuk sekali di hati ini. Semoga Tuhan selalu memberkati para pastorku tercinta!

Pada suatu waktu, aku bertemu dengan seorang wanita dari Filipina yang membagikan satu-satunya kertas doanya kepadaku setelah misa selesai. Waktu aku menolak karena petidak pantas menerima kertas doa yang mungkin saja masih diperlukan oleh sang ibu ini, dia meminta aku tidak perlu kuatir karena dia akan selalu mendapatkan kertas doa yang lain dari gereja. Sungguh suatu manfaat untuk berbagi yang tulus! Kertas doa yang diberikan ibu ini berisi doa Koronka kepada Kerahiman Ilahi dalam bahasa Inggris yang diambil dari buku harian Santa Maria Faustina, yang akhirnya menjadi nama Krismaku.

Di dalam dan di luar gereja pun kami dapat menemukan kertas doa yang tersebar di seluruh sudut gereja, baik dalam bentuk buku, selebaran, brosur dan foto kopian. Biasanya, para umat sendiri yang menempatkan kertas-kertas doa ini sebagai tanda rasa bersyukur dengan doa-doa mereka dikabulkan oleh Tuhan.

Di dalam diriku sendiri, aku menemukan kesembuhan setelah sering mengikuti ibadah misa di gereja dan berdoa dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama Katolik ini. Ada banyak luka batin yang ada di tubuhku dan ada sesuatu yang menempel di tubuhku. Dulu, dua hal ini tidak mau dipulihkan dan hilang dari tubuhku. Setelah sering ke gereja dan berdoa dengan cara yang sesuai dengan agama Katolik, luka batin itu pelan-pelan sembuh dan apq yang menempel di tubuhku pun pelan-pelan lepas dan menghilang. Kini hidupku menjadi terasa lebih ringan dan bahagia, dan aku pun lebih bahagia tentram dan damai. Aku percaya bahwa Tuhan memang mau menyembuhkan aku dengan cara-Nya yang sangat istimewa ini.

Dari Kegiatan di gereja, saya juga belajar tentang indahnya Berbagi. Semakin sering kami berbagi, maka kami pun akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan mungkin lebih baik dan meluap, yang pada akhirnya kami harus bagikan kembali. Sebuah siklus yang diputar! Di gereja, kami dibor untuk berbagi mulai dari beramal dengan memasukkan uang ke kotak kolekte, kotak pemeliharaan gereja, kotak kebersihan, dan aktif dalam berbagai kegiatan lain selain misa. Hal-hal ini begitu membekas di pikiranku, jadi sekarang aku senang berbagi apa pun kepada orang lain.

Baca Juga:

Akhirnya, aku memutuskan untuk menjalani proses Katekumen, yaitu pembelajaran bagi para kandidat baptis (Katekumenat). Bersama dengan para katekumenat yang lain, kami belajar agama Katolik adalah warta gembira bagi yang mencarinya dan bahwa Tuhan itu adalah cinta kasih yang hidup di hati dan perbuata kami. Aku sendiri pun akhirnya mengambil kesimpulan sendiri bahwa Tuhan itu harus dicari oleh penganutnya sendiri dan agama harus dipelajari oleh orang yang mau menganutnya. Pada saat proses Katekumen ini, aku mendapatkan lagi keajaiban dari Tuhan, yaitu proses pembaptisanku dipercepat menjadi awal bulan Desember 2013 dari jadwal yang dikeluarkan, yaitu Maret 2014. Dari kejadian ini, aku benar-benar merasakan cinta kasih Tuhan yang luar biasa. Dia tidak mau menunggu aku terlalu lama menunggu di depan halaman rumah-Nya untuk betul-betul masuk ke rumah-Nya. Sementara di dalam bayanganku, Tuhan tidak hanya membuka pintu rumah-Nya lebar-lebar, namun Dia juga memegang tanganku dan menariknya agar aku bisa segera masuk ke dalam rumah-Nya dan memeluk-Nya dengan erat.

Kerinduanku terhadap Tuhan benar-benar terjawab lengkap. Aku masuk ke jalan-Nya yang beragama Katolik ini dan menemukan-Nya di jalan ini. Tidak hanya menemukan Tuhan, namun Tuhan pun datang sendiri kepadaku dan menerima aku istimewa melalui berkat, kemudahan, kebaikan, kesembuhan dan keajaiban yang Dia tunjukkan dan berikan kepadaku. Aku percaya dia telah menyelamatkan aku dari jalan yang kurang tepat untuk diriku sendiri.

Tuhanku yang sekarang ini begitu baik. Aku mencintai-Nya. Terima kasih, Tuhanku yang baik.

Jadi, dulu namaku adalah Astrid Amalia. Sekarang, namaku adalah Theresia Maria Faustina Astrid Amalia. Theresia adalah nama baptisku yang kuambil dari Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, si Bunga Kecil dan Jalan Kecil yang juga merupakan Pelindung Misi dan Doktor Gereja. Maria Faustina adalah nama Krismaku yang kuambil dari Santa Maria Faustina yang menulis buku harian tentang Kerahiman Ilahi.

Setelah benar-benar memeluk agama Katolik secara resmi, aku benar-benar merasakan berkat Tuhan yang luar biasa indahnya. Saya sebagai manusia biasa dapat saja mengeluarkan sekuat tenaga dengan kekuatanku sendiri, namun jika ditambah dengan doa langsung kepada Tuhan atau pun melalui perantaraan Yesus Kristus, Bunda Maria, Yosef, para Roh Kudus, para Malaikat dan para Santo dan Santa, maka diharapkan akan jauh lebih banyak baik dan lebih dahsyat yang membuat saya kebanjiran berkat yang pada akhirnya harus dibagi kepada sesama. Sekali lagi, ini adalah siklus yang dipersiapkan Tuhan yang memanggilku.

Selama proses spiritual dan rohani ini, jauh dari semua dukungan yang datang dari para sahabat-sahabat dan sebagian kecil dari keluargaku yang mengerti aku, aku pun membutuhkan perjalanan yang berliku yang datang dari luar diriku. Tentunya tidak ada jalan yang selalu mulus.

Saat tau bahwa aku sudah sering beribadah ke gereja, salah satu kerabat terdekat dari keluargaku mengatakan bahwa aku pindah agama, maka aku akan menambah dosa orang tuaku dan mereka akan ke neraka. Jawab saya saat itu adalah jika karena keputusan untuk pindah agama itu datang dari diri saya sendiri,saya harus ke neraka . Orang tuaku malah akan masuk surga karena telah memberikan pendidikan beragama yang lebih dari cukup, yaitu pendidikan agama yang dulu aku anut di rumah dan pendidikan agama Katolik di sekolah.

Setelah dibaptis, salah satu temanku mengatakan agama Katolik itu dengan begitu rendahnya, dan dia juga mengatakan sebuah kata yang menyiratkan bahwa aku penganut agama Katolik tidak pantas berkomentar untuk memperbaiki gerakan agama lain. Di dalam hati, aku hanya berucap bahwa biarlah agama Katolikku ini penuh dengan kekurangan kami umat-Nya semakin rendah hati dalam menjalankan ibadah kami, dan biarlah aku dicap sebagai penganut agama Katolik demgan cara hidup,yang berbeda dengan agama lain.

Perjalanan spiritual dan rohaniku belum selesai. Aku percaya bahwa masih akan ada perjalanan spiritual dan spiritual yang diberikan Tuhan yang perlu tetap menarik dan berharga. Aku menghargai sekali Tuhanku yang sekarang ini mau menyediakan waktu-Nya yang berharga untuk mengetuk hatiku dan memenangkanku dengan cara-Nya yang bermanfaat sekali melalui agama Katolik yang aku anut sekarang, dan pada akhirnya Dia pun tinggal di dalam diriku. Semoga Tuhan dan Berkat-Nya ini selalu bertahan di dalam diriku selamanya.

Sekali lagi, Tuhanku yang sekarang ini begitu baik. Aku mencintai-Nya. Terima kasih, Tuhanku yang baik.

Dei Gratia. Berkah Dalem. Semoga aku dan semua makhluk hidup di alam semesta ini selalu diberkati oleh kemuliaan dan keagungan Tuhanku yang baik hati sekarang dan selama-lamanya. Amin

Sumber:astridamalia.blogspot.com

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here