Credo:…dan Segala Sesuatu yang Kelihatan dan Tak Kelihatan

0
333
karigamb08 / Pixabay

Credo Konstantinopel atau syahadat panjang secara gamblang mengatakan bahwa umat beriman ‘percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan’.[1] Dengan kata lain umat beriman percaya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Santo Yohanes Paulus II, dalam sebuah ‘udienza generale’ (20 Agustus 1986) menyatakan bahwa ‘Katekese kita tentang Allah, Pencipta segala sesuatu yang tidak kelihatan juga, menerangi dan menguji iman kita tentang segala sesuatu berkaitan dengan kebenaran tentang kejahatan atau iblis, yang tentu saja tidak dikehendaki oleh Allah yang maha kasih dan maha kudus, dimana penyelenggaraan Ilahi yang bijaksana dan kuat menuntun keberadaan kita untuk menang atas kuasa kegelapan (il principe delle tenebre).

Meskipun demikian, kekuatan iblis terbatas dan tunduk pada kekuasaan Allah. Seperti kita ketahui, iblis telah menyebabkan penderitaan baik secara jasmani maupun rohani bagi semua orang. Namun pada kenyataannya iblis tidak mampu mengubah akhir hidup manusia yang terarah dan menuju kepada Sang sumber hidup, yakni Allah. Karena karya kejahatan berlawanan dengan kebaikan (bdk. Rm. 8.28). Selain itu, Yesus sendiri telah memberikan kuasa kepada para murid untuk mengusir iblis-iblis (bdk. Mrk. 16:17-18).[2]

Rasul Paulus dalam beberapa suratnya mengingatkan umat beriman untuk melawan kuasa-kuasa kegelapan, roh-roh jahat (bdk. Ef. 6:12). Para penulis Kitab Suci mencatat bahwa kemenangan paripurna akan diperoleh melalui kebaikan (bdk. Why. 12:7-9). Di dalam Kristus umat beriman akan dibebaskan dari segala kuasa kegelapan, sehingga Allah akan menjadi semua di dalam semua (bdk. Kol. 1:13-14, 15, 28).

Setidaknya ada dua istilah yang digunakan dalam Kitab Suci yang mengacu kepada iblis. Pertama, berasal dari kata Ibrani śtn yang artinya dia yang bertindak sebagai musuh atau lawan (bdk. 1 Sam. 29: 4; 2 Sam. 19:22-23; Mzm. 109:6, 1 Raj. 5:4). Kedua, berasal dari kata Yunani ‘diabolos’ atau daimonia yang mengacu kepada sosok si jahat atau roh-roh jahat dan kaki tangan iblis. Menurut tradisi pasca pembuangan, iblis menjadi bagian dari dewan surga. Oleh sebab itu, ada beberapa simbol yang digunakan untuk menunjukkan tingkatan tersebut, antara lain: belijàal (tuan para kambing atau Azazel), Baalzebul atau beelzebul (tuan para lalat).[3]

Baca Juga:

Makhluk selalu berlawanan atau menjadi lawan dari iblis adalah malaikat. Malaikat (Malakh) berperan sebagai utusan untuk menyampaikan kabar atau ‘firman Tuhan’ kepada para nabi. Namun, sering juga kata malakh mengacu pada singgasana Allah. Oleh sebab itu, kita mengetahui ada tiga hirarki yaitu Kerubim, Serafim dan Ufarim, yang berkembang sepuluh tingkat sesuai fungsinya. Malaikat-malaikat Agung yang sering disebut dalam Kitab Suci adalah Rafael, Mikhael dan Gabriel.

Pertama, kisah Malaikat Rafael dapat kita temukan dalam Kitab Suci terutama Kitab Deuterokanonika Tobit (Tobit 3:17, 12:15). Rafael berperan dalam penyembuhan mata Tobiat yang buta dan menjadi pelindung bagi Tobias dalam upaya mencari obat untuk menyembuhkan ayahnya. Memang nama Rafael berarti Allah yang menyembuhkan atau Allah menyembuhkan. Kedua, kisah Malaikat Mikhael dapat kita temukan dalam Surat Yudas yang bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa. Mikhael tidak berani menghakimi Iblis dengan kata-kata hujatan, tetapi Malaikat Mikhael berkata kepada Iblis: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’ (bdk. Yud. 1:9). Ketiga, kisah Malaikat Gabriel dapat kita temukan dalam Injil Lukas yang memberitahukan kabar sukacita kelahiran Yesus kepada Bunda Maria (bdk. Mat. 1:18-23).

Yesus sendiri dalam setiap pewartaannya selalu menunjukkan bahwa setiap orang harus melawan iblis. Perlawanan terhadap iblis merupakan misi pewartaan Yesus. Yesus menekankan hal tersebut agar kerajaan Allah dapat diterima oleh setiap orang. Penulis Injil Yohanes menegaskan bahwa Yesus adalah tokoh utama yang menentang iblis sebagai penyebab terjadinya kejahatan moral. Dengan demikian, malaikat dan iblis sungguh-sungguh ada. Iblis sendiri berusaha menghalangi rencana Allah di dunia. Meskipun demikian, Yesus Kristus telah memenangkan pertarungan dengan iblis.

Dalam upacara pembaharuan janji baptis (malam paskah) umat beriman selalu ditanya: “Apakah saudara-saudari menolak godaan-godaan iblis dalam bentuk takhayul, perjudian dan hiburan tidak sehat?”. Pertanyaan tersebut menunjukkan pengakuan tentang keberadaan roh-roh jahat di dunia. St. Yustinus Martir membedakan peran iblis dan malaikat. Menurutnya, iblis berperan untuk menjauhkan manusia dari tujuan akhir hidupnya. Sementara para malaikat bertindak sebagai penjaga manusia.

Pendapat Para Ahli

Beberapa ahli memberikan pendapat terkait keberadaan iblis. Pertama, menurut Karl Rahner, tidak ada alasan untuk menempatkan doktrin tentang iblis pada level atas dalam hirarki kebenaran. Namun bukan berarti iblis itu tidak ada, melainkan argumen tersebut hendak menyampaikan bahwa doktrin tentang iblis tidak ditemukan dalam level atas doktrin iman Katolik. Pembahasan tentang keberadaan iblis dapat ditemukan dalam diskursus Paus Paulus VI, yang menjelaskan tentang iblis sebagai sebuah eksistensi personal yang aktif dan berdampak. Selain itu, keberadaan malaikat dan iblis juga dibahas dalam dokumen Konsili Lateran IV (1215). Dokumen tersebut membahas tentang roh-roh jahat yang diciptakan oleh Allah dalam keadaan baik, namun mereka bertransformasi ke dalam kejahatan. Mereka inilah yang menjerumuskan manusia hingga jatuh dalam dosa (DS 800). Kedua, menurut A. Bultmann, segala yang dikatakan tentang iblis dalam Perjanjian Baru bukan pesan pewahyuan yang mengikat, melainkan gambaran dari dunia para penulis Kitab Suci.**

Catatan Kaki:

[1] Puji Syukur No. 2.

[2] Ada kasus tertentu yang hanya dapat diusir melalui eksorsisme.

[3] Kamus Alkitab.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here