Tidak Ada Keselamatan di Luar Gereja

0
347

Oleh Fr. Ray Ryland

Mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa “tiada keselamatan di luar Gereja”? Bukankah ini mengkontradiksi Kitab Suci? Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:4) “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Petrus menyatakan kepada kaum Sanhedrin, “keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12).

Karena Allah bermaksud (berencana, menghendaki) agar setiap manusia harus ke sorga, bukankah pengajaran Gereja [ini] sangat mengekang lingkup penebusan Allah? Apakah Gereja mempunyai maksud — sebagaimana Protestant dan (saya curiga) banyak umat Katolik yakini — bahwa hanya anggota Gereja Katolik yang dapat diselamatkan?

Ini adalah apa yang diajarkan oleh seorang imam di Boston, Fr. Leonard Feeney SJ, mulai ajarkan pada tahun 1940’an. Uskupnya dan Vatikan mencoba meyakinkan dia bahwa interpretasi dia akan pengajaran Gereja tersebut adalah salah. Dia bersekieras di dalam kekeliruannya sehingga pada akhirnya dia di ekskomunikasi, akan tetapi oleh kerahiman Allah, dia berekonsiliasi dengan Gereja sebelum dia wafat pada tahun 1978.

Dalam mengkoreksi Fr. Feeney di tahun 1949, Kongregasi Suci Agung dari Kementerian Suci (sekarang Kongregasi bagi Doktrin Iman) mengeluarkan sebuah dokumen berjudul “Suprema Haec Sacra”, yang menyatakan bahwa “extra ecclesiam, nulla salus” (diluar Gereja, tiada keselamatan) adalah “sebuah penyataan infalibel”. Tetapi, ia menambahkan, “dogma ini haruslah dimengerti dalam artian yang dalam mana Gereja sendiri memahaminya.”

Perhatikan kata “dogma” tersebut. Pengajaran ini telah diproklamasikan oleh, diantara yang lain, Paus Pelagius pada tahun 585, Konsili Lateran ke-empat tahun 1214, Paus Innosensius III tahun 1214, Paus Bonifacius VIII tahun 1302, Paus Pius XII, Paus Paulus VI, Konsili Vatikan Kedua, Paus Yohanes Paulus II, dan Kongregasi bagi Doktrin Iman dalam “Dominus Iesus”.

Maksud kita adalah ini: Saat Gereja secara infalibel mengajarkan “extra ecclesiam, nulla salus”, ia tidak mengatakan bahwa non-Katolik tidak dapat diselamatkan. Faktanya, ia menegaskan sebaliknya. Tujuan dari pengajaran itu adalah untuk mengatakan kepada kita BAGAIMANA Yesus Kristus membuat keselamatan tersedia bagi seluruh umat manusia.

Kerjakan Keselamatanmu

Ada dua dimensi berbeda akan penebusan Yesus Kristus. Penebusan “obyektif” adalah yang dituntaskan oleh Yesus Kristus sekali untuk seterusnya dalam kehidupan, wafat, kebangkitan, dan naikNya ke surga: penebusan seluruh dunia. Akan tetapi manfaat dari penebusan tersebut harus diaplikasikan secara terus menerus kepada anggota Kristus sepanjang hidup mereka. Ini adalah penebusan “subyektif”. Bila manfaat dari penebusan Kristus tidak diaplikasikan kepada individu, mereka tidak mempunyai bagian di dalam penebusan obyektif-Nya. Penebusan dalam seorang individu adalah proses terus menerus. “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” (cf Flp 2:12-13).

Bagaimana Yesus Kristus mengerjakan penebusanNya di dalam diri seseorang? Melalui tubuh mistikNya. Saat saya masih seorang Protestant, saya (selayaknya umat Protestant pada umumnya) meyakini bahwa frasa “tubuh mistik Kristus” dalam esensinya adalah sebuah metafora. Bagi umat Katolik, frasa itu adalah kebenaran literal. Ini mengapa: Untuk menggenapi misi MesianikNya, Yesus Kristus mengambil bentuk sebuah manusia dari ibuNya. Dia menjalani sebuah kehidupan natural di dalam tubuh tersebut. Dia menebus dunia melalui tubuh tersebut dan bukan melalui sarana lain. Semenjak kenaikanNya dan sampai pada akhir jaman, Yesus hidup di bumi dalam tubuh supranaturalNya, tubuh anggota-anggotaNya, tubuh mistikNya. Menggunakan tubuh fisikNya untuk menebus dunia, Kristus sekarang menggunakan tubuh mistikNya untuk menyalurkan “buah-buah ilahi dari Penebusan” (Mystici Corporis #31).

Gereja: Tubuh-Nya

Apakah tubuh mistik ini? Gereja Yesus Kristus yang sejati, bukan realita tak nampak yang terdiri dari umat beriman sejati, sebagaimana ditekankan para Reformer. Dalam proklamasi publik pertama akan Injil oleh Petrus pada hari Pentakosta, dia tidak mengundang pendengar-pendengarnya untuk menyelaraskan diri mereka secara spiritual dengan umat beriman sejati lainnya. Dia memanggil mereka ke dalam sebuah masyarakat, Gereja, yang Kristus telah dirikan. Hanya dengan menanggapi panggilan tersebut mereka dapat diselamatkan dari “angkatan yang jahat” (Kis 2:40) yang darimana mereka berasal dan kemudian diselamatkan.

Paulus, pada waktu pertobatannya, belum pernah melihat Yesus. Akan tetapi ingat bagaimana Yesus mengidentifikasikan DiriNya dengan GerejaNya saat Dia berkata kepada Paulus di jalan menuju Damaskus: “mengapakah engkau menganiaya AKU?” (Kis 9:4, penekanan huruf besar) dan “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Kis 9:5). Bertahun-tahun kemudian, menulis kepada Timotius, Paulus dengan penuh sesal mengakui bahwa dia telah menganiaya Yesus dengan menganiaya GerejaNya. Dia mengekspresikan perasaan syukur karena Kristus menunjuk dia sebagai rasul, “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (1 Tim 1:13).

Konsili Vatikan Kedua mengatakan bahwa struktur hirarki Gereja Katolik dan tubuh mistik Kristus “merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (Lumen Gentium 8). Gereja adalah “kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Ef 1:23). Sekarang saat Yesus telah menuntaskan penebusan obyektif, “tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah” adalah “supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga” (Ef 3:9-10).

Seturut Yohanes Paulus II, untuk secara tepat memahami pengajaran Gereja akan perannya di dalam rancangan keselamatan Kristus, dua kebenaran haruslah dipegang bersama-sama: “kemungkinan riil akan keselamatan dalam Kristus bagi seluruh manusia” dan “dibutuhkannya Gereja bagi keselamatan” (Redemptoris Missio #18). Yohanes Paulus mengajarkan kepada kita bahwa Gereja adalah “benih, tanda, dan instrumen” dari kerajaan Allah dan disinggung beberapa kali kepada penunjukan Vatikan II akan Gereja Katolik sebagai “Sakramen keselamatan universal”:

* “Gereja adalah Sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia, dan aktivitasnya tidaklah terbatas hanya kepada mereka yang menerima pesannya” (RM 20).

* “Kristus memenangkan Gereja bagi DiriNya, membayar dengan darahNya sendiri dan membuat Gereja menjadi rekan-sekerja dalam keselamatan dunia . . . Dia melaksanakan misiNya melalui dia [Gereja]” (RM 9).

* Dalam sebuah pidato kepada sidang pleno Kongregasi bagi Doktrin Iman (8 Januari 2000), Yohanes Paulus menyatakan, “Tuhan Yesus . . . mendirikan GerejaNya sebagai realita penyelamatan: sebagai tubuhNya, yang melaluinya Dia sendiri menyelesaikan keselamatan dalam sejarah.” Dia kemudian mengutip pengajaran Vatikan II bahwa Gereja adalah perlu untuk keselamatan.

Pada tahun 2000 Kongregasi bagi Doktrin Iman mengeluarkan “Dominus Iesus”, sebuah tanggapan terhadap upaya-upaya yang meluas untuk mengencerkan pengajaran Gereja mengenai Tuhan kita dan mengenai dirinya [Gereja] sendiri. Sub-judul dalam bahasa Inggrisnya sendiri sudah jelas: “On the Unicity and Salvific Universality of Jesus Christ and the Church.” Secara sepele ia berarti bahwa Yesus Kristus dan GerejaNya tidaklah terpisahkan. Dia adalah Juru Selamat universal yang selalu berkarya melalui GerejaNya:

Juru Selamat satu-satunya . . . mendirikan Gereja sebagai misteri keselamatan; Dia sendiri ada di dalam Gereja dan Gereja ada di dalam Dia . . . Maka dari itu, kepenuhan dari misteri keselamatan Kristus adalah kepunyaan Gereja pula, tak terpisahkan dalam kesatuan kepada Tuhannya (DI 18).

Sesungguhnya, Kristus dan Gereja “merupakan sebuah ‘Kristus sepenuhnya'” (DI 16). Dalam Kristus, Allah membuat tahu kehendakNya bahwa “Gereja yang didirikan olehNya menjadi instrumen bagi keselamatan seluruh umat manusia” (DI 22). Gereja Katolik, maka dari itu, “mempunyai, dalam rancangan Allah, sebuah hubungan yang harus ada dengan keselamatan setiap umat manusia” (DI 20).

Elemen-elemen kunci dari perwahyuan yang secara bersama-sama mendasari “extra ecclesiam, nulla salus” adalah ini:

(1) Yesus Kristus adalah Juru Selamat universal.

(2) Dia telah mendirikan GerejaNya sebagai tubuh mistikNya di bumi dan melaluinya dia menyalurkan keselamatan kepada dunia.

(3) Dia selalu bekerja melaluinya – sekalipun dalam kejadian-kejadian tak terhitung banyaknya diluar batasannya yang nampak.

Ingat akan kata-kata Yohanes Paulus mengenai Gereja yang dikutip di atas: “Aktivitasnya tidaklah terbatas hanya kepada mereka yang menerima pesannya”.

Baca Juga:

Bukan Dari Kawanan Ini

“Extra ecclesiam, nulla salus” tidak berarti bahwa hanya umat Katolik Roma yang beriman yang dapat diselamatkan. Gereja tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Jadi bagaimana dengan umat non-Katolik dan non-Kristen?

Yesus berkata kepada para pengikutNya, “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:16). Setelah KebangkitanNya, Yesus memberikan perintah rangkap tiga kepada Petrus: “Berilah makan domba-domba-Ku . . . Gembalakanlah domba-domba-Ku . . . Berilah makan domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15-17). Kata yang diterjemahkan sebagai “gembalakan” (poimaine) berarti “arahkan” atau “pimpinkan” — dalam kata lain, “untuk mengatur.” Jadi sekalipun ada domba-domba yang bukan dari kawanan domba Kristus, melalui Gerejalah mereka dapat menerima keselamatanNya.

Orang yang tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mendengarkan Kristus dan GerejaNya — dan umat Kristiani yang benaknya telah tertutup kepada kebenaran Gereja oleh karena keadaan mereka — tidaklah selalu berarti mereka terpisah dari kerahiman Allah. Vatikan II memfrasakan doktrin tersebut ke dalam istilah berikut:

“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16).

“Oleh karena Kristus mati untuk semua orang, dan karena semua orang sejatinya dipanggil kepada takdir yang satu dan sama, yakni ilahi, kita harus berpegang bahwa Roh Kudus menawarkan kepada semua orang kemungkinan untuk menjadi pengambil bagian, dalam cara yang diketahui oleh Allah, dari misteri Paska.” (Gaudium et Spes 22)

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

“…Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan peranannya demi keselamatan.” (KGK #1260)

Tentunya, bukanlah ketidaktahuan mereka yang memungkinkan mereka untuk diselamatkan. Ketidaktahuan hanya mendalihkan kurangnya pengetahuan. Yang membuka keselamatan Kristus bagi meerka adalah upaya sadar mereka, dibawah rahmat, untuk melayani Allah sebaik mereka dapat pada basis informasi terbaik yang mereka punyai akan Dia.

Gereja berbicara akan “hasrat implisit” atau “kerinduan” yang dapat ada di dalam hati mereka yang mencari Allah akan tetapi tidak tahu akan sarana rahmatNya. Bila seseorang rindu akan keselamatan akan tetapi tidak tahu sarana keselamatan yang didirikan secara ilahi, dia dikatakan mempunyai sebuah hasrat implisit akan keanggotaan di dalam Gereja. Umat Kristen non-Katolik tahu Kristus, akan tetapi mereka tidak tahu GerejaNya. Di dalam hasrat mereka untuk melayaniNya, mereka mempunyai hasrat implisit untuk menjadi anggota GerejaNya. Umat non-Kristiani dapat diselamatkan, kata Yohanes Paulus, bila mereka mencari Allah dengan “hati yang tulus”. Dan di dalam pencarian tersebut mereka “terhubung” kepada Kristus dan tubuhNya yakni Gereja (pidato kepada Kongregasi bagi Doktrin Iman).

 

Pada sisi lain, Gereja telah membuat jelas bahwa bila seseorang menolak Gereja dengan pengetahuan penuh dan kesadaran, dia menaruh jiwanya dalam bahaya:

“Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (cf LG 14).

Gereja Katolik adalah “satu saluran eksklusif yang mana kebenaran dan rahmat Kristus memasuki dunia ruang dan waktu kita” (Karl Adam, The Spirit of Catholicism, 179). Mereka yang tidak tahu akan Gereja, bahkan mereka yang menentangnya, dapat menerima karunia-karunia tersebut bila mereka dengan tulus mencari Allah dan kebenaranNya. Tetapi, kata Adam, “sekalipun bukan Gereja Katolik sendiri yang memberikan kepada mereka roti kebenaran dan rahmat, akan tetapi roti Katolik-lah yang mereka makan.” Dan saat mereka makan roti tersebut, “tanpa mereka tahu atau inginkan” mereka “tergabung di dalam substansi supranatural akan Gereja.”

Extra ecclesiam, nulla salus.

CATATAN KAKI

SUMBER ASAL http://www.catholic.com/…/a…/no-salvation-outside-the-church

Diterjemahkan oleh Maximinus

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang) dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here