Memilih yang Terbaik

0
57
Sumber: Google.com

 

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Luk. 10:38-42).

 

Marta  dan Maria. Nama yang indah. Mereka bersaudara. Tapi keduanya menanggapi kehadiran Yesus secara berbeda. Marta sibuk melayani Yesus. Mungkin menyiapkan minuman atau makanan. Maria lebih memilih duduk dekat kaki Yesus. Ia mendengarkan Sang Guru. Ketika Marta meminta Yesus menyuruh Maria membantunya, Yesus malah menyadarkan Marta bahwa apa yang dilakukan oleh Maria justru yang terbaik. Marta dikritik karena dianggap ‘menyusahkan diri dengan banyak perkara’ dan kurang sadar apa yang menjadi prioritas. Maria dipuji karena memilih yang terbaik. Katakan, Maria tahu prioritas. Bahwa pilihan terbaik saat Yesus hadir di rumah mereka adalah mendengarkan-Nya. Apakah yang dilakukan Marta tidak baik? Tidak juga. Tapi yang terbaik saat Yesus hadir adalah duduk di dekat kaki-Nya: mendengarkan-Nya. Itu saja.

Kadang-kadang kita menyibukkan diri dengan pelbagai perkara dalam hidup ini. Tidak fokus. Tidak tahu prioritas. Misalnya saat mengikuti perayaan Ekaristi, kadang-kadang masih ‘curi waktu’  main HP bahkan ‘update’ status, “Ah, kotbahnya lama sekali; membosankan’. Padahal perayaan Ekaristi itu saat yang sangat penting untuk mengalami kehadiran Yesus dan membiarkan diri dibarui oleh-Nya.  Kadang-kadang juga terlalu menyibukkan diri dengan pelbagai perkara yang tidak berhubungan secara langsung dengan hidup dan perutusan kita. Misalnya, sibuk mengomentari sesama (bupati, gubernur, presiden, DPR, imam, uskup, umat, dll) di media sosial, tapi kurang bertanggung jawab dengan hidup, keluarga atau komunitas sendiri; kurang peduli juga dengan sesama di sekitar rumah atau komunitas. Kurang peka merawat diri sendiri tapi sangat peduli mengomentari hidup orang lain. Tentu peduli itu penting. Tapi peduli berlebihan itu tidak bijak juga.

Hal-hal di atas menunjukkan bahwa kita kadang-kadang kurang menyadari apa yang menjadi prioritas dalam hidup ini. Kita tidak mampu memilih bagian yang terbaik. Karena itu, kritikan Yesus kepada Marta juga diarahkan kepada kita. “Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara….” 

Memilih yang terbaik sesuai panggilan dan perutusan masing-masing adalah tanda kedewasaan; tanda kebijaksanaan yang sedang bersemi. Bertanggung jawab dengan hidup dan perutusan sendiri sambil ‘peduli secukupnya’ (tidak berlebihan) dengan sesama itu pilihan terbaik. “Engkau telah memilih yang terbaik yang tak akan diambil darimu!” Mungkin Yesus berkata seperti itu jika kita tahu prioritas dalam hidup ini; tahu memilih yang terbaik.***

Apa  prioritas dalam hidupku saat ini?

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here