Relasi Kasih itu Menghidupkan

0
34
Sumber: Google.com

“Orang tua adalah Allah yang kelihatan.” Pada waktu masih kecil, saya sering mendengarkan ungkapan ini dari orang tuaku. Ungkapan ini terdengar tatkala saya kurang menghargai nasehat mereka. Mungkin terkesan menakut-nakuti, tetapi sesungguhnya  ungkapan ini berlandaskan refleksi teologis yang mendalam. Bahwasannya, cinta kepada orang tua merupakan salah satu ungkapan cinta kepada Tuhan. Allah itu tak terjangkau indra, walau manusia selalu merasakan kehadiran-Nya. Sementara itu, orang tua selalu kelihatan dan dirasakan kehadirannya. Orang tua adalah rekan Allah (co-creator) dalam menghadirkan manusia baru di bumi ini. Tuhan juga adalah sang pemelihara kehidupan. Begitu juga orang tua. Mereka bertanggung jawab memelihara anak-anaknya. Sungguh, betapa mulianya peran orang tua ini. Inilah salah satu alasan penting mengapa anak-anak harus menghargai orang tuanya.

Dalam Kitab Suci ditemukan ayat-ayat yang menekankan pentingnya penghargaan terhadap orang tua. Antara lain, “Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya” (Sirakh 3:3-6).

Anak adalah titipan Allah. Kehadirannya adalah berkat tiada tara bagi orang tua. Tuhan adalah pemiliknya. Bukan orang tua! Hal ini juga menuntut orang tua untuk sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap anak-anak yang dilahirkan. Melalaikan tanggung jawab ini tak lain adalah melalaikan Tuhan sang pemberi hidup.

Tentang  anak sebagai ‘titipan’ Tuhan ini, penyair tersohor Kahlil Gibran mempunyai refleksi yang  sangat mendalam dan selalu aktual sepanjang zaman. “Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.”

Sumber: Google.com

Di mata Tuhan, orang tua dan anak tak lain adalah citra-Nya (bdk. Kej. 1:26). Dengan demikian, keduanya sangat berharga. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya tidak boleh saling mengabaikan. Relasi yang dibangun tentu berlandaskan Kasih Allah yang tiada batas bagi mereka. Dengan kata lain, hubungan antara orang tua-anak berlandaskan kasih. Tiada  yang lain.

Menghidupkan

Dalam kandungan, anak bergantung secara total kepada sang ibu. Setelah dilahirkan, ia juga masih menggantungkan hidupnya pada orang tua. Relasi yang berlandaskan kasih Allah menyadarkan orang tua akan perannya yakni menghidupkan. Tuhan adalah pemberi hidup. Sebagai rekan kerja Allah, orang tua mempunyai tanggung jawab untuk menghidupkan anak yang hadir di dalam keluarga. Hal ini tidak hanya dengan memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga spiritual. Dengan kata lain, anak tidak hanya diberi makan atau pakaian (misalnya), tetapi juga diberi perhatian yang tulus; menemaninya dalam setiap situasi hidupnya.

Di pihak lain, anak-anak juga perlu menghidupkan orang tuanya. Hal ini tentu dilakukan ketika anak-anak sudah mulai mengerti dengan hidupnya. Antara lain, mengikuti setiap nasehat orang tua, melakukan hal-hal berguna yang tidak hanya membahagiakan dirinya, tetapi juga melegakan hati orang tua. Ketika orang tua sakit atau sudah tua, anak-anak mempunyai tanggung jawab untuk menjaga, memeliharanya. Anak harus ‘menghidupkan’ orang tuanya. Hal ini dilakukan bukan paksaan, tetapi karena kasih yang tulus tanpa pamrih.

Mengampuni

Cukup banyak keluarga zaman ini yang berantakan karena relasi orang tua-anak tidak dijaga dengan baik. Banyak anak yang tidak percaya lagi kepada orang tuanya karena pengalaman pahit tertentu. Di pihak lain, ada juga orang tua yang tidak mau pusing lagi dengan anaknya. Situasi ini membawa lumayan banyak keluarga zaman ini berada di ambang kehancuran.

Bagi orang beriman, saling mengampuni adalah ungkapan iman (bdk. doa Bapa Kami). Dalam hal ini, orang tua  dan anak perlu saling mengampuni. Mengampuni berarti kedua pihak mau menerima satu sama lain; memperbaiki kesalahan, kekhilafan dan duduk bersama menyusun langkah yang lebih baik untuk kebahagiaan hari esok. Mengampuni juga berarti anak-anak tidak mudah lari dari rumah apabila ada persoalan di dalam keluarga. Orang tua pun tidak mudah putus asa apabila anak-anaknya menyebalkan. Apabila sikap saling mengampuni mewarnai relasi orang tua-anak, maka keluarga akan selalu utuh sampai kapan pun.

Pentingnya Perjumpaan Pribadi

Salah satu tantangan besar bagi keluarga zaman ini adalah perjumpaan pribadi antara orang tua-anak yang semakin jarang, terutama di kota-kota besar. Ada orang tua yang sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berjumpa secara pribadi, bercengkerama dengan anak-anaknya. Bahkan hanya bisa berkomunikasi dengan anak-anak melalui telpon, sms, atau telpon video. Di pihak lain, anak-anak lebih akrab dengan pembantu, pengasuh; bahkan lebih akrab dengan barang-barang tekhnologi canggih (HP, Internet,TV, dll.) Padahal perjumpaan langsung (kehadiran) itu sangat perlu dan tak tergantikan dengan telpon atau telpon video atau kirim sms. Situasi ini bisa memicu  relasi orang tua-anak renggang. Relasi kasih tidak tampak secara jelas dihayati-dihidupi. Alhasil, kebahagiaan bersama yang menjadi tujuan hidup berkeluarga kurang dialami.

Sumber: Google.com

Dengan demikian, kalau mendambakan kebahagiaan dalam hidup berkeluarga, hal penting yang harus dilakukan adalah meningkatkan perjumpaan pribadi antara orangtua-anak. Melalui perjumpaan pribadi tersebut, orang tua dan anak-anak dapat membangun relasi kasih personal yang tulus. Dasarnya adalah kasih Allah yang tanpa batas kepada umat manusia. Orang tua mengungkapkan kasihnya secara tulus dengan pelbagai cara kepada anak-anaknya. Demikian juga anak-anak terhadap orangtuanya. Relasi kasih itu menghidupkan!***

Imam Misionaris Serikat Maria Montfortan (SMM) yang berkarya sebagai Pendidik di SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo-Manggarai Barat-Flores Barat-Nusa Tenggara Timur. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Juni 2016 di Novisiat SMM - Ruteng - Flores - NTT. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana - Malang - Jawa Timur.

Kolom Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here