Ajakan untuk Mengembangkan Budaya Kehidupan, Bukan Kematian

0
395

Budaya kehidupan adalah suatu cakupan pembahasan teologi moral Gereja Katolik. Aliran pendukung budaya kehidupan menggambarkan definisi budaya kehidupan sebagai suatu cara hidup yang berdasar pada kebenaran teologis. Kehidupan manusia dalam setiap tahapan terjadi sejak mulai dari konsepsi (pembuahan) hingga kematian secara alamiah merupakan hal yang suci.

Budaya kehidupan bertentangan dengan praktik-praktik yang menghancurkan kehidupan manusia. Beberapa tindakan yang kontra dengan budaya kehidupan antara lain aborsi, eutanasia, sel punca embrionik, kontrasepsi, dan hukuman mati. Hak manusia yang paling dasar yaitu hak hidup. Namun, pada zaman ini penghormatan terhadap hak hidup manusia kurang mendapat perhatian.

Dalam kenyataan, kasus aborsi masih marak terjadi dan hukuman mati masih diberlakukan di Indonesia ini. Manusia sering menghadirkan wajah yang kurang menyejukkan, dan tidak jarang menampilkan diri  “homo homini lupus”, manusia serigala bagi sesamanya. Tampilan manusia yang menampilkan wajah demikian sama sekali  tidak menggambarkan  manusia sebagai Citra Allah.

Citra Allah adalah teman sekerja Allah untuk menghadirkan kehendak Allah.  Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia dan penuh kelegaan. Gereja mengingatkan bahwa manusia  adalah gambar dan rupa Allah. Manusia adalah Citra Allah. Manusia mempunyai tugas untuk menghadirkan Allah di dunia dan menawarkan kehendak Allah, Sang Pencipta, Sang Pemberi dan Pemelihara kehidupan.

Istilah pro life memang sering digunakan berkaitan dengan hidup janin di dalam rahim seorang ibu, yang kelak akan lahir sebagai seorang anak. Namun, sebagai seorang beriman, hidup kita saat ini, yang merupakan anugerah dari Allah, hendaknya dapat kita isi dengan sebaik mungkin, kita jaga dan pelihara bersama, dan kita kembangkan sehingga sungguh  menjadi berkat dalam kehidupan, menjadi berkat bagi sesama, dan kemuliaan Sang Pencipta.

Gereja mengajak, mengajarkan dan menyerukan untuk menghargai kehidupan. Hal ini mengingatkan kepada manusia bahwa kehidupan ini milik Allah. Manusia diberi anugerah kehidupan cuma-cuma, gratis. Karena kehidupan itu  gratis, manusia hendaknya menyayangi, merawat dan memelihara kehidupan itu. Dengan menyayangi kehidupan berarti menghadirkan Allah yang menyejukkan, melegakan dan membahagiakan. Mari kita wujudnyatakan gambar dan rupa Allah itu di dalam hidup ini.

Alamat: Paroki St. Fransiskus Assisi, Jl. Medan, KM. 5,6 Kotak Pos 176, Pematangsiantar Sumatera Utara, 21138.