Apakah Orang Katolik Menyembah Patung? Berikut Penjelasannya!

1
3804

Kita umat Katolik seringkali dituduh sebagai penyembah patung. Tuduhan itu bukan tanpa dasar. Dasar dari tuduhan semacam itu adalah Kitab Keluaran 20:3-5.

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” [ay. 3]. “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” [ay. 4]. “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” [ay. 5].

Mereka yang menuduh selalu bilang begini, “Ayat itu kan sudah sangat jelas pesannya. Kita tidak boleh membuat patung, tetapi apa yang kita lihat di Gereja Katolik di seluruh dunia? Patung! Ya, mereka membuat dan menyembah patung. Padahal, dalam Keluaran 20:3-5 dan Ulangan 5:7-8, Allah jelas-jelas melarang pembuatan patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”

Menurut mereka, ayat yang ke-4 dan ke-5 dari Kitab Keluaran 20, tidak dapat dipisahkan, sehingga artinya adalah kita tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh menyembah sujud kepadanya.

Sepintas, argumen yang mereka sampaikan di atas tampak masuk akal. Bahkan boleh jadi, segelintir orang Katolik mendapat pengaruh dari argumen itu. Tetapi, apakah argumen yang mereka sampaikan itu sudah tepat? Mari kita lihat kutipan ayat itu dari beberapa terjemahan, untuk mengurangi kemungkinan adanya distorsi [penyimpangan] dari bahasa terjemahannya.

[ay. 3] You shall not have other gods besides me [NAB, CCB]; no other gods before me [RSV, NIV, KJV]; [ay. 4] You shall not carve idols [NAB]; a graven image [RSV]; any graven image [NIV, KJV]; a carved image [CCB] for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth; [ay. 5] You shall not bow down [NAB, RSV, NIV, KJV, CCB] before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Catatan: NAB= New American Bible; RSV= Revised Standard Version; NIV= New International Version; CCB= Christian Community Bible.

Dari referensi di atas, maka terlihat bahwa istilah yang digunakan adalah: carved idol, yang berarti ‘patung berhala’ dan carved atau graven image yang berarti ‘ukiran dari suatu gambaran’. Jadi, yang dimaksudkan oleh ayat itu adalah bahwa kita tidak boleh membuat image atau patung atau gambaran untuk disembah sebagai allah lain [dalam kaitannya dengan ayat yang ke 3] sebab penyembahan ‘patung berhala’ adalah dosa.

Maka dari itu, Gereja Katolik melihat bahwa ayat ke-4 dari Kitab Keluaran 20 “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” merupakan kelanjutan dari ayat ke-3, yaitu, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Jadi, Allah melarang kita agar kita jangan membuat gambar atau patung untuk disembah sebagai allah lain di hadapan-Nya.

Dengan demikian, anggapan yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik menyembah ‘patung’ hanya karena mereka memiliki patung Yesus, patung Maria, dan patung santo-santa sangatlah tidak tepat sebab orang Katolik tidak menghormati apalagi menyembah patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalam patung itu. Sama halnya seperti ini: “Apakah kita menghormati kain ketika kita mengarahkan hormat kita ke bendera merah putih pada saat upacara bendera? Tentu tidak kan? Kita tidak menghormati kain bendera, tetapi kita menghormati jasa para pahlawan yang berhasil memperebutkan kemerdekaan; dan jasa mereka itu dilambangkan dengan bendera merah putih”.

Begitu juga ketika orang tua berdoa di depan foto anaknya yang meninggal. Apakah orang tua itu berdoa untuk atau kepada foto itu? Tentu saja TIDAK. Orang tua itu mendoakan anak mereka yang berada di balik foto itu. Foto itu digunakan hanya sebagai sarana untuk membantu imajinasi mereka.

Bagaimanapun, doa membutuhkan konsentrasi. Untuk itu, imajinasi mesti diarahkan dengan baik. Nah, salah satu caranya adalah dengan menggunakan sarana-sarana seperti patung atau foto. Jadi, jelaslah, kita tidak menyembah patung atau foto. ***

Diolah dan dikembangkan dari Katolisitas.org dan Catholic.com

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.