Cinta Tidak Mungkin Mendua

0
196
geralt / Pixabay

Aku pernah mencintai angin lalu, yang justru menghempaskanku ke tanah. Aku pernah mencintai bunga mawar yang tampaknya indah, ternyata durinya menusuk sangat dalam sehingga tidak akan lupa sampai akhir waktu. Aku berkata kepada malam, suatu saat engkau akan menghadirkan matahari yang menerbitkan kisah indah. Aku menantikan saat itu, saat keluhku menjadi sirna.

Aku pernah mencintai ketidakpastian, yang meninggalkan luka yang sangat dalam. Aku pernah berharap dengan tulus, namun dibalas dengan cinta semu. Aku berkata pada diriku, suatu saat kegelapan itu akan berakhir

Cinta tak harus memiliki karena hakekatnya lebih baik mencintai dari pada dicintai. Cinta tak harus bersama, meskipun raga dan seluruh jiwa pernah berpadu

Jika pilihannya yang terbaik, tentulah aku mendukung. Bisa jadi pilihannya lebih mengerti, lebih menyayangi kekurangannya

Tidak mungkin cinta sejati mendua,karena itu menyakitkan. Biarlah kisah ini akan menjadi kenangan, yang menorehkan tulisan dalam sebuah novel.

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289