Hadapi Covid-19, Mari Bersimpuh di bawah Kaki Tuhan

0
182
Di tengah pandemi COVID-19 yang melanda berbagai belahan dunia, sejumlah negara berhasil bangkit dari keterpurukan dan mulai beraktivitas seperti semula.

Situasi di luar sana mungkin saja mencekam dan sulit, sebagai akibat dari mewabahnya Covid-19. Tapi, please, jangan sampai rasa syukur kita kepada Tuhan ikut sirna. Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas munculnya penyakit menular ini. Juga, tidak perlulah kita menyalahkan siapapun.

Justru sebaliknya, kita harus tetap dan senantiasa menunaikan rasa syukur kita kepada Tuhan; dan memang selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur kepada-Nya ‘Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela’ (lih. Mzm. 84:12).

Tidak ada orang sebaik Tuhan kita. Bukankah sebelum wabah ini melanda negeri kita, Ia sudah memberikan kasih dan kemuliaan kepada kita? Boleh jadi kita tidak menyadarinya karena kita terlampau bangga dengan hasil kerja kita; seolah semua yang kita peroleh selama ini merupakan hasil usaha kita semata, membuat kita lupa bahwa itu semua tak akan pernah ada jika Tuhan tidak menghendakinya.

Jika benar itu yang terjadi, maka anggaplah kemunculan wabah ini sebagai teguran dari Tuhan; yang memacu kita semua untuk tidak ragu lagi berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN” (bdk. Kej. 29:35). Jangan menunda-nunda lagi.

Memang, tak bisa dipungkiri lagi bahwa wabah ini ada di sekitar kita dan siap menulari kita setiap saat. Tentu saja tak ada yang bisa melihat pergerakannya, sebab ini virus, bukan tikus. Jika saja ia sebesar tikus, pastilah kita akan mudah menghindarinya.

Namun, jangan sampai kita menjadi takut tak karu-karuan. Rasa takut yang berlebihan hanya akan membuat energi kita terkuras habis; dan antibodi kita menurun, yang justru membuat kita dengan gampang terpapar virus.

Kita punya Tuhan, andalkan Dia. Kita harus pasrahkan semuanya pada Tuhan; sebab Ia sendiri bersabda:

Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu” (lih. Mzm. 91:5-7).

Barangkali selama ini kita sudah terlampau jauh menyimpang ke jalan lain. Karenanya, jadikanlah masa sulit ini sebagai kesempatan untuk berbalik lagi ke jalan-Nya. Maka dari itu, kepada-Nya kita harus berkata: “TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!” (Mzm. 41:5).

Saat ini hidup kita tidak seperti biasanya. Itu nyata terjadi. Ke mana-mana kita dihantui rasa was-was, cemas, dan takut. Di banyak tempat juga sudah diterapkan pembatasan ini dan itu. Ada yang namanya isolasi mandiri, karantina wilayah, hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Gara-gara Corona kita seperti terpenjara di rumah sendiri.

Tapi, jangan kuatir. Takutlah akan Tuhan dan tetaplah setia di jalan-Nya; sebab Ia sendiri memberi jaminan: “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang” (bdk. Mal. 4:2).

Yakinlah, pada saatnya nanti, wabah ini pasti mereda dan kita semua akan bebas beraktivitas seperti sediakala. Kita akan keluar rumah dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang. Tapi, tunggu dulu. Itu nanti. Sekarang, kita harus berdiam di rumah saja dulu.

Saat-saat seperti ini, berada di rumah saja adalah pilihan yang terbaik. Pemerintah pun sudah menghimbau: berdiam di rumah dan tetap tenang. Dan, supaya lengkap, perlu ditambahkan juga: berdiam di rumah, tetap tenang, bertobat, dan percaya.

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (bdk. Yes. 30:15).

Seperti kita ketahui, penyakit ini belum ditemukan obatnya. Entah kapan ditemukannya, sampai sejauh ini tak ada yang tahu. Untuk itu, kita perlu menghindarinya supaya tidak terpapar. Berbagai saran pun diberikan: jaga jarak aman, cuci tangan pakai sabun, dan tetap berada di rumah aja. Yang tidak kalah pentingnya lagi, yaitu meningkatkan antibodi.

Antibodi akan meningkat jika kita memakan makanan yang sehat dan diimbangi dengan hati yang gembira. Ya, dari kesaksian banyak pasien positif Covid-19 yang berhasil sembuh, ada yang bilang bahwa mereka dapat sembuh  karena dalam menghadapi penyakit ini, mereka tetap tenang dan gembira.

Maka, benarlah kata penulis Amsal: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Ams. 17:22). Jangan pernah patah semangat. Teruslah berjuang dan berjuanglah terus.

Inilah saatnya kita bersimpuh di bawah kaki Tuhan. Kita berdoa kepada-Nya untuk meminta pertolongan dari-Nya; sembari kita membangun niat tobat dan memohon ampun kepada-Nya; sebab Ia sendiri berkata:

“Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka (2 Taw. 7:13-14).

Bagi yang sudah terlanjur terpapar, kita berdoa: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia” (bdk. Bil. 12:13). Mendoakan kesembuhan orang lain jauh lebih diperlukan daripada mengucilkan dan menolak mereka.

Teruslah menebarkan kebaikan dengan menyampaikan ‘Salam Sehat’ kepada siapapun juga; dan jika bisa tirulah perkataan rasul Yohanes di bawah ini:

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja” (lih. 3 Yoh. 1:2).

Dan, bagi diri sendiri, jangan lupa kita juga berdoa: “Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Engkau; tenangkanlah rohku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh!” (lih. Yes. 38:16).

Kiranya dengan doa dan tobat kita, Tuhan memulihkan negeri kita; dan Ia membuat kita sehat dan sembuh. Amin. —JK-IND—

Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.