Kita Semua Pernah Salah, tapi Tuhan Mencintai Mereka yang Bertobat

0
224

Kita Semua Pernah Salah, tapi Tuhan Mencintai Mereka yang Bertobat: Renungan Hari Minggu, 27 September 2020 — JalaPress.com; Bacaan I: Yeh. 18:25-28; Bacaan II: Flp. 2:1-11; InjilMat. 21:28-32

Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus membuat ilustrasi mengenai dua tipe manusia. Tipe pertama adalah orang-orang yang tutur katanya bagus, selalu bicara yang baik-baik, alim, tidak pernah bilang tidak. Tapi sayangnya antara perkataannya dengan perbuatannya tidak sejalan. Di depan bilang iya tapi di belakang membangkang. Tipe pertama ini menggambarkan orang yang khilaf dan berdosa.

Tipe kedua adalah orang-orang yang apa adanya, ceplas-ceplos, tampak seperti orang yang keras kepala, tapi di belakang diam-diam menyesal dan memperbaiki keadaannya. Di depan bilang tidak tapi di belakang sadar dan bertobat. Tipe kedua ini menggambarkan orang yang insaf dan bertobat.

Kita termasuk tipe yang mana? Minimal kita mengambil tipe kedua: terlihat seperti pendosa, tapi di belakang merenung dan berubah ke arah yang lebih baik. Lebih baik kita terlihat seperti pendosa tapi bertobat, daripada tampil seperti orang suci bak panitia surga tapi diam-diam melakukan perbuatan yang mengarah pada dosa.

Kita memang bukan orang suci, kudus, dan sempurna. Kita hanyalah orang-orang yang berusaha untuk menjadi orang baik. Bacaan pertama hari ini menunjukkan bahwa Tuhan lebih senang melihat orang berdosa yang bertobat, daripada orang yang merasa diri suci, tapi tergelincir ke dalam dosa.

Maka, ‘kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya’ (Yeh. 18:26-27).

Kita perlu belajar banyak dari para santo dan santa. Mereka bukanlah orang-orang yang tak pernah salah. Kita bisa menyebut sederet nama: Matius, si pemungut cukai, yang kemudian menjadi salah satu murid Yesus; Maria Magdalena, wanita yang dicap sebagai pelacur, yang kemudian mengikuti Yesus; Paulus, si pembunuh umat Kristiani, yang kemudian menjadi pembela iman Kristiani; dan masih banyak lagi. Mereka semua mulanya jauh dari kudus.

Tapi, apa yang terjadi sehingga mereka kemudian disebut sebagai orang-orang kudus? Jawabannya: mereka insaf dan bertobat dari segala dosa yang mereka perbuat. Maka, yang namanya menyesal, insaf, dan bertobat adalah sikap-sikap yang Tuhan inginkan dari kita. Orang yang demikian akan diberi pengampunan oleh Tuhan.

Tuhan selalu memberi kesempatan kedua kepada tiap-tiap orang untuk bertobat. Ia menghargai usaha kita untuk memperbaiki diri terus-menerus. Kiranya kita menggunakan dengan baik kesempatan kedua yang Tuhan berikan itu. —JK-IND–

avatar
Terlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" (Luk. 5:5). Penulis dapat dihubungi via email: jufri_kano@jalapress.com.