Klarifikasi Paus Jatuh dan Minta Doa Berantai

0
832

Beredar lagi di medsos sebuah berita berantai, katanya Paus Fransiskus minta doa 10 juta Salam Maria karena sedang menderita sakit. Dikirim sekalian dengan foto Paus jatuh.

Btw, saya baru kembali dari Airport Roma, menjemput murid baru saya dari Jakarta. Setelah membawanya ke penginapan, saya kembali masuk ke Vatikan untuk parkir lalu ke Kantor. Audiensi umum dengan Paus tadi (setiap hari Rabu pagi kalau Paus ada di Vatikan) berjalan dengan baik, tidak ada masalah. Umat dan turis membludak. Dikabarkan, Menteri Agama Indonesia dan rombongan juga hadir.

Sekitar pkl. 12.00 siang saya lewat di depan Rumah Paus. Beliau belum masuk karena masih di Lapangan Santo Petrus. Pas di tikungan menuju parkiran, samping Basilika Santo Petrus (wilayah dalam Vatikan), saya disetop serdadu Vatikan dan harus menanti di dalam mobil karena Paus mau lewat. Selang 2 menit, beliau lewat di atas Papamobil di depan saya, berlari pelan dan dikawal masuk ke rumah beliau. Seperti biasa beliau melambai ramah. Sehat segar bugar.

Lalu mengapa ada foto Paus jatuh dan permintaan doa? Saya tidak tahu mulanya dari siapa. Jelas ada orang yang suka mengarang berita lalu semua orang langsung manggut percaya tanpa klarifikasi. Jadi:

  1. Benar, Paus pernah tergelicir dan jatuh saat sedang mengukupi Altar pada awal perayaan Misa dalam rangka Hari Kaum Muda sedunia di Polandia tahun 2016. Tiga tahun lalu (saat ini 2019!). Beliau tergelincir karena salah injak. Langsung bangun kembali dan perayaan Misa berlangsung tanpa hambatan sampai selesai. Tidak ada masalah apa-apa. Foto-foto dan video jatuhnya Paus ada di internet sejak 3 tahun. Tetapi herannya, tiba-tiba muncul marak sekarang. Apa maksudnya?
  2. Benar bahwa Paus Fransiskus hanya punya satu paru-paru saja. Ini bukan hal baru. Bukan rahasia. Pada waktu berumur 21 tahun (artinya pada tahun 1957 karena beliau lahir tahun 1936), beliau mengalami gangguan paru-paru di Buenos Aires, Argentina, sehingga satu bagian dari paru-parunya harus diangkat. Sejak berumur 21 tahun sampai 83 tahun saat ini (dari 1957 sampai 2019), artinya sudah 62 tahun beliau hidup hanya dengan satu paru-paru, tetapi tidak pernah menjadi masalah. Kesehantannya selalu baik sehingga bisa sampai menjadi Paus. Kalau bermasalah, tentu saja tidak akan bisa mendapat begitu banyak pangkat dan tugas. Dengan umur di atas 80 saja beliau masih bekerja optimal dengan hanya satu paru-paru, tidak ada bedanya dengan orang berparu-paru lengkap.
  3. Apakah berdoa Salam Maria untuk memohon penyembuhan harus pakai ukuran angka tertentu? Di dalam surat itu ditulis, diminta 10 juta Salam Maria supaya Paus sembuh. Wow.. Tuhan agama mana itu yang butuh doa dengan angka-angka dan syarat-syarat seperti itu? Pendasaran biblis atau telologisnya di mana? Tidak pernah dengar dan tahu, karena memang tidak ada. Umat Katolik diminta tidak percaya akan berbagai surat berantai berbau mitis magis di mana ada ketentuan jumlah doa supaya Tuhan mengabulkan, dll.
  4. Setiap kali berada di publik, Paus Fransiskus selalu meminta doa. Pertama kali beliau meminta doa dari umat ketika menampakan diri pertama kali pada tanggal 13 Maret 2013 di balkon Basilika Santo Petrus, sesaat setelah dipilih menjadi Paus. Awal-awalnya terasa aneh karena Paus meminta doa dari umatnya. Paus-paus sebelumnya hampir tidak pernah mengatakan hal itu secara publik. Tetapi setelah beberapa saat, dunia sudah merasa biasa dan paham dengan permintaan Paus Fransiskus itu. Yang jelas, permintaan Paus itu bukan terutama untuk kesembuhan beliau, tetapi karena doa untuk orang beriman adalah sebuah kebutuhan penting di dalam hidup. Juga Paus butuh doa, seperti kita juga butuh doa dari beliau dan dari orang lain.

Mudah-mudahan teman-teman yang sejak pagi buta mengirim pesan itu sambil meminta klarifikasi, bisa mendapat jawaban sekarang. Salam.

2 Oktober 2019

Padre Marco SVD.

Sumber: Page FB Keuskupan Agung Jakarta (https://www.facebook.com/Keuskupan.Agung.Jakarta/posts/2490378424378522?__tn__=K-R)

avatar
Lahir di desa Dahana Hiligodu, Kecamatan Namöhalu, Nias Utara, pada tanggal 31 Desember. Anak kedua dari lima bersaudara. Pada tahun 2016, menyelesaikan kuliah Jurusan Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Katolik Atma Jaya-Jakarta. Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang), kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289